Ketik disini

Ekonomi Bisnis

Usaha Warung Belum Terdampak Harga Cabai

Bagikan

MATARAM – Usaha warung makan ternyata belum terlalu terdampak dengan melonjaknya harga cabai rawit beberapa pekan belakangan ini. Sejumlah warung makan tetap menjual makanan yang membutuhkan banyak cabai, seperti plecing dan pecel.

Murni, pedagang kuliner di warung Pecel Seruni mengaku, tidak menaikan harga makanan yang dijual di warungnya. a�?Keuntungannya memang berkurang karena untuk menutupi harga cabai, tapi masih bisa diatasi,a�? ujarnya kepada Lombok Post kemarin (15/1).

Dia mengatakan ini bukan pertama kali merasakan kenaikan harga cabai. Apalagi tidak hanya cabai, sebelumnya dia pernah merasakan kenaikan sejumlah bahan pendukung pecelnya, seperti kacang, tahu, dan cabai secara bersamaan.

“Tapi kami tidak pernah menaikkan harga pecel dan plecing,” ungkapnya.

Warung Pecel Seruni merupakan salah satu warung pecel yang cukup dikenal di Kota Mataram. Tidak heran jika warung yang terletak di depan Perpustakaan Daerah NTB itu punya pelanggan tetap. Bahkan, tidak sedikit pula wisatawan yang singgah ke warung tersebut.

Meski sederhana, tapi Murni berupaya semaksimal mungkin meningkatkan pelayanan kepada konsumen. Murah senyum, ramah, dan pelayanan yang cepat selalu diterapkannya. Sebagai pengusaha yang lama berkecimpung di bidangnya, dia tidak pernah risau dengan berita kenaikan harga cabai.

“Paling naiknya juga nggak lama. Ini rezekinya para petani cabai lah,” ujarnya santai.

Tidak sekadar menjual pecel dan pelcing, warung ini juga menyediakan nasi campur, rawon, soto, dan sejumlah jajanan. Bagi Murni, pembeli adalahA� raja yang harus dilayani dengan baik. Dia juga tidak pernah mengeluh meskipun kondisi perekonomian cenderung sulit menyusul kenaikan harga dibeberapa sektor.

Modal yang dikeluarkan lebih kurang Rp 2,5 juta setiap hari. Itu untuk membeli berbagai keperluan baik kangkung, kacang, cabai, tomat, dan sayur mayur lainnya. Untuk kangkung saja, dia menghabiskan sekitar 300 ikat. Begitu juga dengan kacang super yang mencapai harga Rp 29 ribu per kilogramnya.

Untuk meningkatkan omzetnya, Murni memanfaatkan media sosial Facebook. Sekaligus mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut. Dia optimistis bisnis pelcing dan pecelnya semakin laris. Apalagi lokasinya sangat strategis dan mudah dijangkau konsumen.

“Pernah ada tamu dari Bali, Surabaya, Jakarta, dan beberapa daerah datang ke warung saya,” ungkapnya.A� (tan/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka