Ketik disini

Headline Metropolis

Kepala Daerah Jangan Jalan Sendiri!

Bagikan

MATARAMA�– Para kepala daerah di NTB tidak boleh jalan sendiri-sendiri. Sinergitas dan keterpaduan program pembangunan menjadi keharusan. Sebab daerah satu dengan yang lain di NTB saling mempengaruhi. Kurangnya sinergi akan membuat target pembangunan sulit dicapai.

Hal ini terungkap dalam rapat koordinasi pimpinan daerah di aula Pendapa Gubernur NTB, kemarin (16/1). Hadir dalam pertemuan itu, beberapa bupati/wali kota atau wakilnya. Ada juga kepala instansi vertikal di NTB. Bahkan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara juga hadir dalam pertemuan itu.

Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi mengatakan, tahun 2017 pemerintah daerah, antar kabupaten/kota dan provinsi perlu terus meningkatkan kerja sama. Karena satu sama lain wilayah di NTB saling terkait, apa yang terjadi di satu daerah akan berimbas ke daerah lain. Misalnya, dalam hal keamanan, jika ada gangguan keamanan di satu daerah pasti berdampak ke daerah lain. Ketika terjadi gagalan produksi pertanian, juga pasti akan berimbas pada stok sembako untuk wilayah NTB.

a�?Oleh karena itu, keterpaduan kebijakan dan kelancaran komunikasi menjadi hal yang penting,a�? katanya.

Pertumbuhan ekonomi yang secara makro cukup baik, tetapi perlu diantisipasi dampak ketimpangan ekonomi. Hal ini juga menjadi isu nasional yang butuh penanganan bersama. a�?Jangan sampai pertumbuhan itu semakin memperkaya yang sudah kaya, tetapi tidak mengubah keadaan masyarakat tidak mampu,a�? katanya.

Karena itu, Pemprov NTB meminta agar semua regulasi yang memberatkan masyarakat kecil, baik secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan ketimpangan harus segera dihapuskan. Contohnya, regulasi terkait UMKM, pungutan pedagang-pedagang kecil harus dihapus. Selain itu, izin-izin terhadap retail modern jangan sampai diberikan lagi karena sudah terlalu banyak. a�?Banyak pedagang warung yang rugi atau berkurang omzetnya,a�? ujar TGB.

Ia menyarankan agar pemerintah daerah membuat zonasi retail modern sehingga tidak mematikan usaha kecil. Baginya, tidak ada artinya retail modern jika hanya untuk gagah-gagahan tapi masyarakat yang mau bangun usaha tidak bisa berkembang.

a�?Jadi ketimpangan ini harus ditangani dari aspek kebijakan dan juga penganggaran,a�? katanya.

Masalah lain yang juga butuh kerja sama antar daerah adalah terkait daya dukung lingkungan. Isu ini harus diperhatikan lebih serius. Sebab banjir bandang Bima menjadi pelajaran penting. Di mana salah satu penyebab banjir adalah kegundulan hutan di Kabupaten Bima. Karenanya reforestasi harus segera dilakukan di semua daerah.

Pemberian izin di kawasan hutan juga harus diperketat. Misalnya, jika ada izin pembangunan hotel di kawasan hutan, kabupaten/kota harus benar-benar mempertimbangkan keseimbangan lingkungan. Wajib dipertimbangkan berapa persentase kawasan hijau, berapa meter jarak dari sempadan pantai atau sungai. Selain itu, pemda jangan sampai memberikan izin terhadap usaha-usaha yang menjadi kamuflase dari kegiatan perambahan hutan ilegal. Misalnya, izin pembuatan sawmil atau tempat pengolahan kayu di dekat hutan. Hal ini patut dicurigai sebagai kedok untuk mempermudah usaha pembalakan liar. Artinya, pemerintah daerah harus mau lelah bekerja, agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. a�?Kayunya hasil illegal logging, masuk sawmil legal, kemudian kayunya keluar seakan-akan sah, itukan bahaya,a�? katanya.

Sementara itu, Danrem 162/WB Kolonel Infrantri Farid Ma’ruf menegaskan, TNI tidak akan memberikan ampun bagi para pelaku pembalakan liar. Pihaknya akan menindak tegas sesuai kewenangan yang dimiliki. Ia berjanji tidak akan tebang pilih, siapapun yang menjadi pelaku pembalakan liar, baik anggota TNI, polisi, maupun pejabat. Semuanya akan ditindak tegas. a�?Siapapun dia kami akan tindak,a�? katanya.

Langkah tegas ini diperlukan karena kondisinya saat ini sudah sangat parah. Dampaknya pun sudah mulai dirasakan masyarakat, seperti bencana banjir yang terjadi di mana-mana. Untuk itu, ia meminta kepada semua pelaku mulai saat ini berhenti merusak hutan. (ili/r7)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka