Ketik disini

Metropolis

Ada Ledakan, tapi Tak Mengagetkan

Bagikan

Ni Made Pene terkenal sangat baik. Tetapi kepergiannya ke alam baka, benar-benar kesedihan mendalam bagi keluarga. Ngaben, jadi upacara penghormatan terakhir untuknya. Seperti apa persepektif ngaben bagi keluarga? Berikut laporannya.

***

RAUNGAN sirine mobil polisi memecah keheningan. Merayap lambat memecah kepadatan lalu lintas kota metropolitan. Tak jauh dari iring-iringan ratusan orang itu, gamelan mengalun lembut tapi menguatkan. Seperti, berupaya menegarkan jiwa-jiwa pilu. Segala yang hidup kelak, pasti akan mati!

I Nengah Sumartha ada diantara ratusan kerumunan orang-orang itu. Sesekali diam, memandangi Cempane yang terus dibawa berputar di simpang empat Kantor Gubernur NTB.

Di dalam itu, terbujur kaku mendiang Bibinya. Ni Made Pene. Saat akhirnya di usia 83 tahun. a�?Beliau orang yang sangat baik, supel dan terbuka. Karena itu dicintai semua keluarga,a�? tutur Nengah.

Nengah sendiri punya segudang kenangan kebaikan tentang sang bibi. Karena itulah ia sangat menghormatinya. Jauh-jauh datang dari Lombok Tengah ke Kota Mataram, pria yang mengurusi sejumlah bengkel itu, ingin memberikan penghormatan terakhir.

Tapi di sisi lain, ia tetap tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. “Bahkan ada yang dari Bali, datang ikut ngaben di sini,a�? ungkapnya.

Nengah lalu bercerita panjang lebar. Pria yang terus memeluk erat Cempane itu adalah cucu mendiang bibinya. Pelukan erat itu, punya makna filosofis. Selain hubungan erat antara cucu dengan yang meninggal, pelukan itu bisa juga berarti menuntun.

“Memang biasanya yang diminta naik ke Cempane lalu memeluk erat itu adalah orang yang secara emosional sangat dekat dengan yang meninggal,a�? tuturnya.

Pelukan itu bisa juga berarti kerinduan dan kasih sayang yang akan tetap ada. Meski sudah terpisah raga. Juga sebagai penegasan, ajaran baik orang yang meninggal itu, siap untuk dipegang erat-erat.

Sementara, puluhan bahkan sampai ratusan lain yang ikut menarik seutas kain putih panjang. Itu pun bermakna sama yakni ikut menuntun jenazah dalam perjalanan sucinya menuju kehidupannya yang lebih kekal.

Api membesar. Mayat Ni Made Pene telah dibungkus jilatan-jilatan api. Di tengah asyiknya mendengar cerita Pak Nengah, sebuah ledakan tak terlalu kencang terdengar. Tak hanya sekali dua kali. Tetapi berkali-kali

Dharr! Dharr! Dharrr!

Ledakan itu terdengar lebih dari tiga kali. Tapi, mereka tampak tenang-tenang saja. Apa itu? a�?Oh itu, dari tulang kepala yang terbakar,a�? jawab Nengah.

Ia sesaat terdiam. Menarik nafas panjang. Koran ini bertanya lebih dalam tentang tujuan pembakaran. Kenapa harus dibakar? Lalu dengan bahasa yang disederhanakan, Nengah mengulas sedikit tentang Ngaben.

Pada dasarnya, lanjut dia, Ngaben hanyalah upaya mempercepat peleburan jasad. Tetapi Ngaben atau dikubur, tentu harus melalui persetujuan keluarga.

Salah satu alasan kenapa keluarga besar harus dilibatkan mengambil keputusan ini yakni terkait biaya. Ritual ngaben membutuhkan biaya yang relatif lebih besar dibanding dengan di kubur biasa.

“Sebenarnya untuk biaya pembuatan Cempane dan sarana upacara hingga membuang abu, sekitar Rp 2 juta cukup. Hanya saja, keluarga kadang ingin memberikan upacara yang lebih baik, sebagai bentuk kasih sayang pada yang meninggal,a�? ulasnya.

Di sinilah titik filosofisnya. Nengah mengatakan, setiap manusia saat menghadap Sang Pencipta yang dibawa tentu hanya karma selama ia hidup. Baik tidaknya tempat ia berada di alam baka, tentu sangat bergantung dengan amal perbuatannya di dunia.

Namun sebagai keluarga yang ditinggalkan, ada ungkapan kasih sayang besar yang ingin ditunjukkan. Terutama selama ritual ngaben. Mereka percaya, semakin baik mayat diperlakukan, semakin bagus Cempane, hingga semakin banyak orang yang mendoakan, harapannya perjalanan suci roh orang yang meningga, semakin sempurna.

a�?Kita hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarga yang telah meninggal. Itulah makna dari Ngaben itu sendiri,a�? tuturnya.

Di kubur atau dibakar, dua-duanya tetap akan mengantarkan roh yang meninggal ke alam baka. Namun menurut mereka ikut membantu peleburan melalui proses ngaben mempercepat a�?perjalanana�? orang yang meninggal. Terutama menghadap sang pencipta.

Berbeda halnya dengan yang dikubur biasa. Butuh proses panjang, jasad diurai secara biologis di dalam tanah, sampai akhirnya kembali jasadnya kembali pada Sang encipta. a�?Ada yang sampai mengeluarkan ratusan juta untuk biaya Ngaben,a�? sambungnya.

Tetapi sekali lagi ia tegaskan, ini hanya bentuk penghormatan dari keluarga yang masih hidup. Tidak ada sangkut paut dengan posisi orang yang meninggal di hadapan sang pencipta. Pada akhirnya, semua harus mempertanggung jawabkan amal perbuatannya selama hidup di dunia.

a�?Tetapi para cendikiawan Hindu sekarang mulai mencari solusi, agar yang tidak mampu juga bisa ikut Ngaben,a�? ulasnya.

Caranya dengan mengadakan semacam ritual Ngaben massal. Uniknya memang, lanjut Nengah, mereka yang telah meninggal memang tidak langsung diaben. Biasanya, keluarga besar berunding terlebih dahulu. Lalu meminta arahan a�?hari baika�� pada Pedande kapan hari tepat untuk arwah jasad melakukan perjalanan suci.

a�?Nah keputusannya bisa hari itu, tiga hari atau satu minggu lagi. Tergantung arahan Pedande,a�? terangnya.

Seperti Ni Made Pene. Dari penuturan Nengah, bibinya itu telah meninggal satu minggu lalu. Karena itu, untuk menghindari mayat jadi busuk, maka setelah dibersihkan, jasad biasanya diberi bahan pengawet. Sehingga bisa bertahan lebih lama. “Bisa dengan es batu atau formalin,a�? ungkapnya.

Fleksibelitas waktu penguburan tapi bertumpu pada hari baik inilah yang menjadi pijakan para Cendikiawan Hindu. Terutama, bagaimana agar proses Ngaben bisa dilakukan secara bersama-sama. Jika dalam waktu bersamaan atau sejarak dua tiga hari kemudian, ada juga yang meninggal dunia. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka