Ketik disini

Ekonomi Bisnis

Hujan, Produksi Kerupuk Kulit Dikurangi

Bagikan

MATARAM – Usaha kerupuk kulit sangat tergantung dengan cuaca. Apalagi jika diproduksi secara tradisional di mana sangat membutuhkan cahaya matahari untuk proses pengeringan.

a�?Dibutuhkan waktu seharian untuk menghasilkan kerupuk kulit berkualitas,a�? kata pemilik UD Bunga Mawar H. Mawardi kepada Lombok Post kemarin (17/1).

Usaha kerupuk kulit di Seganteng Kota Mataram ini beroperasi sejak tahun 1980. Mawardi mengawali bisnis kerupuk kulit itu bermodalkan selembar kulit sapi. Kini, bisnis kerupuk kulit itu sudah berkembang pesat dengan jumlah pelanggan yang tidak sedikit. Bahkan, kerupuk kulit buatan UD Bunga Mawar ini pernah sampai luar negeri. Malaysia hingga Arab Saudi. Dia juga sudah punya pelanggan tetap dari Jakarta yang memesan kerupuk kulit secara rutin.

Menurut Mawardi di musim penghujan seperti ini, dirinya terpaksa mengurangi produksi. Pasalnya pengeringan kerupuk kulit menjadi tidak maksimal.

a�?Produksi kita kurangi agar tidak merugi,a�? ujarnya

Menurutnya pada waktu-waktu tertentu, bisnis kerupuk kulit ini kebanjiran pesanan. Terutama saat perayaan hari besar Islam baik Maulid Nabi Muhammad SAW maupun saat lebaran Idul Fitri.

Adapun untuk hari biasa, produksi kerupuk kulit agak berkurang. Kisaran 20 plastik ukuran 100 kilogram per hari. Ada empat jenis kerupuk kulit yang dijual di UD Bunga Mawar yakni kerupuk kulit setengah matang, kerupuk kulit besar dan tebal, kerupuk kulit besar dan tipis, serta kerupuk kulit stick.

a�?Harga tergantung jenisnya. Misalnya kerupuk kulit stick kami jual Rp 150 ribu per kilogramnya,a�? ujar Rizal Faesal yang merupakan karyawan UD Bunga Mawar.

Berbeda dengan kerupuk kulit besar dan tebal dibandrol seharga Rp 300 ribu per plastik ukuran besar. Tidak sekadar membidik pasar lokal, UD Bunga Mawar juga membidik pasar nasional. Pihaknya juga kerap mengirimkan kerupuk kulit untuk pelanggannya di Bandung, Sumatera, dan sejumlah daerah di Jawa Timur.

Ada beberapa tahapan untuk memperoleh kerupuk kulit berkualitas dari proses pemisahan rambut, pemotongan, penjemuran, hingga proses merebus. Masing-masing dikerjakan oleh orang-orang yang sudah biasa mengolah kerupuk kulit.

a�?Butuh waktu kisaran 3 jam untuk merebus saja, masih ada proses lainnya. Yang jelas kami tidak menggunakan pengawet,a�? papar dia.

Adapun bahan bakunya diperoleh dari sejumlah daerah di Pulau Lombok baik dari Praya Lombok Tengah, Narmada Lombok Barat, bahkan dari Lombok Timur. Kini terdapat tujuh karyawan yang bekerja di industri pembuatan kerupuk kulit itu.

Rizal yakin bisnis kerupuk kulitnya akan berkembang pesat. Apalagi jika NTB benar-benar lebih fokus menyukseskan program bumi sejuta sapinya. Dengan begitu,akan berdampak positif terhadap industri pembuatan kerupuk kulitnya. (tan/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka