Ketik disini

Metropolis

Kabar Keluarga Belum Jelas, Masih Bisa Pikirkan Kerjaan

Bagikan

Banjir yang melanda kota Bima pada Rabu (21/12) dan Jumat (23/12) menyisakan cerita mendalam bagi pegawai PLN Area Bima. Bagaimana tidak, selain memikirkan kondisi rumah dan keluarganya yang ikut terdampak banjir, mereka juga harus bekerja keras memulihkan kondisi sistem kelistrikan yang terganggu akibat terjangan banjir bandang.

***

Pascabanjir bandang pertama, sejumlah gardu listrik terendam air. Selain itu, beberapa tiang jaringan roboh. Akibatnya pasokan listrik di Bima lumpuh dan berdampak pada lebih dari 36 ribu pelanggan.

Namun dengan cekatan tim teknis PLN Area Bima dibantu tim dari Sumbawa dan Mataram yang berjumlah sekitar 110 personel telah berhasil memulihkan sistem kelistrikan Bima hingga 90 persen pada hari pertama pascabanjir.

Kecepatan recovery sistem kelistrikan di Bima pascabanjir tentu saja tidak terlepas dari kecekatan dan kekompakan seluruh personel PLN.

Namun siapa sangka dibalik tim yang berhasil memulihkan sistem kelistrikan Bima kurang dari 24 jam itu, terdapat peran seorang pegawai bernama Mustafa. Pria yang sehari-hari menjabat sebagai Asisten Manajer Jaringan PLN Area Bima ini pada saat bencana banjir merupakan Ketua Tim Recovery sistem kelistrikan Bima. Dengan pengalamanya bekerja selama 35 tahun memberikan bekal tersendiri bagi Mustafa dalam memimpin seluruh tim teknis PLN.

Pada saat kejadian banjir bandang pertama Rabu (21/12), Mustafa bersama dengan pegawai PLN Area Bima lainnya tengah bekerja di kantor. Sekitar pukul 16.00 Wita air sudah menggenangi seluruh area kantor dengan ketinggian 1 meter lebih. Banjir bandang yang terjadi secara tiba-tiba menyebabkan banyak fasilitas kantor yang tidak bisa diselamatkan. Seluruh pegawai menyelamatkan diri ke lantai 2 kantor PLN Area Bima yang terletak di Jalan Soekarno Hatta.

Melihat ketinggian air yang cukup tinggi, Mustafa segera berkoordinasi dan memerintahkan kepada seluruh unit untuk memadamkan aliran listrik secara bertahap. Ini untuk menghindarkan warga dari dampak bahaya listrik. Hingga pada akhirnya jam 17.00 Wita, aliran listrik di seluruh Kota Bima padam total.

Di tengah kesibukannya dalam memonitor dan mengatur sistem kelistrikan di Bima, Mustafa sempat menghubungi keluarganya di rumah. Oleh keluarganya meminta Mustafa untuk berhati-hati. Hujan yang terus mengguyur Kota Bima dan genangan banjir yang belum surut memaksa Mustafa tetap bertahan di kantor untuk memonitor kondisi kelistrikan hingga larut malam.

Pada pukul 23.30 Wita ketika air mulai surut, Mustafa memutuskan pulang ke rumah untuk menemui keluarga sekaligus melihat kondisi rumahnya. Sesampainya di rumah yang hanya berjarak 2 km dari kantor, dirinya melihat rumahnya sudah dalam kondisi gelap gulita. Sisa lumpur dan sampah memenuhi seluruh sudut ruangan rumah. Tidak ada seorang pun anggota keluarga yang bisa dia temui. Seluruh sambungan komunikasi pada saat itu lumpuh total. Mustafa sempat khawatir akan keberadaan keluarga yang belum dia ketahui. a�?Saya merasa sedih ketika masuk ke dalam kamar kemudian menemukan sajadah, tasbih dan mukena isteri saya yang masih tergeletak di lantai yang tergenang air,a�? kenang Mustafa.

Sempat terlintas dalam pikirannya jangan-jangan isteri dan keluarganya terbawa derasnya arus banjir. Dengan perasaan pasrah Mustafa memutuskan untuk kembali ke kantor dengan harapan ada sesuatu yang bisa ia kerjakan. Terutama untuk segera memulihkan kondisi sistem kelistrikan di Bima setelah dilanda banjir bandang. (HAMDANI WATHONI, Mataram/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka