Ketik disini

Metropolis

Tanpa BRT pun, Bemo Sudah Sekarat

Bagikan

MATARAM – Gonjang-ganjing persoalan perebutan lahan mencari nafkah antara bemo kuning dan Bus Rapid Transport (BRT) tak kunjung usai. BRT yang tak jua kembali mengaspal, menjadi pertanda, masalah yang ada belum ditemukan solusinya.

“Angkot, termasuk angdes maunya BRT itu tidak usah ada,a�? kata Kadis Perhubungan Kota Mataram H Khalid, kemarin(17/1).

Kepada Lombok Post, ia menjelaskan para sopir bemo kuning hingga kini masih keras dengan pendiriannya. Mereka tak ingin lahan penghidupannya benar-benar dimatikan oleh BRT. Itulah menurutnya yang menjadi dasar hingga kini BRT masih dikandangkan. a�?Belum ada titik temu,a�? ujarnya.

Pernyataannya itu sekaligus mengkonfirmasi kegagalan mediasi terakhir yang coba kembali dilakukan.

Sebelumnya Khalid bahkan kadung mengatakan BRT bakal kembali mengaspal awal pekan ini. Namun karena belum ada kesepakatan, langkah antisipasi mencegah gesekan kembali terjadi lebih diutamakan.

“Akan ada pertemuan lagi yang difasilitasi Dishub NTB, semoga saja bisa cepat ada solusi,a�? ujarnya.

Ketua Paguyuban Bemo Kuning Mataram H Sukanah mengatakan, keinginan para sopir semata dilandasi keinginan untuk bertahan hidup. Tanpa kedatangan BRT sekalipun, ia mengatakan sudah banyak bemo kuning yang kembang kempis hidupnya. Kepemilikan kendaraan pribadi yang masif sudah jadi momok bagi mereka. a�?Sekarang ditambah lagi BRT, ya matilah kami,a�? ujarnya.

Sejak beberapa tahun terakhir, bemo kuning menurutnya seolah tinggal menunggu ajal. Mereka yang bertahan praktis hanya mengandalkan pemasukan dari penumpang pasar tradisional.

Sementara untuk pelajar, Anak-anak SMP menjadi incaran utama. a�?Kalau sudah SMA, mereka tak naik bemo lagi,a�? katanya.

Beberapa memilih menjadikan bemo sebagai angkutan barang di pasar-pasar tradisional. Mereka bahkan siap menjadi angkutan carter apapun demi menambah pemasukan. Bawa ikan, bawa sayur, kelapa, kayu, dan apapun dilakukan.

Di Dasan Agung, sebuah bemo bahkan disulap menjadi alat berjualan buah. a�?Selama ini pemerintah tak pernah perhatian sama kita, sekarang tiba-tiba keluarkan BRT,a�? keluhnya.

Itulah mengapa mereka keras BRT tak boleh ada di Mataram. Ketua Organda Kota Mataram Sutarman Hadi mengatakan, opsi win win solution yang tak merugikan siapapun sebenarnya bisa saja diberlakukan. Syaratnya pemerintah segera membuat rute baru untuk bemo kuning yang terintegrasi dengan BRT.

Setelah itu, pemerintah juga harus mensubsidi para sopir bemo kuning agar bisa bertahan di rute baru tersebut. Sayangnya, langkah tersebut hingga kini tak kunjung dijalankan meski sudah sempat dijanjikan.

Rute bemo kuning masih sama dengan BRT, subsidi yang dijanjikan juga tak jelas, malah BRT yang diberikan Rp 1 miliar. a�?Kalau tak ada solusi, ya kisruh ini bakal terus terjadi,a�? tegasnya. (yuk/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka