Ketik disini

Metropolis

Hore, Cilinaya Sudah Ada Solusi

Bagikan

MATARAM – Diam-diam Pemkot Mataram ternyata berpikir keras untuk menyelesaikan masalah tata ruang yang menjadi sorotan pusat di Cilinaya. Terbaru, Asisten Ekonomi Setda Kota Mataram Wartan memimpin rapat gabungan dengan sejumlah pihak terkait untuk mencari solusi terbaik.

“Sudah rampung rapatnya, tadi sama Kadis PUTR, kabag pemerintahan, camat dan lurah terkait,a�? katanya.

Sebelum rapat tersebut, Wartan mengatakan ragam pertemuan dengan pedagang di sana juga sudah dilakukan. Lantas apa hasil yang tercapai dari rapat itu? Dia enggan membocorkannya.

Namun Wartan mengklaim sudah ada skema penyelesaian masalah terbaik yang dihasilkan. a�?Setelah disetujui kepala daerah, baru bisa kami beri tahu,a�? ujarnya.

Namun yang pasti, jalan keluar yang menurutnya solusi cerdas itu tak akan mengorbankan siapa pun. Baik pedagang yang sudah lama berjualan, masyarakat pemakai jalan tak akan ada yang dirugikan.

Ia juga menegaskan saluran yang selama ini tertutup wajib dinormalisasi. Lantas apakah ini artinya bakal ada relokasi? Atau justru lebih tegas lagi berupa penggusuran? a�?Tidak bukan itu,a�? katanya sambil terus menutup rapat opsi solusi itu.

Yang pasti solusi yang ditawarkannya tak akan lagi membuat pedagang melanggar ketentuan tata ruang. Tak puas dengan jawaban mengambang itu, Lombok Post lantas coba membuat analisa. Yang pertama, kemungkinannya jadi meminjam lahan Pura Karang Jangkong.

Jika itu jadi digunakan, maka pedagang tinggal mundur sedikit, dan mereka tak lagi berjualan di atas saluran. Namun, opsi tersebut agaknya sulit terwujud. Berkaca pada kasus Hotel Aston yang gagal meminjam lahan pura untuk parkir, agaknya PKL juga tak akan diberikan tempat di lokasi peribadatan umat hindu tersebut.

Jika tak ada relokasi apa lagi penggusuran, namun membuat bangunan tersebut tak lagi melanggar aturan, bisa saja sumber masalah dihilangkan. Ya, kemungkinan kedua adalah menutup total saluran tersebut. Sehingga tak ada lagi cerita bangunan di atas saluran yang menyalahi aturan.

Opsi tersebut terdengar masuk akal. Namun, melihat kondisi Mataram yang kerap tergenang ketika hujan turun, termasuk di lokasi itu, agaknya menutup saluran bukanlah jawaban terbaik. Apa lagi Pemkot kini sedang gencar-gencarnya mewacanakan revitalisasi saluran-saluran yang ada.

Agaknya opsi ketigalah yang paling memungkinkan. Opsi ini adalah dengan memindahkan saluran. Sesuai statemen Wartan, pihaknya tak akan melakukan relokasi apalagi penggusuran.

Ia juga memberi kode kalau opsi kali ini menguntungkan semua pihak. Jika benar demikian, Pemkot Mataram tinggal memajukan saluran saat ini, kemudian pedagang didorong mundur sedikit, maka hilanglah sudah pelanggaran tersebut.

Tak ada lagi PKL yang berjualan di atas saluran, tapi tetap tak ada penggusuran sebagaimana kebijakan selama ini. Syarat untuk opsi ketiga itu adalah ketersediaan dana yang mencukupi untuk membangun ulang saluran tersebut beberapa meter lebih depan dari lokasi saat ini. Agaknya hal itu tak sukar untuk dipenuhi Pemkot Mataram.

“Nanti kita lihat, yang jelas solusinya bagus,a�? kata Kadis PU Tata Ruang Mahmudin Tura yang tak membantah analisa Lombok Post itu.

Di sisi lain, sebagian besar pengusaha di toko samping Mataram Mall, Kelurahan Cilinaya berharap pemerintah Kota Mataram tidak melakukan relokasi. Mereka masih ingin tetap berjualan di lokasi tersebut.

a�?Pedagang banyak yang tidak mau,a�? kata I GA A Nugrahini, Lurah Cilinaya saat dikonfirmasi kemarin (17/1).

Ia melanjutkan, para pengusaha tersebut bahkan meminta agar Pemkot Mataram tidak memindahkan toko mereka. Mereka lebih menginginkan Pemkot untuk menggerus bangunan diatas kali. “Mereka tidak masalah jika digerus yang diatas kali,a�? sambungnya.

Nugrahini mengatakan, ada puluhan bangunan yang berada di atas kali tersebut. Sekitar 20 lebih toko yang harus digerus. Hal ini merupakan permintaan pengusaha di lokasi tersebut. “Mereka minta dipertahankan, namun itu pun kalau Pemkot mau,a�? jelasnya.

Ia juga telah melakukan beberapa pembongkaran bersama petugas PU Kota Mataram, kemarin. Seluruh penutup atas saluran air dibongkar agar air dapat mengalir lancar menuju Karang Tapen. a�?Kesannya kumuh sekali,a�? tukasnya.

Ia menambahkan, dalam drainase tersebut ditemukan banyak sekali sampah. Ia sendiri mengaku tidak tahu menahu mengenai asal muasal sampah itu. Sebab itu, ia berencana akan melakukan gotong royong pada Jumat mendatang.

“Nanti jam 10 malam juga kita akan jaga untuk tahu siapa yang buang sampah di situ,a�? jelasnya.

Nugrahini melanjutkan, pihak kelurahan telah melakukan pendataan ulang toko tersebut. Hasilnya cukup mengejutkan. Data awal berjumlah 15 toko yang masih buka, namun saat ini menjadi 32 toko dari 36 toko yang ada. “Ternyata mereka bukanya siang,a�? ungkapnya.

Dari pendataan tersebut, ia telah mengumpulkan banyak bukti. Mulai dari kuitansi, pembayaran retribusi, pajak PBB hingga sewa kontrak. Seluruh pengusaha tersebut memiliki kontrak sewa dari Dispenda dan Dinas Perdagangan Kota Mataram.

Tahun 2007 lalu mereka memiliki kontrak sewa dengan Dispenda dan 2014 dengan Dinas Perdagangan. Bahkan setiap tahun mereka selalu membayar retribusi dan PBB untuk Kota Mataram.

a�?Rencananya mereka mau direlokasi di MCC namun mereka minta untuk dipertahankan disitu,a�? pungkasnya.

Mengatasi masalah ini, ia akan menghadap Sekda Kota Mataram besok (hari ini). Ia akan menyampaikan semua keinginan pengusaha sekaligus mencari solusi untuk relokasi.

“Kita akan sampaikan harapan mereka sekaligus membicarakan solusinya,a�? tandas Nugrahini. (yuk/zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka