Ketik disini

NASIONAL

Pernah Libatkan Orang Dekat Istana

Bagikan

JAKARTA – Praktek suap oleh Rolls-Royce (RR) ternyata sudah berlangsung begitu lama. Dokumen Statement of Fact dari Serious Fraud Office (SFO) Inggris mengungkap detil bagaimana praktek kotor RR itu dijalankan untuk memperlancar bisnisnya di berbagai negara.

Dalam 53 halaman dokumen yang dirilis lembaga antirasuah Inggris pada 17 Januari 2017 itu, diungkap 12 praktek suap dan korup yang melibatkan RR. Dari 12 itu, dua diantaranya terjadi di Indonesia.

Modusnya sama. Untuk melencarkan penjualan produk dan jasa di suatu negara, RR menggandeng seorang yang disebut sebagai commercial adviser (CA) atau penasihat komersial. Melalui para penasehat inilah RR mendapatkan kontrak-kontrak bisnis dengan maskapai di beberapa negara. Sebagai komisi, RR lantas mentransfer sejumlah uang atau barang kepada CA. Lalu, sebagian uang/barang tersebut didistribusikan CA kepada pejabat maskapai penerbangan.

Pengamat sektor penerbangan yang kini menjadi anggota Ombudsman RI Alvin Lie mengakui, praktek perusahaan asing yang menggunakan perantara untuk memperlancar bisnisnya dengan cara menyuap, adalah cara tidak etis yang ditempuh. “Kalau praktek seperti itu terjadi di era Orde Baru, saya tidak heran,” ujarnya saat dihubungi kemarin (20/1).

Dalam investigasinya, SFO meminta keterangan dariA� pejabat-pejabat RR dan membongkar berkas-berkas catatan komunikasi di internal RR. Transaksi-transaksi finansial lintas negara yang dilakukan para pihak pun dirunut secara detil, mulai dari tanggal, jumlah, hingga rekeningnya.

Praktek kotor RR di Indonesia dimulai dari periode 1 Januari 1989 hingga 31 Desember 1998 terkait dengan pembelian mesin pesawat Trent 700 untuk 6 unit Airbus A330. Kisahnya dimulai di 1989. Dokumen SFO mengungkap adanya memo internal RR terkait strategi di Indonesia. Memo itu berisi keputusan untuk menunjuk penasihat komersial yang memiliki koneksi dengan Istana Presiden dan Garuda Indonesia. Pihak RR menyimpulkan, penasihat komersial yang disebut dengan nama Intermediary 1 atau Perantara 1 ini bertindak sebagai agen di kantor Presiden saat itu.

Pada Juli 1989, Commercial Adviser Agreement (CAA) ditandatangani antara RR dan Intermediary 1. Isinya, RR akan memberikan komisi sebesar 5 persen dari total harga mesin dan spare part yang berhasil dijual RR kepada Garuda Indonesia. Pembayaran dilakukan melalui perusahaan yang dibentuk Intermediary 1. Total, RR memberikan uang senilai USD 2,25 juta dan sebuat mobil Rolls-Royce Silver Spirit kepada Intermediary 1.

Siapakah Intermediary 1? Tidak ada keterangan pasti dalam dokumen SFO tersebut. Namun, identitas Intermedary 1 ini diungkap sedikit oleh SFO dalam laporan terkait praktik suap RR di Indonesia pada periode 1 Juli 2011 hingga 31 Maret 2012. Di periode ini, modusnya sama, RR menggandeng perantara yang dinilai bisa mempengaruhi pengambilan keputusan di Garuda. Perantara di kasus ini disebut dengan nama Intermediary 8.

Nah, dokumen SFO menyebut Intermediary 8 sudah berteman dengan Intermediary 1 sejak akhir 1980an. Keduanya sering terlibat dalam deal-deal bisnis bersama. Intermediary 8 ini juga sukses menjadi makelar atas deal bisnis untuk beberapa maskapai lokal, termasuk Sempati Air yang dimiliki keluarga Presiden Soeharto.

Intermediary 8 ini juga disebut berperan penting dalam deal bisnis antara RR dengan Garuda Indonesia pada awal 1990an. Dokumen menyebut, saat itu, procurement atau pengadaan di maskapai Garuda Indonesia sangat dipengaruhi oleh keluarga Intermediary 1.

Lalu, siapakah Intermediary 8? Meski dokumen SFO tidak menyebut nama, namun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah mengungkapnya. Dia adalah Soetikno Soedarjo, pengendali perusahaan offshore Connaught International Pte Ltd di Singapura.

Soetikno dikenal luas di kalangan pebisnis sejak awal 1990an. Ketika itu, bersama dua koleganya, yakni Adiguna Sutowo dan Dian Soedarjo, Soetikno membentuk Mugi Rekso Abadi (MRA) Group yang bergerak di bidang media dan gaya hidup.

Produk-produk yang dikelola MRA Group masuk kategori kelas atas, seperti Emporio Armani, Bvlgari, juga otomotif seperti Ferrari, Maserati, hingga Harley Davidson. Selain itu, ada pula Hard Rock Cafe di Jakarta dan Bali, serta beberapa bisnis hotel dan properti lainnya seperti Bvlgari Hotels and Resorts serta Four Seasons Hotel of Jimbaran di Bali.

Pria kelahiran Jakrat 22 Agustus 1957 yang meraih gelar MBA dari University of San Fransisco itu juga menjabat sebagai presiden komisaris PT JA Wattie Tbk, perusahaan di bidang perkebunan kelapa sawit, kopi, dan teh.

Keterlibatan Soetikno sebagai perantara bisnis RR di Indonesia dimulai pada 23 Februari 1999 saat menandatangani Commercial Adviser Agreement (CAA). Deal bisnis yang dicapai antara RR dan Garuda Indonesia berkat lobi Soetikno, diantaranya pada 29 Oktober 2008 saat RR dan Garuda menandatangani Total Care Agreement (TCA) untuk perawatan mesin Trent 700 di pesawat Airbus A330. Pada 16 Januari 2009, RR lantas membayar Soetikno senilai USD 1,23 juta.

Dokumen SFO menyebut, pada 24 Juni 2009, perusahaan milik Soetikno mentransfer uang senilai USD 500 ribu ke rekening perusahaan lain yang juga dimiliki Soetikno. Rekening inilah yang nantinya digunakan untuk melakukan suap kepada pejabat senior Garuda.

Berdasar penelusuran SFO, pada 11 Oktober 2010, perusahaan milik Soetikno mentransfer uang senilai USD 100 ribu kepada rekening milik pejabat senior Garuda. Pada 14 Oktober 2010, transfer kembali dilakukan ke rekening milik pejabat Garuda senilai USD 10 ribu. Siapakah pejabat senior Garuda yang dimaksud? Jika mengacu pada penyelidikan KPK, maka dia adalah Emirsyah Satar yang kini sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Pada 5 Mei 2011, RR kembali membayar Soetikno senilai USD 463.561 sebagai komisi atas Total Care Agreement (TCA) untuk mesin T700. Selain itu, pada Januari 2012, Soetikno kembali mendapat dua kali transfer dari RR senilai USD 397 ribu dan USD 617 ribu.

Dalam bagian akhir laporan SFO, disebutkan bahwa antara 11 Juni 2012 hingga 23 Mei 2014, Soetikno melalui perusahaan offshore nya di Singapura kepada rekening milik dua pejabat Garuda Indonesia. Berarti, selain Emirsyah, ada satu pejabat Garuda yang juga menikmati aliran suap ini.

Menurut Alvin Lie, keterlibatan pejabat Garuda tak bisa ditoleransi. Dia menyebut, sebagai perusahaan yang sudah go public, Garuda Indonesia sudah menerapkan good corporate governance. Namun, ternyata masih kebobolan juga. a�?Karena itu, pemerintah harus memperketat sistem pengawasan, agar pemain pasar modal tidak kehilangan kepercayaan,a�? ujarnya.

Alvin menyebut, dengan beberapa fakta yang sudah diungkap KPK dan dokumen SFO, maka oknum di internal Garuda yang terlibat bisa saja bertambah. Untuk itu, perlu penyelidikan menyeluruh oleh KPK. a�?Sebab, nyaris mustahil korupsi dilakukan hanya seorang diri. Sebab, keputusan pembelian mesin pesawat melibatkan banyak pihak,a�? jelasnya.

Dicekal

Sementara itu, pusaran kasus suap pengadaan mesin pesawat PT Garuda Indonesia (Persero) terus melebar. Setelah menetapkan mantan Dirut PT Garuda Emirsyah Satar dan pemilik Connaught International sekaligus pendiri Grup Mugi Rekso Abadi (MRA) Soetikno Soedarjo sebagai tersangka, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengejar keterlibatan pihak lain yang diduga memiliki peran dalam konstruksi perkara itu.

KPK pun telah mengunci sejumlah nama yang diduga memiliki keterkaitan dengan kasus suap dari Rolls-Royce tersebut. Yakni, Hadinoto Soedigno, mantan Direktur Operasional Citilink Indonesia dan mantan Dirut PT Garuda Maintenance Facilities (GMF) AeroAsia. Kemudian Agus Wahyudo, mantan Vice President Asset Management Garuda Indonesia, dan Sallyawati Rahardja, pimpinan Grup MRA milik Soetikno Soedarjo.

Terhitung Senin (16/1), Emir dan Soetikno bersama tiga saksi tersebut dicegah bepergian ke luar negeri selama enam bulan. Meski diajukan pencegahan, KPK enggan membeber secara detail peran tiga saksi tersebut. “Menurut penyidik, saksi ini dalam berbagai kapasitasnya dibutuhkan keterangannya dalam proses penyidikan,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, kemarin (20/1).

Sebelumnya, KPK menetapkan Emirsyah dan Soetikno sebagai tersangka suap dari Rolls-Royce dalam pengadaan mesin pesawat pada Kamis (19/1). Emir diduga menerima suap dari Soetikno berupa uang EUR 1,2 juta dan USD 180 ribu atau setara Rp 20 miliar serta sejumlah barang senilai USD 2 juta (Rp 26 miliar). Suap dari Rolls-Royce itu diduga berkaitan dengan pengadaan mesin pesawat untuk 11 Airbus A330-300 pada 2012 oleh PT Garuda.

Sebetulnya, ada tiga pilihan mesin untuk Airbus A330-300. Yakni, Rolls-Royce Trent 700, Pratt & Whitney PW 400, atau GE CF6-80E. Namun, Garuda memilih Airbus A330-300 ditenagai mesin Rolls-Royce Trent 700 yang merupakan produk Rolls-Royce, perusahaan asal Inggris. Sebagai catatan, total pengadaan Airbus di PT Garuda selama kurun waktu 2005-2014 atau dibawah kepemimpinan Emir adalah sebanyak 50 unit.

Dari hasil penyidikan lembaga antikorupsi Inggris Serious Fraud Office (SFO) sebenarnya menyebutkan ada dua pejabat PT Garuda yang menerima suap dari Rolls-Royce. Terkait hal itu, KPK menjawab diplomatis. Febri mengatakan, pihaknya masih fokus pada dua tersangka yang telah ditetapkan saat ini.

Terkait bukti-bukti yang diperoleh dari SFO dan lembaga antikorupsi Singapura atau Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB) tetap akan digunakan untuk memperkuat konstruksi kasus korupsi lintas negara (transnasional) itu. “Bila memang nanti ditemukan bukti permulaan yang cukup tentu tidak tertutup kemungkinan diprosesnya pihak lain,” ujar Febri.

Selain keterlibatan pejabat lain di PT Garuda, KPK juga terus mendalami peran tersangka Soetikno. Penyidik sudah menyita sejumlah dokumen yang berhubungan dengan data perusahaan Soetikno di Singapura saat penggeledahan di sejumlah lokasi di Jakarta beberapa waktu lalu. Diantaranya, data kepemilikan aset, perbankan dan barang-barang elektronik.

Berdasar informasi yang dihimpun, selain sebagai pemilik Connaught International, Soetikno juga merupakan petinggi holding Grup MRA. Perusahaan yang berkantor di Wisma MRA Jalan TB Simatupang 19 Jakarta Selatan itu menaungi sejumlah unit bisnis. Mulai majalah, ritel, hotel, penyiaran, makanan dan minuman, gaya hidup, hiburan dan otomotif. Anak usaha MRA ada juga yang bergerak di bisnis penjualan mobil sport Ferrari.

Febri mengatakan, keterkaitan perusahaan Grup MRA dalam pembelian mesin pesawat Rolls-Royce masih didalami. Penyidik mendapat informasi bahwa uang suap terlebih dulu parkir di rekening salah satu anak perusahaan milik Soetikno. “Transaksi (suap) beberapa kali dilakukan dengan cara transfer ke beberapa rekening berbeda,” jelas Febri.

Hasil penyidikan terungkap, aliran uang suap dari Rolls-Royce beberapa kali dilakukan dengan cara transfer ke rekening Soetikno yang ada di Singapura. Baru kemudian diberikan ke Emir yang juga melalui transaksi perbankan. Kondisi itu yang mengharuskan KPK bekerjasama dengan lembaga antikorupsi Singapura.

Terpisah, Emirsyah Satar akhirnya angkat bicara soal penetapannya sebagai tersangka. Dia menuturkan, penetapan dirinya menjadi tersanga merupakan kewenangan KPK. Dia menghormati proses hukum yang berjalan. Emir pun akan bekerja sama sebaik-baiknya dengan penyidik untuk menegakkan kebenaran atas.

Perihal dugaan terima suap, dia tegas menampik tegas. Emirsyah mengaku tak pernah melakukan perbuatan koruptif atau menerima sesuatu berkaitan dengan jabatan yang dipikulnya. a�?Sepengetahuan saya, selama saya jadi Dirut PT Garuda, saya tidak pernah melakukan perbuatan yang koruptif,a�? ungkapnya.

Sementara itu, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi meminta agar operasioanal Garuda tidak terganggu dengan kasus yang ada. Apalagi, kejadian terjadi di masa lalu. a�?Kami menghargai dan mengikuti proses yang dilakukan KPK sebagai upaya perbaikan negara. Khusus Garuda, harapannya operasional tidak terganggu,a�? ungkapnya.

Dia pun turut menyinggung proses pengadaan mesin pesawat hingga menyeret Emir. Dia mewanti-wanti PT Garuda agar lebih berhati-hati lagi dalam pengadaan ini. Sebab, PT Garuda merupakan flight carrier yang membawa nama bangsa. a�?a�?Garuda punya tanggung jawab pada bangsa. Jadi harus menjaga diri,a�? tutur mantan Dirut PT Angkasa Pura (AP) II itu.

Sementara itu, Wapres Jusuf Kalla menyatakan terkejut atas penetapan Emir sebagai tersangka dugaan suap oleh KPK. Sebab, selama ini dia mengenal Emir dengan baik. a��a��Emir melaksanakan tugas-tugasnya dnegan baik, menjadikan Garuda dari terpuruk menjadi sehat,a��a�� tuturnya kemarin (20/1).

Menurut JK, persoalan yang membelit Emir saat ini berasal dari luar Indonesia. Sehingga, efeknya pun melebar ke mana-mana. JK memilih menunggu proses hukum lebih lanjut terhadap Emir ketimbang berspekulasi atas kasusnya. a��a��Dia nggak ada masalah di dalam negeri. masalahnya dari luar,a��a�� tambah JK. (tyo/and/mia/byu/agm/JPG/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka