Ketik disini

Metropolis

Cukup Satu Malam, Satu Drone Tuntas

Bagikan

Drone boleh jadi barang baru di Lombok. Tetapi bagi Achmad Yusuf, drone bukan pesawat asing. Ia sudah lama bereksperimen dengan drone.

***

ACHMAD Yusuf atau akrab dipanggil Ucup tidak punya tampang dan gestur penyuka teori-teori aerodinamika. Yakni cabang pengetahuan yang berkenaan dengan kajian pergerakan udara. Khususnya saat udara berinteraksi dengan benda padat.

Apalagi pria yang kerap menenteng kamera video itu, tidak pernah sekalipun bercerita tentang hobi uniknya ini. Tapi a�?identitasa�? Ucup ini akhirnya terbongkar juga.

Pegawai Humas Kabupaten Lombok Utara ini terlihat berkumpul dengan para pecinta drone di Lanud Rembiga Minggu (22/1) kemarin.

a�?Rinjani Aeromodeling Club,a�? jawabnya sedikit malu-malu saat dipergoki Lombok Post.

Perkumpulan ini bukan kumpulan orang iseng biasa. Bukan pula para penggemar drone yang hanya butuh lapangan luas untuk menerbangkan drone, setelah puas lalu pulang. Di perkumpulan ini berkumpul para ahli-ahli drone. Dari yang bisa merekayasa kecepatan terbang drone hingga yang ahli membuat badan pesawat.

a�?Nah ini drone racer, biasanya setiap hari Sabtu kita selalu ada lomba di Lapangan Selaparang,a�? tutur Ucup yang akhirnya mau terbuka.

Ia langsung menerbangkan sebuah drone. Hanya hitungan satu detik, drone dengan empat baling-baling itu sudah melesat puluhan bahkan ratusan meter di atas langit. Luar biasa, padahal hanya menggunakan baling-baling saja. Gerakannya sudah sangat cepat. Karena ini model drone untuk balap, maka digunakan alat bantu yakni drone FPV. Sebuah alat yang terintegrasi dengan CCTV di terpasang di drone. Lalu bisa mengirimkan data visual dengan cara wireless atau nirkabel.

a�?Macam-macam sih harganya. Kalau ini harganya sekitar Rp 15 juta,a�? terang dia.

Itu untuk drone balap. Tapi, Ucup membuat tantangan berbeda. Ia mengaku lebih suka membuat sendiri aeromodeling pesawat. Beberapa bahan digunakan untuk membuat badan pesawat. Dari tripleks, styrofoam hingga balsa. Yakni sejenis kayu yang kerap didapati di sebagai pegangan es krim.

Pembuatan badan pesawat tentu tidak sekedar asal buat. Ia harus memenuhi unsur-unsur keseimbangan aerodinamika. Sehingga saat diterbangkan pesawat bisa terbang dengan seimbang dan baik. Tentu ini tidak mudah. Teori-teori aerodinamika pun dipelajari Ucup secara otodidak.

a�?Ada Youtube dan situs perambah tempat belajar. Memang tidak mudah. Tetapi kalau tidak dicoba ya semakin sulit kalau cuma direka-reka pikiran,a�? terangnya.

Secara rinci, Ucup lalu menceritakan kesulitan menerbangkan drone dengan body mirip pesawat terbang dengan drone biasa yang betumpu pada banyak baling-baling. Selain pesawat harus dirancang sehingga memenuhi unsur-unsur aeromodeling, pengguna drone pesawat terbang juga harus bisa mendinamiskan pikiran dengan gerakan pesawat.

a�?Kalau drone biasa kan, hadap kiri-kanan dan atas bawah sama saja. Bahkan drone seperti itu, dibuat stay berada di satu titik kan bisa. Tetapi kalau drone dengan bentuk pesawat terbang tidak bisa,a�? jawabnya.

Persoalannya memang ada pada baling-baling yang menjadi gaya lontar pesawat terbang. Jumlahnya hanya satu buah. Di bagian ekor. Artinya keseimbangan pesawat sepenuhnya bertumpu pada bobot pesawat. Dengan terlebih dahulu mempertimbangkan antara berat komponen (mesin) dengan body pesawat.

Selain, itu penerapan sistem servo untuk menggerakan sayap sehingga bisa bekerja mengangkat, membelokan hingga menukik, harus melalui perhitungan yang rumit.

a�?Kalau teorinya dan hitungan teori aerodinamisnya mungkin tidak bisa saya jelaskan. Tetapi kalau buat ya bisa, ini buktinya,a�? terang ia sembari tersenyum lebar.

Ya bagi Ucup menjelaskan teori, rumus hingga pengaruh tekanan udara dalam angka-angka matematis mungkin sulit dilakukannya. Ia hanya lulus SMA. Itupun kata Ucup di sebuah SMA pelosok di wilah Gerung, Lombok Barat. Tetapi jika ia bisa menerapkan teori aeromodeling, lantas buat apa hitungan matematisnya?

a�?Semua ada di kepala ditambah perkiraan-perkiraan. Misalnya kalau baterainya di taruh di sini dampak terbangnya seperti apa, lalu kalau panjang ekornya segini, terbangnya bagaimana,a�? jawabnya.

Untuk mengerjakan satu badan pesawat drone, Ucup mengaku bisa menuntaskannya dalam satu hari. Itupun lengkap dengan rancangan servo motor untuk menggerakan sayap-sayap pesawat. Bahkan kini, ekperimen dan karyanya tidak hanya menghasilkan dua model pesawat terbang. Tetapi ia juga berhasil membuat drone pesawat amphibi.

a�?Jadi setelah terbang, pesawatnya siap meluncur di atas air,a�? ujarnya berapi-api. (bersambung LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka