Ketik disini

Metropolis

Persuasif Terus, Kapan Tegasnya?

Bagikan

Sempat menyatakan diri bertobat, pedagang tuak kembali kambuh. Padahal pemerintah telah menggelontorkan anggaran besar untuk alih usaha. Celakanya, anggaran itu diduga dijadikan modal sejumlah penjual tuak memperbesar usahanya.

***

SENIN 19 Desember 2016 lalu, 185 pedagang tuak menyatakan diri a�?tobata�� berjualan tuak. Mereka datang ke pemkot dan berikrar tidak lagi mewarnai wajah kota dengan botol berisi minuman warna pink. Sebagai kompensasi, pemerintah lalu merogoh kocek cukup dalam. Total Rp 320 juta diberikan pada 185 pedagang tuak.

Kalau dihitung-hitung, satu pedagang dapat suntikan dana segar Rp 1,7 juta. Angka yang cukup besar untuk mulai usaha baru dan meninggalkan usaha yang diklaim bisa menurunkan citra religius kota itu.

Bantuan usaha itu lantas diberikan melalui kelompok-kelompok usaha. Totalnya sebanyak 21 kelompok. Adalah Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana langsung yang menyerahkan bantuan. Sayang, baru satu bulan berlalu, para penjual tuak kumat lagi.

a�?Dua malam ini saya terus turun pantau tuak ini bersama sejumlah lurah,a�? kata Kepala Bagian Pemerintahan Putu Sudarsana, Minggu (22/1) kemarin.

Diakui Putu, ia turun setelah berkonsultasi dengan Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Martawang. Misinya, untuk mencari tahu lebih detail, apa sih maunya para pedagang tuak? kenapa kumat lagi padahal bantuan modal sudah diberikan.

a�?Saya coba lakukan pendataan kembali, dan menghimbau masyarakat jangan lagi dagangan tuak,a�? sambungnya.

Dari pengamatan di lapangan, Putu membenarkan pedagang tuak memang kembali marak. Ia sudah berupaya mendengar aspirasi mereka. Namun beberapa jawaban yang diterima sangat klise. Ada yang menyebut itu tradisi. Ada pula yang berdalih ini kebiasan masyarakat yang sudah turun-temurun.

a�?Tetapi tetap. Itu tidak bisa kita biarkan. Intinya kami meminta agar jangan diperjual belikan secara bebas,a�? terangnya.

Sampai saat ini, menyikapi menjamurnya kembali penjual tuak, Putu mengaku masih akan mencoba lankah-langkah persuasif. Bertemu dengan para pedagang bersama aparat lingkungan dan kelurahan. Lalu meminta kesadaran mereka, agar tidak lagi memamerkan dagangannya di pinggir jalan.

Putu mengaku tidak bisa menepis rasa curiga. Usaha mereka yang semakin besar bisa jadi karena penyalah gunaan bantuan yang telah diberikan pemerintah beberapa waktu lalu. Seharusnya, mereka saat ini sudah beralih profesi. Menjadi pedagang warung kelontong dengan jualan sembako.

a�?Kita duga setelah terima bantuan, mereka memperbesar usaha tuaknya,a�? ujarnya.

Tetapi ada juga yang lebih parah. Dari laporan yang diterimanya dari Lurah Pagutan Barat dan Timur ternyata para penjual lama sudah tidak ada lagi. Justru yang terlihat berjualan banyak itu adalah pedagang tuak yang baru. Diduga, ini karena faktor cemburu. Sebab pedagang yang sebelumnya patuh dengan perda minuman keras dengan tidak berjualan miras, justru tidak dapat apa-apa.

a�?Tetapi pedagang tuak justru dapat bantuan modal. Lihat temannya dapat bantuan, mereka akhirnya jualan juga,a�? terangnya.

Lebih jauh Putu mengingatkan pada para penikmat tuak seharusnya semakin waspada pada tuak-tuak yang dijual pada malam hari. Ia mengaku sedikit tahu tentang jenis tuak yang dijual setelah mengumpulkan banyak informasi dari warga. Ternyata tuak yang biasanya dipromosikan di pinggir jalan dengan memberi pencahayaan lampu adalah tuak yang berbahaya.

a�?Jujur saya sampaikan ini. Kalau tuak yang bagus itu, sudah tidak dipajang. Tetapi langsung dibeli. Jadi ini sekaligus himbauan bagi warga untuk hati-hati. Sebab bisa saja itu tuak oplosan. Saya sudah tanya sama yang minum-minum itu,a�? terangnya.

Dengan adanya informasi ini, ia berharap warga tidak lagi tergoda membeli tuak yang dipajang di sudut-sudut kota. Jika animo pembeli turun, tentu berimbas dengan jumlah pedagang tuak yang diharapkan bisa semakin menyusut.

Tapi untuk saat ini, Putu mengaku masih enggan mendorong tindakan tegas bagi para penjual tuak. Walaupun secara nyata-nyata mereka telah melakukan penyalah gunaan dana bantuan dari pemerintah. Tapi ia berjanji pada akhirnya nanti jika sudah pada titik sulit untuk diingatkan, Putu berjanji siap mendorong punishment melalui jalur hukum. Supaya ada efek jera bagi pedagang yang bandel.

a�?Karena ini masyarakat kita, wali kota dan wakil wali kota sudah mengingatkan agar kita menempuh langkah-langkah persuasif dulu. Tetapi pada titik tertentu kita juga bisa tegas,a�? tandasnya.

Sebagai Informasi, tadi malam Ia bersama Camat Cakranegara dan sejumlah lurah kembali turun melakukan pengawasan di lapangan. Mengajak para pedagang tuak, berdiskusi terkait tuak yang kembali marak.

Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Martawang mengatakan dirinya masih menunggu laporan dari lurah dan camat. Apa yang menjadi sebab tuak kembali menjamur di wilayah mereka. Jika persoalan sudah terpetakan, tentu mudah mencarikan solusi atas persoalan yang ada.

a�?Yang jelas solusi harus bisa dijalankan dengan baik oleh pedagang tuak. Supaya mereka tidak berjualan lagi,a�? kata Martawang.

Dikejar dengan pertanyaan apakah para pedagang tuak berpotensi di pidana atau ditarik lagi bantuan dana, jika terbukti menyalah gunakan bantuan? Martawang menjawab diplomatis. Saat ini ia ingin mengkaji isi dari draf perjanjian pemberian kompensasi pada pedagang tuak. Jika poin itu memang ada, tentu harus diberikan tindakan. Tetapi dengan terlebih dahulu melakukan pendekatan-pendekatan persuasif pada pedagang.

a�?Saya tidak ingin mendahului apakah dana bisa ditarik atau pedagang bisa di pidana, tapi prinsipnya apapun yang menjadi komitmen pemberian bantuan usaha itu harus ditegakan,a�? tegasnya.

Sekda Kota Mataram Effendi Eko Saswito menegaskan persoalan tuak ini harus segera ditangani. Jangan sampai membesar dan menimbulkan preseden buruk atas bantuan modal usaha yang diberikan pemerintah beberapa waktu lalu.

a�?Ya jangan sampai ini dibiarkan. Harus ditindaklanjuti apa yang jadi persoalannya. Kenapa mereka berjualan lagi,a�? kata Eko.

Menurutnya, arahan wakil wali kota sangat jelas dan terang. Para pedagang tidak boleh lagi dengan alasan apapun memamerkan tuak di pinggir jalan. Bantuan modal yang diberikan harus dimanfaakan dengan sebaik-baiknya untuk memulai usaha baru.

a�?Kita sudah memberikan bantuan untuk alih profesi. Karena itu lurah dan camat harus mengawasi sejauh mana alih profesi itu kini sudah berjalan,a�? ujarnya.

Masih beroperasinya penjuak tuak dinilai sebagai efek dari tidak adanya ketegasan pemkot. a�?Saran kita pemerintah tegas saja,a�? kata Ketua MUI Kota MataramA� H Muhtar, kemarin.

Kepada Lombok Post ia menegaskan pemerintah tinggal berpegang pada aturan yang berlaku. Jika memang tak dibolehkan, langkah tegas harus dilakukan. Sarannya adalah tak melakukan penindakan dengan setengah hati. Misalnya hanya sesekali saja seperti dalam sejumlah kasus razia hanya digencarkan jelang puasa saja.

a�?Harus berkala dan terus menerus razia dan penindakan itu,a�? ujarnya.

Setelah razia dilakukan, mereka yang kedapatan melanggar menurutnya juga harus ditindak. Tak boleh ada kata damai yang berujung kembali melakukan pelanggaran.

a�?Berikan tindakan tegas supaya ada efek jera,a�? sarannya. MUI mendukung segala tindakan pemerintah untuk menciptakan Mataram yang lebih baik.

Tuak yang masih beredar bebas jelas mengundang tanya banyak kalangan. Sorotan kini tak hanya tertuju pada HL Martawang selaku Asisten I Bidang Pemerintahan Setda Kota Mataram yang juga menjabat Ketua Pengawas Pembina Minuman Beralkohol. Satpol PP sebagai pasukan penegak perda, termasuk camat dan lurah sebagai pimpinan wilayah juga patut dipertanyakan.

Sebelumnya Kabid Trantibum Satpol PP Kota Mataram Bayu Pancapati sudah menegaskan tak akan mentolerir keberadaan pedagang tuak. Setelah mendapat kompensasi, mereka mestinya tak lagi menjual miras. (zad/yuk/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka