Ketik disini

Metropolis

Karyanya Terjual Hingga Virgina Amerika Serikat

Bagikan

Eksperimen Achmad Yusuf tidak hanya merancang body pesawat drone. Baru-baru ini ia mencoba membuat paramotor. Berhasilkah ia? Berikut laporannya.

***

AWAL kali melihat konsep paramotor diakui Achmad Yusuf sekitar tiga bulan lalu, melaluiYoutube.

Sejak itu ia langsung tertantang ingin membuatnya. Sekedar diketahui, konsep paramotor jauh lebih rumit dari drone pesawat dengan satu baling-baling.

Rancangan parasut, tali parasut, servo gerak robotik boneka hingga berhitungan bobot boneka dengan kemampuan parasut mengangkat beban, harusnya melalui perhitungan dan rumus-rumus yang kompleks.

Ajaibnya, pria yang akrab dipanggil Ucup ini justru mengaku mengerjakan semua hanya berdasarkan feeling. a�?Memang tetap menghitung berapa centimeter ukuran tali. Lalu letak simpul-simpul tali di parasut, tetapi selebihnya menggunakan perkiraan-perkiraan (feeling) saja,a�? ungkap Ucup.

Untuk mendapatkan semua itu, Ucup mengaku mempelajari betul cara kerja parasut. Begitu juga mekanisme kerja penerjun saat saat melakukan terjun payung. Beberapa literatur di internet juga dijadikan acuan merancang. Tetapi bukan tanpa tantangan. Ucup mengaku gagal berkali-kali. Layaknya seorang ilmuan yang tengah mencari formula tepat.

a�?Sempat down juga. Sebab gak bisa terbang-terbang. Membuat drone paramotor ini memang sangat sulit,a�? tuturnya.

Barulah pada percobaan yang kelima, Ucup akhirnya berhasil menerbangkan paramotor. Sistem servo yang menggerakan tangan boneka penerjun, bekerja baik menerbangkan boneka paralayang itu.

Kalau diperhatikan, kerja dari paramotor ini memang sangat rumit. Daya dorong untuk terbang justru berada di belakang boneka penerjun.

Kalau misalnya diletakan di parasut mungkin mekanisme kerjanya akan sama dengan drone pada umumnya. Hanya saja, parasut tidak akan bisa mengembang secara alami. Begitu juga gerakannya tidak akan menyerupai persis penerjun payung.

Tetapi tantangannya memang bukan di situ. Paramotor ini memang didesain mengasilkan drone yang terbang persis seperti terjun payung. a�?Kalau di NTB, sepertinya hanya saya yang sudah membuat,a�? jawabnya malu-malu.

Iya! Ini memang sulit. Kalaupun Ucup mengatakan saat ini baru hanya dirinya yang bisa mengembangkan paramotor ini, rasa-rasanya tidak berlebihan. Pekerjaan ini memang butuh waktu, ketekunan dan pemahaman yang baik tentang sistem kerja hukum aerodinamika.

Hebatnya Ucup yang hanya lulusan SMA ini sudah memahami itu dengan baik. Alhasil, ia berhasil membuat karya yang sungguh luar biasa. Bahkan karya paramotornya itu, sampai dipesan ke Virginia. Sebuah negara bagian di Amerika Serikat.

a�?Kalau ke luar negeri saya jual lebih mahal. Sekitar Rp 3,5 juta. Beda kalau pesanan dalam negeri, saya jual sekitar Rp 2 juta. Tapi ingat ini tanpa baterai dan tanpa remot loh. Kalau tambah itu, bisa lebih mahal,a�? terangnya.

Puluhan paramotor Ucup laris manis. Terutama desain parasut dan ukuran tali parasut memang sangat sulit di duplikasi. Jika semangat ekperimen lembek, membuat paramotor memang akan sulit dilakukan.

Tapi yang tidak kalah menarik lagi, Ucup mengatakan sebagian besar bahan-bahan untuk membuat paramotor itu adalah bahan-bahan bekas. Kecuali kain parasut ia mengaku terpaksa import dari Tiongkok. Sebab jenis kain ini memang beda dan sulit di dapat di Indonesia.

Sementara untuk alat kontrol, bisa menggunakan mesin drone atau perangkat remote control. Sementara servo bisa di beli di toko-toko elektronik.

a�?Sama kepala boneka yang saya beli. Sementara sisanya, kayak baju boneka, cangkang motor, sepatu boneka, tali, servo dan lainnya, barang-barang bekas,a�? tuturnya.

Mekanisme kerja tangan boneka untuk mengatur gerakan paramotor dikatakan Ucup sebenarnya sama saja dengan cara kerja sayap pesawat. Hanya saja, di paramotor perlu modifikasi, sehingga gerakan tangan boneka bisa disesuaikan untuk naik turun, untuk mengatur tekanan udara di parasut.

Tetapi tentu, punya drone paramotor bukan lantas bisa menerbangkan langsung. Nyaris serupa rumitnya dengan menerbangkan drone pesawat dengan satu baling-baling. Harus bisa berimajinasi dengan letak, hadap dan arah gerakan paramotor.

a�?Kalau drone biasa kan depan belakang sama saja. bahkan bisa terbang diam di satu titik. Tapi, kalau paramotor terbangnya harus gerak terus. Kalau diam pasti jatuh. Begitu juga, kalau paramotor terbang ke arah kita, kontrol kiri bisa di kanan dan kana bisa di kiri, terbalik-balik,a�? tuturnya.

Pegawai yang bekerja menjadi staf Humas di Kabupatan Lombok Utara (KLU) ini mengaku cukup puas dengan karyanya saat ini. Ia memang berencana mengembangkan paramotornya dengan kamera pengintai. Yang bisa dihubungkan secara wireless atau nirkabel dengan drone FPV.

a�?Ke depan saya akan coba kembangkan ke arah itu. Tentu dengan menghitung ulang kemampuan angkat bobot parasutnya. Sebab kalau berat bebannya nambah tentu kemampuan terbang juga harus ditingkatkan,a�? pungkas pria yang bergabung dalam komunitas Rinjani Aeromodeling Club ini. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys