Ketik disini

Ekonomi Bisnis

Bisnis Baju Batik Semakin Kompetitif

Bagikan

MATARAM – Tidak sedikit pebisnis batik yang gulung tikar akibat persaingan bisnis yang kian kompetitif. Tapi tidak dengan toko batik Jogja di Jalan Dr. Sutomo nomor 14 A Rembiga, Kota Mataram. Toko tersebut beroperasi sejak 2003 dengan jumlah produk yang cukup banyak.

Pemilik toko batik Jogja, Pardamaian Nasution mengatakan, beragam cara dilakukan untuk meningkatkan omzetnya. Dia selalu mempelajari motif-motif terbaru dari batik dipadukan dengan motif yang sudah ada. Sejumlah produk batik yang dijualnya itu didatangkan langsung dari perajinnya baik di Jogja maupun dari Solo.

Menurut dia, perkembangan bisnis batik di Mataram terus meningkat. Apalagi kawasan itu strategis dan dikenal sebagai daerah bisnis kuliner dan oleh-oleh. Selama ini dia punya cara tersendiri untuk memasarkan produk batiknya.

“Salah satunya bekerja sama dengan biro perjalanan termasuk mengandalkan wisatawan,” ungkap Pardamaian kepada Lombok Post kemarin (24/1).

Batik dinilai diminati semua kalangan. Tidak sekadar masyarakat umum, batik juga diminati kalangan pebisnis, pelajar, bahkan wisatawan. Nasution mengaku sering mendapat pembeli dari wisatawan asing baik dari Eropa maupun Asia.

“Produk batik ini tidak mengenal musim dan kelompok masyarkaat tertentu sehingga selalu ramai,” ujarnya.

Begitu juga dengan harga batik yang dinilai sangat terjangkau semua kalangan. Dia menjual produk dari harga Rp 30 ribu hingga Rp 400 ribu. Beberapa produk seperti batik tulis yang terkenal pun ada di jual di toko ini. Hanya saja, untuk batik tulis harganya mahal dan dicari kalangan tertentu saja.
Dalam sebulan dia mampu menjual 30 sampai 50 batik. Tentu beragam jenis dan sesuai minat masing-masing konsumen. Dia juga melayani pemesanan dalam jumlah besar. Biasanya, pemesan batik dalam bentuk seragam dilakukan oleh instansi pemerintah maupun swasta.

“Kalau omzetnya saat ini ya bisa tembus Rp 1 juta per bulan. Tapi kalau ada yang beli batik sarimbit seharga Rp 400 ribu ya pendapatannya bisa lebih,” papar dia.

Nasution tidak terlalu risau dengan semakin banyaknya pebisnis batik. Apalagi saat ini banyak pebisnis yang memanfaatkan teknologi informasi atu menjalankan bisnis secara online. Perlahan-lahan dia juga terus mempelajari perkembangan bisnis di Pulau Lombok.

Sebelumnya dia pernah mencoba membuka toko batik di Lombok Tengah. Tapi tidak berlangsung lama lantaran peminat batik di daerah itu tidak seperti di Kota Mataram. Ke depan, dia akan menambah koleksi batiknya mengingat perkembangan bisnis batik.

Salah satu kendala yang dihadapi saat ini terkait permodalan. Meningkatnya biaya transportasi dan lainnya memengaruhi pola bisnisnya. Meski begitu, dia tetap bertahan dan menerapkan berbagai strategi untuk mengatasi persoalan itu. (tan/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka