Ketik disini

Metropolis

Diterjang 7 Menit, Rugi Rp 4 Juta

Bagikan

Tak banyak yang tahu hujan Senin (23/1) Sore kemarin, ternyata disertai angin puting beliung. Ada korban materi. Tapi, uniknya hanya satu rumah saja yang terkena dampak. Lalu Bagaimana ceritanya rumah lain bisa selamat?

***

DARI informasi brodcast yang diterima, nama gangnya Ramora. Namun sebenarnya adalah Remora. Sempat kesulitan juga mencari lokasi ini.

Nama gang tertulis di plat kecil dengan ukuran terlalu minimalis. Sekitar 30 centimeter (cm) kali 10 cm. Itu pun plat sempat terlipat. Hingga membuat tulisan makin tak jelas.

Kalau tidak ada sejumlah anggota Polda NTB yang keluar di waktu yang tepat, tentu lokasi itu bisa terlewat lagi. “Makanya saya bingung dari mana orang tahu?” kata Wiyoto tak habis fikir.

Ia sampai menyediakan beberapa gelas minuman botol dan buah-buahan. Hanya untuk melayani tamu yang silih berganti datang. Sekdar untuk bertanya, benarkah rumahnya diterjang puting beliung. Padahal ia dan istrinya merasa tidak pernah cerita pada siapa pun.

“Tahu-tahu malam ada datang dari tim BPBD. Lalu tadi ada bapak-bapak polisi, sekarang ada dari wartawan,” sambungnya heran.

Maka untuk kesekian kalinya, bercerita lagi peristiwa yang membuat ia sekeluarga panik bukan kepalang. Kejadiannya sekitar pukul 17.00 Wita. Diawali dari teriakan istrinya yang tergopoh-gopoh keluar dengan mukenah. Ia baru saja selesai salat Asar. “Dia (istrinya, Red) teriak-teriak pak gempa pak!” tuturnya.

Wiyoto yang masih di dalam kamar tidak percaya. Pasalnya, tidak ada getaran apapun yang dirasakan. Kecuali suara angin disertai hujan yang sangat berisik. Tetapi teriakan panik istrinya akhirnya membuat Wiyoto melompat keluar.

Sempat terbesit di pikirannya mencari anaknya yang masih berusia dua tahun. Tetapi kemudian, diurungkan karena putranya itu sepertinya sudah dalam dekapan sang istri. “Saya tanya ke istri, mana? Mana gempanya?” ujarnya.

Istrinya lalu menunjuk deretan atap kos-kosan milik mereka dari seng yang terangkat dan terhempas nyaring. Begitu juga beberapa pohon di sekitar rumah mereka meliuk-liuk bak ular cobra yang tengah melihat ujung trompet! Benar-benar menciutkan nyali. “Lama pak, ada mungkin sekitar 7 menit,” tuturnya.

Selama 7 menit itu, atap dan pohon di pekarangan rumahnya dihantam angin kencang. Mereka akhirnya sadar itu bukan gempa. Tetapi puting beliung yang disertai hujan deras.

Angin yang sangat kencang itu sempat membuatnya was-was. Ia sempat menduga yang tidak-tidak jika angin tak juga beranjak dari rumahnya.

Angin kencang sebenarnya terjadi cukup lama. Ia memperkirakan angin mengamuk sekitar 30 menit lamanya. Tetapi yang paling kencang dan menakutkan itu terjadi selama 7 menit. Lalu berangsur-angsur reda.

“Diam sudah (anginnya) selama 7 menit itu. Ndak bergerak kemana-mana. Ya ‘ngamuk’ di situ (menunjuk atas rumah dan pekarangan),” terangnya.

Ia juga sempat khawatir. Beberapa orang yang ngekos di tempatnya tak kunjung keluar kamar. Tetapi kemudian, merasa ada yang tidak beres dan suara seng yang sangat menakutkan, beberapa penghuni kos, akhirnya ikut berhamburan keluar kamar menyelamatkan diri.

“Ya tidak bisa apa-apa. Kami nonton dari sini (teras) dengan rasa was-was, sambil lihat seng dan pohon yang terus diterjang angin,” terangnya.

Tapi pada akhirnya puting beliung itu berlalu. Tahu-tahu, seng di empat lokal kos-kosan miliknya sudah rusak tak karuan. Seng terlipat, paku-paku tercabut.

Masih untungnya memang tidak ada korban jiwa. Mereka semua selamat. Tetapi kerugian materi sudah pasti diderita Wiyoto. “Ya sekitar Rp 4 juta,” prediksinya.

Wiyoto sempat keluar rumah. Lalu bertanya pada beberapa tetangga di kiri dan kanan rumahnya. Anehnya tidak ada satu pun yang terkena. Hanya rumahnya saja yang diamuk puting beliung. Ia pun mengaku sempat heran. Bagaimana mungkin itu terjadi.

“Padahal puting beliung jalan ya. Kalau ada bangunan yang menghalangi biasanya momentum gaya anginnya lenyap,” tuturnya.

Belum lagi bangunan pagar di sepanjang bibir pantai banyak menutupi. Rasa-rasanya sulit angin bisa sampai ke rumahnya, kecuali ada kondisi momentum angin yang datang dari laut, lalu dengan cara yang tidak disangka-sangka berpadu dan membentuk pusaran puting beliung.

“Bapak bisa lihat di luar tidak ada pohon, rumah atau apa pun yang patah atau terkena dampak. Hanya di sini saja, sepertinya,” yakinnya.

Sementara itu, saat coba dikontak, Kepala BPBD Kota Mataram Dedy Supriadi, tidak menjawab panggilan. Belum diketahui apakah BPBD peduli atau tidak mau tahu dengan persoalan ini. Begitu juga apakah ada bantuan materil bagi Wiyoto dan keluarga atas bencana puting beliung yang melanda rumahnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka