Ketik disini

Catatan Redaksi

Gila Tembakau Gorila

Bagikan

 

Menghisap tembakau Cap Gorila dari campuran tembakau, cengkeh dan ekor singa, memberi efek senang-senang. Banyak pelajar dan mahasiswa mencoba. Tak kecuali di Bumi Gora. Tak punya bau mencolok, membuat para penikmatnya nyaman mengonsumsinya, kendati di tengah keramaian. Efeknya yang lebih nendang ketimbang ganja, membuatnya diburu. Tapi, barang ini kini sudah diharamkan negara. Karenanya, baik kalau penikmatnya segera jera. Kecuali, Anda tak takut penjara.

***

BENAR-benar transaksi yang tak lazim. Bayangkan. Mencari barang haram, di depan masjid, selepas ibadah Salat Jumat pula.

Itu pekan lalu, kala koran ini hendak menelurusi keberadaan Tembakau Gorila, yang pekan sebelumnya dicap masuk Narkotika Golongan I oleh Kementerian Kesehatan.

Telah lama beredar kabar, bahwa tembakau yang bersaudara kandung dengan ganja itu, ada pula di Mataram. Dari cas cis cus banyak khalayak itu pula, koran ini penasaran, dan ingin membuktikannya.

Di terjang terik, tim Lombok Post nyanggong di depan sebuah masjid besar di bilangan Cakranegara. Tak lama berselang, beberapa pemuda sibuk mengatur parkir kendaraan jamaah yang usai Salat Jumat.

Pada pemuda yang mengatur parkir itu, iseng saja tim melontarkan sapa. Juga tanya. “Ada orang jual tembakau gorila di sini?” tanya koran ini pada pemuda tersebut.

Eh tak dinyana. Pemuda itu justru antusias. “Ada, tunggu sebentar ya. Saya atur kendaraan dulu,” katanya. Raut mukanya memang terlihat curiga. Namun, dia tak menghindar.

”Berapa uangmu itu?” tanyanya segera usai mengatur kendaraan.

”Saya hanya punya uang Rp 200 ribu ini.”

”Oke ayo ikuti saya.” Dia bergegas menuju sepeda motornya dan meminta dibuntuti.

Dia memutar kendaraannya ke arah utara masjid, melewati sebuah pasar, dua perempatan jalan lalu belok ke kiri. Kendaraan berhenti di depan salah satu SD negeri. Di situ dia memberi instruksi, agar menunggu.

Pada kami, pemuda itu tentu memperkenalkan diri. Menyebut nama pula. Sebut saja dia DR. Pemuda kurus itu kemudian berjalan ke arah sebuah gang yang kelewat sempit untuk dilalui kendaraan roda empat.

Di mulut gang itu, ada beberapa pemuda lain yang tengah asik ngobrol, dan pemuda yang membawa kami itu pun bertegur sapa dan bersalaman. Rupanya mereka saling mengenal.

Lima menit kemudian, dari gang kecil itu DR kembali. ”Tidak ada di rumah orangnya bos. Coba nanti sore,” kata dia meyakinkan.

Berulangkali didesak, dia tetap pagah. Orang yang punya barang lagi tidak di rumah.”Nanti sudah jam 4  ya. Saya juga mau pergi sekarang,” katanya. Dia taktis. Tak ingin bertele-tele.

Kepadanya kami memberi nomor telepon genggam. Minta dihubungi ketika tembakau gorila itu telah siap.”Nanti saya sms kalau jadi,” janjinya. Lalu dia ngacir.

Dan benar. Sekitar pukul 15.30 Wita, telepon genggam berbunyi. Tanda ada pesan singkat yang masuk. Yup. Tidak salah. DR yang mengirim pesan.”Nanti kita ketemu di depan SMA Kesuma ya,” begitu dia memberi instruksi.

Tanpa pikir panjang, tim koran ini bergegas. Menunggu 20 menit, DR pun nongol. Dia datang berdua. Bersama temannya dan mengenakan jaket hitam. Motor belum dimatikan, dia sudah menanyakan uang.

Kepada kami, keduanya memperlihatkan bungkusan yang di dalamnya terdapat tembakau. Barang itu diambil dari dalam saku kanan jaketnya. ”Ini tembakaunya. Segitu Rp 50 ribu,” katanya teman DR.

”Segini saja kamu pakai sudah berasa. Harga segitu cocok untuk digunakan bersama tiga orang,” terang rekan DR lagi.

Tembakau itu dibungkus plastik transparan. Sangat sedikit, untuk barang seharga Rp 50 ribu. Bukankah harga segitu kalau dibelikan beras bisa dapat lima kilogram?

Dengan uang Rp 200 ribu, kami pun mendapat empat bungkus kecil tembakau. Jujur, kami tak tahu apakah tembakau itu benar-benar cap gorila yang bikin penasaran dan kami buru-buru itu. Harap maklum, inilah pengalaman kami pertama. Dan kami pun pasrah. Kalau pun dibohongi, ya sudah.

Setelah DR dan temannya bergegas, kami sempat bengong di tempat. Menimbang-nimbang, apa yang akan kami lakukan pertama kali dengan empat bungkus kecil barang mahal tersebut. Butuh empat jam, sejak transaksi, baru kami membuka dan menjamahnya.

Langsung Nendang

Waktu menunjukkan pukul 20.00 Wita, kala tim Lombok Post duduk meriung, memerhatikan tembakau gorila tersebut. Warnanya dominan hitam. Sepintas mirip tembakau. Tapi yang ini dipotong agak kasar. Jangan dibayangkan kayak tembakau rajangan ya. Mirip pun tidak.

Kami mengajak tiga orang untuk mencoba barang yang kini mulai diharamkan aparat penegak hukum itu. Salah satunya adalah orang yang pernah mencoba barang ini tentu saja.

Kertas papir, yang biasa untuk melinting rokok telah kami siapkan pula. Teman yang telah punya pengalaman, tentu saja yang memulai. Dia memberi tahu kami, cara mencicip barang tersebut. Ngegors, begitu istilah yang tenar di kalangan para pemakai.

Dua kertas papir kami sambung. Lalu tembakau ini kami letakkan di tengah-tengah kertas papir tersebut. Kemudian proses melinting dilakukan hingga sempurna betul. Jujur, kami yang tak pernah degdegan bukan main. Beberapa kali tim saling tolah toleh. Tapi kami tak beranjak. Rasa penasaran telah membuat kami duduk terpaku.

Dan tiba saatnya yang paling mendebarkan. Korek api gas dinyalakan. Satu linting tembakau gorila itu kami nikmati bertiga. Bergiliran. Sama persis seperti orang merokok. Tapi, kami mengisapnya bergiliran. Berpindah dari satu mulut ke mulut yang lain.

Kawan yang punya pengalaman mengajarkan kami begini. “Hisap sambil memejamkan mata. Biarkan asapnya di sini,” katanya sembari menunjukkan tenggorokan. Tanpa membantah, kami mengikuti arahannya.

”Tahan agak lama di tenggorokan dan keluarkan lewat hidung,” katanya memberi instruksi lagi.

Pada hisapan pertama, masih tak terasa apa-apa. Kayak merokok biasa. Mendapati tiada efek itu, kami mulai diserang pikiran macam-macam. Jangan-jangan kami dibohongi. Barang itu bukan tembakau gorila.

Sampai kemudian tiba pada hisapan kedua. Deng! Entah dari mana datangnya. Pusing langsung mendera otak kanan. Dan 12 menit kemudian, di hisapan ketiga, yang dinanti pun datang.

Badan terasa lemas, kepala di seluruh bagiannya terasa pusing. Penglihatan sedikit memudar. Tiba-tiba tubuh terasa berat. Macam orang ditindih-tindih. Tapi nikmat. Beberapa bangunan pun mulai terasa miring. Tembok tempat bersandar pun terasa hendak jatuh.

Dan kami tidak ingat apa-apa. Rupanya kami tak sadarkan diri. Tiba-tiba saja, sudah pukul 23.00 Wita. Ketika terjaga, badan terasa lemas. Tapi pengaruh tembakau itu belum hilang. Aneka halusinasi mulai berdatangan. Macam-macam. Mirip seperti orang tengah berkhayal  yang enak-enak. Pokoknya, kami orang paling bahagia di seluruh dunia.

Nyaris semalam suntuk, mata tak bisa terpejam. Kantuk tak datang-datang. Hingga pukul 05.00 Wita, kami masih terjaga. Dan halusinasi itu tak kunjung pergi.

 Sudah Ada Lama

Di Mataram, tembakau gorila ini sudah ada semenjak dulu. Bahkan, di kalangan para pelajar, tembakau ini bukan barang asing.

Dulu, bahkan di lingkungan pendidikan, sebelum tembakau ini dinyatakan sebagai barang terlarang, para mahasiswa dengan bebas menikmatinya. Beramai-ramai pula. Ngefly dengan barang halal. Begitu istilah mereka. Efeknya lebih nendang dari ganja, tapi barangnya belum diharamkan negara.

Karena itu, manakala tembakau gorila ini mulai diharamkan dua pekan lalu dengan terbitnya Peraturan Menteri Kesehatan No 2/2017, banyak kalangan pelajar yang mencibir. Terutama mereka yang karib dengan barang ini.

Kepada kami, RS, 23 tahun, seorang pelajar asal Lombok Tengah mengaku sudah lebih dari setahun mengenal tembakau tersebut. Di rumahnya, dia bertutur, meskipun tidak rutin, ia mengaku kerap mendapat oleh-oleh tembakau gorila dari temannya yang tinggal di luar NTB. “Kalo beli lumayan mahal, belum ongkos kirim,” sebutnya.

Kala kami bertemu, dia mengeluarkan bungkusan kecil dari tas kecil yang dibawanya. Isinya tembakau cokelat kehitaman. Itulah tembakau gorila. Isinya tidak terlalu banyak. Bahkan tidak cukup untuk satu lintingan dengan ukuran 5 cm. Namun ia seperti tidak kehabisan akal.

Tangannya sibuk mengeluarkan berbagai barang dari tas kecil. Mulai dari rokok, korek api, dan barang barang pribadi. Hingga ia menemukan apa yang dicari cari. Kertas rokok (papir). Tidak seperti kertas rokok pada umumnya. Lebih tipis dan kecil.

Perlahan ditaburkan tembakau mahal itu ke kramik putih. Tangannya telaten. Tak sebijipun tembakau dibiarkan sia sia. Ditumpukkan di satu tempat untuk dicampur dengan 1/4 tembakau rokok biasa.

Dia mewanti-wanti. Tembakau gorila ini jangan dinikmati sembarang. Karena efeknya yang sangat kuat. Sehingga ia harus mencampurnya dengan tembakau biasa. Saking kerasnya, bahkan setelah dicampur pun, RS tidak mau menikmati barang itu sendirian. “Kalau sendiri saya nggak bisa bangun entar,” katanya.

RS kembali menunjukkan kelihaiannya. Setelah dicampur, tembakau tersebut ditaburkan di atas tiga papir yang disambung. Dilengkungkan agar tembakau tidak tumpah. Tangannya rapi menaburkan dari ujung dengan takaran sedikit hingga di bagian ujung yang lebih banyak tembakaunya. Dilit perlahan, dan digulung pelan di bagian ujung. Menjaga agar tembakau tidak tumpah. Melinting tembakau gorila ternyata tak semudah melinting tembakau rajangan biasa.

Lalu, berjalan ia menuju berugak kecil. Tiga orang sudah menunggu. Tidak semuanya pelajar. Salah satu orang memberikan kode yang disambut gelak tawa dan serapah candaan khas anak muda. “Nih dapet dari temen, sedikit tapi diseloin aja ya,” kata RS.

Duduk meriung, RS mulai beraksi. Setelah disulut, rokok tembakau gorila itu disodorkan pada teman dengan umur tertua. Katanya untuk penghormatan.

Satu orang menghisap dua sampai tiga kali sebelum berpindah tangan. Asapnya tidak langsung dikeluarkan. Bahkan, asap dari hisapan pertama masih ada yang tertahan saat hisapan ketiga dimulai. Bau asapnya tidak berbeda dengan tembakau pada umumnya. Obrolan masih sama hingga beberapa menit berjalan.

Pada putaran kedua, suasana menjadi hening. Mulut mulai mengerem. Dan di putaran ketiga, lingkaran yang tadinya rapi, mulai tercerai berai. Dua pemuda lainnya terlihat memilih diam di berugak. Salah satunya bermain telepon genggamnya sambil tidur menyamping.

Tapi tidak jelas melihat apa. Beberapa aplikasi seperti game, dibuka kemudian kembali keluar. Dan itu dilakukan berulang ulang. RS dan MH, temannya yang paling tua seperti kebingungan mau melakukan apa. “Ya Tuhan, diputer kepala saya ini,” kata MH sambil menjambak rambutnya.

Mendengar MH terus mengeluh, RS memilih diam sambil jongkok di salah satu pojok rumahnya. Beberapa kali RS mencoba beraktivitas, namun diurungkan dan kembali mencoba kegiatan lain. Wajah kebingungan terlihat dari wajah mereka hingga 40 menit berselang.

Ditemui keesokan harinya, MH mengaku baru pertama kali merasakan tembakau tersebut. Diakuinya efeknya memang tidak terlalu lama. Dia dibekap rasa takut. “Ternyata itu tergantung pembawaan kita katanya. Kalo mikir jelek ya takut. Kalo mikirnya bagus, menghayalnya yang enak,” timpal RS.

Campuran Tiga Tanaman

Kepala Dinas Kesehatan NTB Nurhandini Eka Dewi menjelaskan, tembakau gorila merupakan gabungan tiga jenis tanaman, yakni tembakau, cengkeh, dan tumbuhan ekor singa.

Tanaman ekor singa itu dikenal juga dengan nama Dangga liar (Leonotis Leonurus). Ini adalah tanaman semak besar perennial berdaun lebar milik famili mint (Lamiaceae). Tanaman ini asli Afrika Selatan, dan bisa mencapai tinggi 2-3 meter serta lebar 1,5 meter. Sensasi rileks dan menenangkan dirasakan ketika bunga tanaman ini dikonsumsi sebagai the. Sementara reaksi euforia terjadi ketika bunga dirokok. Suku-suku Afrika Selatan secara tradisional merokok bunga dan dau dagga liar untuk efek euforia nya.

Tembakau gorila sendiri kata Nurhandini sifatnya adiktif, kemudian dicampur dengan tumbuhan ekor singa, maka efeknya menjadi dahsyat. Tembakau ini diakui memang dipakai sebagai pengganti ganja.

Dari sisi kandungan, tembakau gorila mengandung senyawa kannabis, dimana kannabis merupakan senyawa yang berafiliasi ke ganja, atau punya efek mirip dengan ganja.

Menurutnya, tembakau gorila ini baru muncul  beberapa tahun terakhir. Belum terlalu lama. Hanya saja ada orang dari luar melihat ini sebagai peluang bisnis besar. Apalagi saat harga tembakau dan rokok naik, mereka masuk memasarkan kemudian tembakau ini menjadi pilihan.

”Di Kementerian Kesehatan kalau ada yang mengandung kannabis, itu termasuk yang tidak diizinkan,” katanya.

Namun begitu, Dinas Kesehatan selama ini tidak melakukan pengawasan. Pengawasan tembakau sendiri ada di Dinas Perdagangan, tapi setelah dinyatakan sebagai salah satu variasi narkoba, pengawasan kini oleh kepolisian dan BNN.

Untuk itu, ia menyarankan kepada masyarakat tidak lagi memakai tembakau gorila tersebut, karena dampaknya sangat berbahaya. Bahkan bisa mematikan. ”Jangan pernah mencoba, dia berbeda dengan tembakau lain,” katanya.

Karena harganya lumayan terjangkau, maka sebagian besar konsumennya adalah pelajar dan mahasiswa. Maka yang menjadi tantangan ke depan kata Nurhandini adalah pengawasan. Sebab, bentuknya sangat sulit dibedakan dengan tembakau pada umumnya. Apalagi ketika sudah dikemas, akan sangat sulit membedakan tembakau gorila dengan tembakau yang lain.

Sementara itu, Plt Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) NTB Ni GAN Suwarningsih mengatakan, tembakau gorila kini sudah masuk menjadi salah satu varian baru dari narkotika, sehingga pengawasannya sendiri ada di BNN. Sementara di BBPOM selama ini hanya mengawasi obat legal untuk kesehatan.

BBPOM Mataram sendiri belum bisa melakukan uji laboratorium terhadap tembakau gorila karena dia mengandung zat kimia AB-CHMINACA yang membutuhkan alat khusus. Kalaupun ada alatnya, yang berhak melakukan uji lab adalah BPOM pusat.

”Apapun itu saya sarankan masyarakat tidak usah mengkonsumsinya, konsumsi yang baik-baik saja,” sarannya.

Ia menjelaskan, secara umum tembakau gorila masuk dalam klasifikasi new psychoactive substances dengan nama AB- CHMINACA yang merupakan salah satu jenis synthetic cannabinoid (SC). Dan secara resmi sudah dilarang dengan terbitnya Permenkes No 2/2017 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika.

Kebanyakan SC yang beredara dikonsumsi dengan cara dirokok, kemudian SC akan diabsorbsi oleh paru-paru kemudian disebarkan ke organ lain terutama otak. Oleh karena itu, salah satu efeknya adalah orang yang mengkonsumsi akan terlihat bengong, tetapi di dalam dirinya terjadi sesuatu misalnya menjadi superman dan sebagainya. ”Pada intinya pengkonsumsi akan mengikuti apa yang dirasakan,” jelasnya.

Sedangkan efek samping dari penggunaan SC yaitu mulai dari gangguan psikiatri seperti psikosis, agitasi, agresi, cemas, ide-ide bunuh diri, gejala-gejala putus zat, bahkan sindorm ketergantungan. Di samping itu ditemukan pula beberapa kasus seperti stroke iskemik SC, hipertensi, nyeri dada, dan juga gagal ginjal.

 Polisi dan BNN Waspada

Jajaran kepolisian di NTB pun kini sudah mulai waspada. Cuma memang hingga kemarin, aparat kepolisian dan Badan Narkotika Nasional (BNN) NTB belum menemukan adanya indikasi peredaran tembakau gorilla di wilayah bumi gora.

Kapolda NTB Brigjen Pol Umar Septono mengatakan, pihaknya belum pernah mendapat adanya laporan masyarakat terkait aktivitas tembakau gorilla.

Hasil penyelidikan jajarannya di lapangan pun, tidak menunjukkan adanya peredaran narkotika jenis baru ini di masyarakat. Meski dalam skala nasional, tembakau cap gorilla telah beredar luas di wilayah Jawa dan Bali. ”Itu juga belum, pantauan kita juga belum ada,” ungkapnya.

Terlepas dari itu, lanjut Umar, pihaknya tetap memberi atensi terkait indikasi peredaran tembakau gorilla. Terutama sejak keluarnya Permenkes No 2/2017 yang mengatur 27 zat baru sebagai golongan narkotika. ”Saya perintahkan untuk di awasi, karena dampaknya sangat luar biasa,” kata jenderal bintang satu ini.

Karena masuk dalam Permenkes Nomor 2 Tahun 2017, di mana penggunanya kini bisa di pidana, Kapolda telah memerintahkan Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) bersama Kasatnarkoba di setiap polres untuk melakukan pemantauan. Mengecek apakah barang haram tersebut telah masuk di wilayah NTB.

Selain belum menemukan pengedar tembakau gorilla, kepolisian juga rupanya bingung dalam mendeteksi penggunanya. Kata Umar, meski telah masuk ke dalam golongan narkotika, untuk mengetahuinya tidak semudah mendeteksi seperti pengguna narkotika jenis sabu dan ganja.

Jika penyalahguna narkotika sabu dan ganja, kepolisian dapat mengetahuinya melalui tes urine. Namun tidak dengan tembakau gorilla. Ketika di tes urine, tidak akan terlihat apakah penggunanya telah menggunakan tembakau gorilla atau tidak.

Terlepas dari itu, Umar yakin jajarannya bisa melakukan deteksi awal penyalahguna tembakau gorilla melalui ciri-ciri fisik, dari efek penggunaannya. ”Dampak dari pemakaian itu pasti terlihat. Tapi kita masih diskusikan dulu formula yang tepat bagaimana pola pendeteksiannya,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) NTB Brigjen Pol Sukisto juga menyampaikan hal senada. Tim dari BNN NTB belum mendeteksi adanya peredaran tembakau gorilla di wilayah hukum NTB. ”Kalau sudah ada beredar, pasti kita tangkap,” kata Sukisto.

Begitu juga mengenai cara mengetahui penyalahguna tembakau gorilla. Hal ini diakui Sukisto masih sulit. Namun, dia meyakini efek yang ditimbulkan dari penggunaan tembakau gorilla tidak jauh berbeda dari ganja. Sehingga, secara fisik mudah diketahui petugas. ”Kurang lebih sama dengan ganja, jadi kita bisa lihat dari fisik penggunanya,” ujarnya.

Mengenai masuknya 27 zat sebagai golongan narkotika jenis baru, Sukisto mengaku masih menunggu instruksi dari BNN Pusat. Pembahasan untuk menindaklanjuti Permenkes Nomor 2/2017, baru akan dilakukan bulan depan. ”Tapi sejak ditetapkan, kita langsung memberi atensi terhadap 27 zat untuk kategori narkotika baru ini,” kata dia. (arl/van/ili/dit/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka