Ketik disini

Feature

Tubuh Penuh Luka, Ilham Pingsan, dan dari Anus Keluar Darah

Bagikan

Kematian Ilham Nur Padmi Listiadi, membawa duka mendalam bagi keluarga. Terlahir sebagai anak bungsu, pemuda asal Pringgesela, Lombok Timur itu, sungguh adalah permata keluarga. Tak sekalipun kedua orang tua pernah menyakiti fisiknya. Namun kini, takdir berkata lain. Ilham harus mati muda, dikala menimba ilmu di Universitas Islam Indonesia Jogjakarta. Kuat dugaan karena disiksa seniornya di organisasi pencinta alam.

***

TANGIS histeris terdengar dari jalan tak jauh dari rumah Syafaah, ibunda almarhum Ilham Nur Padmi Listiadi, 20 tahun. Ilham, mahasiswa Hukum Internasional Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta asal Pringgasela, Lombok Timur (Lotim),  meninggal setelah mengikuti pelatihan dasar pecinta alam Mapala Unisi di Lereng Selatan Gunung Lawu.

Syafaah masih belum bisa merelakan kepergian putra bungsunya yang menghembuskan napas terakhir Senin (23/1) sekitar pukul 01.00  dini hari di RS Bethesda Jogjakarta.

“Saya tidak terima anak saya disiksa dan diperlakukan seperti itu. Saya tidak pernah menyiksa anak saya, jangan siksa anak saya,” teriaknya menangis histeris di kediamannya di RW Rapi Gubuk Baret Desa Pringgasela.

Tangis itu nampak membuat mata Syafaah terlihat  membengkak. Ia berusaha ditenangkan oleh saudara dan anak-anaknya. Namun, tangis seperti sulit dihentikan. Kepada Lombok Post, Syafaah mengaku Ilham adalah anak pendiam, penurut dan tidak pernah mencari masalah dengan orang lain.

Ia senang bergaul, mencari banyak teman serta pengalaman. Untuk itu, ketika minta izin untuk mengikuti sejumlah organisasi di kampusnya, Syafaah mengaku mengiyakan. Mulai dari organisasi keagamaan, bahasa Inggris hingga Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala).

“Dia sempat minta izin ke saya. Saya kasih izin bahkan kasih uang untuk mendaftar di organisasi. Tapi ketika dia bilang mau ikut pelatihan di gunung, saya sempat melarang. Saya minta dia tidak ikut Mapala ini dan fokus kuliah saja,” tutur Syafaah terbata-bata.

Namun, Ilham yang merupakan alumni SMAN 2 Mataram tetap memaksa agar  diperbolehkan mengikuti kegiatan Mapala UII tersebut. “Dia hanya minta tolong didoakan,” cetusnya.

Pelatihan Dasar Mapala UII Jogjakarta ini dari penuturan Ilham kepada Lia Afni kakak pertama Ilham digelar 14-22 Januari lalu. Lokasi pelatihan dasar ini digelar di lereng selatan Gunung Lawu. “Dia pulang hari Minggu. Ketika menelpon kami, dia mengaku kondisinya baik-baik saja hanya ia merasa kelelahan,” ujar Lia.

Namun, sehari sepulangnya mengikuti pelatihan, Ilham tiba-tiba pingsan di kamar mandi. Oleh teman dan ibu kosnya, Senin (23/1) lalu sekitar pukul sekitar pukul 09.00 WIB, ia dilarikan ke Rumah Sakit Bethesda Jogjakarta. Setelah di rawat di rumah sakit, Ilham sempat sadarkan diri kemudian menelpon  ibunya.

“Katanya dia baik-baik saja, hanya kecapean. Tapi bapak langsung mau melihat kondisi Ilham dan berangkat ke Jogjakarta,” aku Lia.

Itu setelah teman Ilham mengirimkan kondisi tubuh Ilham yang penuh dengan luka. Bahkan dari keterangan dokter, dari anus Ilham keluar darah.

Dari penuturan teman Ilham, pihak keluarga mengetahui bahwa dalam pelatihan dasar Mapala Unisi ini, para anggota disiksa. Mereka ditendang di bagian perut bahkan dipukul dengan rotan. Ini menyebabkan sejumlah anggota mengalami luka memar.  Itu juga yang diduga dialami Ilham dari senironya di Mapala Unisi.  Pihak keluarga juga menunjukkan foto kondisi terakhir tubuh ilham yang penuh dengan luka yang dikirimkan temannya.

Benar saja, meski Ilham mengaku tidak apa-apa, keluarganya di Pringgasela semakin khawatir ketika malam sekitar pukul 21.00 Wita pihak medis di RS Bethesda meminta izin untuk membawa Ilham ke ruang ICU. Karena kondisi Ilham dikatakan sangat kritis.

Setelah dirawat beberapa jam di ruang ICU, Ilham akhirnya menutup mata untuk selamanya. Pihak keluarga yang ada di Pringgasela dihubungi oleh bibi Ilham yang ada di Magelang menemaninya di ruang perawatan sekitar pukul 00.58 Wita. “Ada bibinya di Magelang menemaninya di rumah sakit. Dia yang nelpon ngasih tau kalau Ilham sudah meninggal dunia,” aku Lia dengan nada terpukul.

Putra keempat H Syafii mantan Kepala BP4K Lotim itu  akhirnya pergi untuk selamanya. “Kami dari pihak keluarga sekarang hanya bisa berharap kasus ini bisa diusut tuntas. Apalagi ada dua orang lain yang meninggal selain Ilham. Harus ada efek jera bagi pelaku agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” ungkap Lia.

Diusut Tuntas

Sementara itu, Polres Karanganyar telah mengantongi bukti-bukti dugaan penganiayaan terhadap tiga mahasiswa pecinta alam (mapala) Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta yang tewas usai mengikuti pendidikan dasar (diksar) The Great Camping (TGC) di Tlogodringo, Gondosuli, Tawangmangu.

Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak menjelaskan, tim Satreskrim masih mendalami penyebab kematian yang semula diduga akibat hipotermia atau kedinginan. Penyidik sudah meminta keterangan saksi sejak Senin (23/1). Saksi pertama yang diperiksa adalah keluarga para mahasiswa.

Berlanjut, Selasa (24/11) dengan meminta keterangan 11 saksi dari anggota Mapala UII Jogjakarta lainnya. ”Kami juga memeriksa pihak mapala di Kampus UII,” jelas Ade kemarin.

Polres Karanganyar juga menyita sejumlah barang bukti. Namun, Ade belum bersedia membeberkan barang bukti yang dimaksud. “Belum dapat kami sampaikan karena masih dalam penyelidikan. Kami juga sudah menggelar olah tempat kejadian perkara. Ada beberapa alat bukti yang diamankan di sana. Semoga nantinya alat bukti bisa bertambah untuk mengungkap penyebab kematian korban,” beber kapolres.

Terpisah, Bupati Karanganyar Juliyatmono meminta setiap pengunjung yang akan mengadakan kegiatan di wilayahnya berkoordinasi dengan aparat setempat. Mulai dari kepala desa, camat, hingga forum koordinasi pimpinan kecamatan. Pengurusan izin sangat penting karena tidak sedikit warga luar daerah yang belum mengenal kondisi geografis Karanganyar.

Dia juga menekankan agar aparat tidak mudah mengeluarkan izin. ”Jadi jenis-jenis kegiatan harus dilampirkan dalam izin itu. Sehingga pemerintah bisa memantau. Jangan hanya sekadar kulonuwun saja, tapi harus jelas kegiatannya,” tegas bupati.

Menurut Juliyatmono, selama ini, wilayah Karanganyar, terutama di lereng Gunung Lawu kerap dijadikan jujukan kegiatan indoor maupun outdoor. Seperti pelatihan dasar, kamping maupun rapat.

”Ke depan akan kita rumuskan agar semua yang datang ke Karanganyar menyampaikan kegiatannya ke pemerintah,” tandasnya.

Terpisah, Kapolsek Tawangmangu  AKP M. Rianto menegaskan, untuk sementara, jalur pendakian hutan Tlogodringo, Gondosuli, Tawangmangu ditutup hingga batas waktu yang belum ditentukan. Ini guna mempermudah proses penyelidikan penyebab kematian tiga mahasiswa UII.

“Beberapa area sudah kami pasang garis polisi. Area tersebut tidak bisa dipakai para pecinta alam seperti biasanya,” tandasnya mewakili Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak.

Selain itu, polisi meminta juga memberikan sosialisasi kepada anggota mapala lainnya agar menunda aktivitasnya di kawasan Tlogodringo.

Informasi yang dihimpun koran ini, sebanyak 37 anggota Mapala UII Jogjakarta tiba di kawasan Tlogodringo pada Jumat (13/1). Mereka menginap selama sepekan di rumah milik Joko Suratin yang sekaligus dijadikan basce camp induk.

Diterangkan Joko, mulai hari pertama kegiatan sampai hari ketujuh Jumat (20/1), cuaca di lokasi diksar cukup ekstrem. Hampir tidak ada sinar matahari karena tertutup mendung ditambah hujan lebat.

“Pulangnya ya setelah kejadian ada peserta yang harus dilarikan ke puskesmas. Setelah kejadian itu, ngga lama semua (anggota mapala UII, Red) ditarik turun,” terang Joko.

Dia menilai, rute yang dilalui anggota mapala UII selama diksar tidak terlalu berat. Namun jika fisik kurang fit, hal tersebut dapat menjadi ancaman karena cuaca cukup ekstrem.

Selama diksar, beragam kegiatan dilakukan anggota mapala UII. Sepengetahuan Joko, mereka menyusuri rute yang berjarak sekitar 5 kilometer dari base camp induk. Yakni berjalan ke arah selatan Desa Tlogodringo, menuju hutan Pranten, kemudian ke Mrutu, dilanjutkan ke kawasan mata air Nguncup. Kegiatan berakhir dengan latihan panjat tebing di kawasan Watulumbung.

Lebih lanjut diungkapkan Joko, pada hari ketiga diksar, Senin (16/1), sempat ada seorang mapala UII yang dievakuasi ke base camp induk dalam keadaan sakit dan mendapat penanganan dari panitia diksar. “Selang sehari, peserta itu kembali masuk hutan untuk mengikuti kegiatan,” beber dia.

Sebagai pemilik rumah yang dijadikan base camp induk, Joko turut menyediakan dan memfasilitasi kebutuhan mapala UII. “Saat ada yang sakit, ya kami sediakan air hangat, pakaian kering dan lainnya. Buat saya mereka sudah seperti saudara,” jelas Joko.

Apakah melihat ada tindak kekerasan? Dia menggelengkan kepala. “Tapi saya juga tak bisa memastikan. Yang saya tahu kalau luka lecet, tergores, kuku lepas, itu hal yang biasa di pelatihan diksar pecinta alam,” tutur Joko.

Disodori pertanyaan yang sama, Kapolsek Tawangmangu AKP M Rianto memilih irit bicara. “Yang jelas kami masih menunggu hasil otopsi oleh rumah sakit  Sardjito Jogjakarta. Kita tidak bisa menduga-duga. Tunggu saja hasil otopsinya nanti,” urainya. (HAMDANI WATONI, Lombok Timur/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka