Ketik disini

Kriminal

Tangis Keluarga Iringi Pemakaman Ilham

Bagikan

SELONGA�– Jenazah Ilham Nur Padmi Listiadi kemarin (25/1) tiba di kediamannya Gubuk Baret Desa Pringgasela, Lombok Timur, sekitar pukul 09.30 Wita. Jenazah putra bungsu pasangan H Syafii dan Syafaah ini kemudian dimakamkan sekitar pukul 13.00 Wita di pemakaman setempat. Isak tangis mengiringi jasad Ilham ke peristirahatan terakhir.

Dari penuturan H Syafii yang sempat melihat kondisi Ilham di rumah sakit, sekujur tubuh anaknya dipenuhi luka-luka memar yang mengeluarkan darah.

a�?Saya tiba di rumah sakit Ilham sudah meninggal. Saya lihat tangannya seperti bekas dipukul dengan benda keras. Banyak sekali bekas luka. Kemudian di kepala, perut, dada dan yang lainnya memar mengeluarkan darah. Dari duburnya juga terus keluar darah,a�? tutur H Syafii mencoba tegar.

Saat pemakaman berlangsung ibu Ilham, Syafaah terlihat tak kuasa menahan kesedihan. Ia sempat terjatuh saat melihat ketika jenazah anaknya ditandu menuju pemakaman. Sama seperti istrinya, H Syafii mengaku juga merasa terpukul. Namun, ia berusaha tegar dan menerima jalan takdir putra keempatnya tersebut meninggal di usia muda.

a�?Semua kita akan kembali pada Allah. Saya yakin anak ini meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Karena dia sedang menimba ilmu di sana (Universitas Islam Indonesia Jogjakarta),a�? ungkapnya.

Apalagi, sebelum meninggal diceritakan H Syafii Ilham memiliki kesibukan yang positif. Mulai dari kursus Bahasa Inggris, hingga kursus mengaji dilakukan Ilham beberapa bulan sebelum ia meninggal. Sehingga, Syafii merasa ikhlas anaknya dipanggil lebih awal meski ia merasa berduka.

A�a�?Kalau di sana saat di rumah sakit Bethesda saya sebenarnya sudah tegar. Tapi nggak tahu kenapa saat tiba di rumah melihat situasi seperti ini saya merasa berbeda,a�? ucapnya menahan air matanya.

Diungkapkan H Syafii, ia memiliki firasat buruk sejak pertama kali Ilham memberitahu dirinya bahwa ia akan mengikuti kegiatan pelatihan dasar Mapala UII di lereng selatan Gunung Lawu. Itu ketika mahasiswa semester IV Hukum International menjelaskan untuk beberapa hari ia tidak bisa dihubungi. Karena panitia melarang para peserta pelatihan dasar untuk membawa telepon genggam.

a�?Dari sana saya mulai khawatir. Saya punya firasat anak saya akan digojlok dan disiksa oleh senior Mapala di Gunung Lawu. Saya juga khawatir karena cuacanya buruk di sana,a�? katanya.

Makanya selama dia pelatihan, setiap tengah malam dirinya mengaku bangun berdoa agar buah hatinya baik-baik saja. Namun, nampaknya Tuhan berkehendak lain.

Kini, pihak keluarga hanya berharap aparat penegak hukum bisa mengusut tuntas kasus pelatihan dasar anggota Mapala UII yang telah menyebabkan tiga orang meninggal. H Syafii mengaku telah berkoordinasi dengan pihak universitas meminta agar kasus ini segera diselesaikan.

a�?Saya sudah bekomunikasi dengan Pak Rektor. Beliau berjani mengusut tuntas secara internal dengan segera siapa saja yang terlibat dalam kasus ini. Mereka juga berkoordinasi dengan Polda setempat,a�? ucapnya.

Sementara kakak pertama Ilham, Lia Afni meminta para pelaku dijerat dengan hukum yang tegas. Sehingga memberikan efek jera agar kasus perploncoan dan penyiksaan tidak terulang kembali dan memakan korban. a�?Jangan sampai hal seperti ini juga terjadi di organisasi lain. Hukuman harus memberi efek jera agar tidak muncul pelaku-pelaku baru lagi,a�? pintanya.

Wajib Tanggung Jawab

Secara terpisah, Wakil Gubernur NTB H Muhammad Amin juga ikut berang menyusul kematian Ilham. Orang nomor dua di NTB ini menuntut pertanggungjawaban rektor Universitas Islam Indonesia (UII) atas meninggalnya Ilham.

a�?Kita minta pertanggungjawaban dari kampusnya, rektor UII dalam hal ini wajib bertanggung jawab,a�? kata Wagub, kemarin (25/1). Duka keluarga Ilham, kata Wagub, adalah duka dirinya pula.

Ia mengaku sangat menyayangkan masih saja ada tindak kekerasan dalam dunia pendidikan. Apalagi sampai menghilangkan nyawa manusia. Ia mengaku tidak habis pikir dengan apa yang terjadi di dunia pendidikan saat ini, begitu mudah nyawa generasi muda melayang atas nama senioritas.

Menurutnya, mencintai alam harus juga diimbangi dengan mencintai manusia. Sehingga mereka tidak berbuat kasar terhadap sesama manusia ciptaan Allah SWT. Seorang intelektual sangat tidak pantas melakukan perbuatan yang menyebabkan nyawa manusia melayang.A� a�?Dia (mahasiswa) pencita alam, tapi kok masih terjadi hal seperti ini,a�? kata Wagub.

Perguruan tinggi juga mestinya menjadi lembaga untuk memanusiakan manusia, bukan tempat pembantaian. Baginya, peristiwa ini telah meninggalkan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan, serta mencoreng institusi pendidikan. a�?Kekerasan semacam ini harus dihentikan, tidak perlu lagi generasi muda menjadi korban,a�? tegasnya.

Wagub meminta pihak kepolisian mengusut tuntas kasus ini. Mereka yang terlibat harus diberikan hukuman yang setimpal. Dalam hal ini, hukum harus memberikan rasa adil bagi keluarga. Sebab, mereka telah menghilangkan nyawa manusia. Oknum-oknum yang terlibat wajib dihukum.a�?Oknum inilah yang harus dicopot,a�? katanya.

Dengan banyaknya kasus serupa, Wagub meminta kepada pemerintah mengambil kebijakan dengan melarang kegiatan ekstrakulikuler melakukan perpeloncoan. Sudah tidak zamannya lagi perpeloncoan dilakukan di dunia pendidikan. Sebaiknya, pengenalam kampus dilakukan dengan cara wajar dan mendidik, tanpa ada kekerasan. a�?Perpeloncoan apalah namanya harus dihapus,a�? tegas Amin. (ton/ili/r2/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka