Ketik disini

Metropolis

Imlek, Momen Memperkokoh Persatuan

Bagikan

MATARAM – Besok, Warga Tionghoa akan merayakan Tahun Baru Imlek 2568. Perayaan tahun baru tersebut, dihajatkan menjadi tonggak memperkokoh persatuan di NTB.

Ketua Harian Paguyuban Sosial Marga Tionghoa (PSMTI) NTB The Sian Yung mengatakan, warga Tionghoa di NTB tak ingin semangat kebhinekaan di NTB luntur. a�?Ini harus kita rawat bersama,a�? kata pria yang akrab disapa Buyung itu kepada Lombok Post, kemarin (26/1).

Warga Tiongkok di NTB juga ingin menjadi bagian yang tetap menyokong NTB aman dan damai.a�?Kita jaga daerah kita bersama dari sesuatu yang merusak persatuan ini,a�? katanya.

Karena itu, momen Tahun Baru Imlek ini, adalah momen mempererat silatirahmi. Dan PSMTI merangkumnya dengan menyiapkan event silaturrahmi Parade Budaya. Perayaan itu dilaksanakan bersama seluruh masyarakat NTB.A� a�?Kita bersama-sama bersuka cita dalam perayaan imlek,a�? imbuhnya.

Dia mengatakan, perayaan imlek bukan semata-mata perayaan keagamaan. Melainkan, tradisi budaya. Dengan demikian, perayaan imlek bisa dinikmati oleh semua suku di NTB.

Perayaan itu dirangkai dengan berbagai kegiatan. Dari kegiatan sosial, atraksi kesenian, hingga pelaksanaan berbagai macam lomba. a�?Kalau kegiatan sosial sudah kita laksanakan 22 Januari lalu,a�? jelasnya.

Rencananya, rangkaian kegiatan itu akan dilaksanakan hingga 11 Februari. Pada 9 Februari akan diadakan parade budaya nusantara. Dimulai dari depan Mataram Mall hingga perempatan Cakranegara.

Sementara pada 10 dan 11 Februari akan diadakan pentas atraksi kesenian, pameran kaligrafi Tionghoa, lomba fotografi, dan kuliner. a�?Event dipusatkan di Lombok City Center,a�? jelasnya.

Pada acara puncak nanti akan mempertunjukkan atraksi kesenian yang langsung didatangkan dari Tiongkok.

Di NTB sendiri, peran warga Tinghoa tidak hanya dalam bidang ekonomi, tapi mereka juga memberikan sumbangsih di berbagai bidang lain, termasuk sosial keagamaan.

Seperti yang ditunjukkanA� seorang mualaf keturunan Tionghoa, Ang Thian Kok alias H Muhammad Maliki bersama istrinya Tee Mai Fung alias Hj Siti Maryam.

Mereka membangun sebuah musala dengan arsitektur khas Tiongkok di Dusun Jurang Malang, Desa Sesaot, Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Berbeda dengan musala pada umumnya, bangunan yang berdiri di atas bukit itu didominasi warna merah, kubahnya pun khas Tiongkok sehingga banyak yang mengira musala itu sebuah vihara.

Keunikannya ini membuat musala yang dibangun 17 Maret tahun 2010 ini banyak dikunjungi. Tidak hanya warga muslim, warga non muslim juga banyak yang penasaran dan berkunjung ke musala ini.

Munawar, salah seorang warga mengatakan, musala yang dibangun Muhammad Maliki ini diperuntukkan bagi masyarakat umum untuk beribadah. Selain untuk salat lima waktu, lokasi ini kerap dijadikan tempat pengajian dan pernah dijadikan taman pendidikan oleh lembaga PAUD Al Furqon selama tiga tahun. Tapi seiring waktu, musala ini banyak mengundang perhatian warga dari luar, sehingga kerap dikunjungi wisatawan.

Ahyar Rosidi, pengelola PUAD Al Furqon mengaku merasa terbantu dengan adanya musala ini, sebab sebelum memiliki lahan sendiri, PAUD bindaanya menggunakan musala itu selama tiga tahun. Menurutnya, meski dari etnis Tionghoa namun Muhammad Maliki sangat baik terhadap warga sekitar.

Ia bahkan dikenal sebagai orang yang dermawan. Ia bahkan memberikan satu ekor kambing bagi warga yang melaksanakan akad nikah di musala tersebut. a�?Jadi tujuannya warga berusaha menggunakan tempat ini sebagai tempat ibadah,a�? katanya.

Menurut Ahyar, musala ini sekaligus menjadi simbol kerukunan dan toleransi, meski berasitektur Tiongkok warga sangat terbuka. Bahkan warga merasa sangat bangga dengan keberadaan musala yang diberi nama Ridwan, malaikat penjaga surga.

Sejak awal tidak ada warga yang menentang atau menolak. A�a�?Ini melambangkan bahwa Islam tidak hanya di Lombok saja, tetapi juga di China,a�? katanya.

Baginya banyak pelajaran yang diambil dari keberadaan musala ini. Apalagi saat ini isu disharmonis antar kelompok masyarakat menjadi ancaman serius bagi persatuan bangsa. (arl/ili/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka