Ketik disini

Selong

Desa Adat Limbungan Belum “Menjual”

Bagikan

SELONG – Dinas Pariwisata Lombok Timur (Lotim) terus membanggakan rumah adat yang ada di Dusun Limbungan sebagai destinasi wisata andalan. Sayang, hingga saat ini belum ada daya tarik dari desa adat ini yang mampu memikat para wisatawan datang. Keberadaan rumah adat saja belum mampu menarik para wisatawan untuk datang. Tak ada kesenian atau hasil kerajinan karena sebagian besar penghuni rumah adat ini merupakan para petani.

A�”Kami di sini cuma petani pak, ya kerjaannya di sawah. Nggak ada kegiatan lain selain bertani,” tutur Amirudin, salah seorang warga Limbungan ditemui Lombok Post, akhir pekan lalu.

Desa adat Limbungan dari tampilan memang terlihat alami. Rumah tradisional Sasak masih dipertahankan. Pemerintah pun pernah memermak kawasan itu.

Pantauan Lombok Post, ketika difoto oleh pengunjung, warga kelihatan takut. Mereka bergegas menghindar. Mereka belum siap dan belum paham kalau desanya merupakan tujuan wisata yang nantinya bakal dikunjungi banyak orang.

Selain itu, tak ada aktivitas dilakukan para penghuni. Sejumlah ibu rumah tangga hanya duduk mengibrol berbincang dengan ibu rumah tangga lainnya sambil mencari kutu. Tak ada kesan jika kampung ini menjadi destinasi pariwisata.

“Nggak ada kerjaan bapak. Ya cuma begini aja nunggu hasil panen. Suami pergi ke sawah,” tutur Radmah, salah seorang pemilik rumah adat Limbungan.

Kondisi ini tentu jauh berbeda jika dibandigkan dengan Desa Adat di Sade, Kabupaten Lombok Tengah. Dimana para wisatawan disuguhkan dengan sejumlah kerajinan yang memiliki nilai ekonomi. Misalnya hasil kerajinan tenun, kesenian daerah dan kesiapan para masyarakat menyambut wisatawan. Di Limbungan, warga belum siap.

“Masyarakat kami di sini memang pengetahuannya terbatas. Rata-rata semua petani, dan mereka tidak punya skill atau kemampuan lain,” ujar Kepala Dusun Limbungan Ridwan.

Dia berharap Dinas Pariwisata memberikan pelatihan dan pembinaan. Agar mereka memiliki kemampuan untuk mendukungA� Limbungan bisa benar-benar sebagai destinasi wisata. Karena saat ini keterbatasan pengetahuan dan wawasan warga membuat mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

“Hanya beberapa orang saja yang bisa nyesek (menenun). Makanya kami berharap ada pelatihan yang bisa mendorong warga menghasilkan sesuatu yang bisa dibawa pulang wisatawan sebagai cenderamata,” harapnya.

Rumah adat di Dusun Limbungan diwacanakan menjadi ikon pariwisata Lotim oleh Dinas Pariwisata. Letaknya yang strategis di atas pegunungan dengan menawarkan pemandangan panorama laut dinilai menjadi daya tariknya. Sayang hingga saat ini, tak banyak wisatawan yang datang ke lokasi ini. Saat ini ada sekitar 360 kepala keluarga di dusun ini. Hampir semua penghuninya bekerja sebagai petani dan peternak.

Dinas Pariwisata merencanakan rumah adat ini akan dijadikan tempat wisata penginapan alami. Dimana sejumlah rumah akan disewakan untuk tempat penginapan bagi para wisatawan yang ingin merasakan sensasi tinggal di desa adat yang masih kental dengan nuansa tradisional. (ton/r4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka