Ketik disini

Headline Sumbawa

Jumadin Menderita Gizi Buruk

Bagikan

SUMBAWAA�– Malang menimpa Jumadin,9 tahun, warga Dusun Satema, Pulau Moyo. Anak pasangan Ahmad dan Murniati ini hanya bisa berbaring lemah. Badannya sangat kurus, bahkan beratnya hanya 5,3 kilogram (Kg). Bocah malang ini menderita gizi buruk.

Saat ditemui Radar Sumbawa A�(Lombok Post Group) di kediaman keluarganya di Desa Labuhan Sumbawa, Jumadin tidak bisa bergerak bebas dan tidak dapat berbicara. Dia terlihat lemah dan digendong oleh ibunya. Menurut pengakuan ibunya, Murniati, Jumadin berusia lima tahun. Kondisinya seperti itu sejak Jumadin berusia delapan bulan.

Tidak lama, tim dari Dinas Kesehatan Sumbawa turun untuk menemui Jumadin. Tim yang dipimpin Kasi Kesehatan Keluarga Hj Ummi Kalsum kemudian melakukan pengecekan terhadap kondisi Jumadin. Pengecekan dilakukan mulai dari mewawancarai ibu Jumadin, hingga mengecek kondisi fisiknya. Untuk pemeriksaan lengkap, Jumadin kemudian dibawa ke Puskesmas Labuhan Badas untuk diperiksa.

Di puskesmas, ada kejanggalan yang ditemukan. Ternyata, Jumadin sudah berusia sembilan tahun. Hal ini diketahui berdasarkan keterangan bidan yang bertugas di wilayah tersebut. Kondisi Jumadin kali pertama ditemukan pada 2014 lalu. Saat itu, Jumadin berusia enam tahun. Bahkan, sudah sempat dilaporkan ke Puskesmas Labuhan Badas.

Petugas kesehatan juga sudah sempat memberikan penanganan kepada Jumadin. Hasilnya, Jumadin sempat bisa duduk dan berdiri. Namun, entah kenapa kondisi Jumadin sekarang semakin menurun. Bahkan kondisi fisiknya juga semakin mengecil. Untuk penanganan selanjutnya, Jumadin kemudian dilarikan ke RSUD Sumbawa.

Kabid Bina Kesehatan Masyarakat Dikes Sumbawa dr. Nita Ariani yang dikonfirmasi mengatakan, bahwa kasus Jumadin ini kasus lama. Saat ketemu kasus ini pada 2014 lalu, Jumadin berusia enam tahun. Saat itu Jumadin sempat diberikan penanganan dan distimulasi. Namun karena lokasi yang jauh, saat dipantau oleh petugas, ibu Jumadin tidak pernah kelihatan.

”Mulai dari hamil ibu ini tidak pernah kelihatan. Sampai muncul kasus ini,” ujarnya kepada wartawan.

Dituturkan, ibu Jumadin bersikeras bahwa anaknya tidak menderita apa-apa. Saat petugasnya kali pertama bertemu Jumadin, anak tersebut bisa diajak berinteraksi. Walapupun tidak terlalu responsif, Jumadin masih bisa merespons. Petugas juga heran kondisi Jumadin jauh merosot dari penanganan awal.

Pihak puskesmas sudah memberikan penanganan berupa pemberian formula. Karena lokasinya jauh, petugas memberikan formula kering. Nantinya formula ini dilarutkan oleh ibunya dan diberikan kepada Jumadin. Petugas juga sudah mengajarkan orang tua Jumadin untuk melarutkan formula tersebut. Ternyata, formula tersebut tidak habis diberikan oleh ibunya. Menurut petugas di lapangan, Jumadin ternyata dirawat oleh neneknya.

Menurutnya, diduga ada pembiaran dari orang tuanya. Dia juga mengakui ada kelemahan, mengingat lokasi tempat tinggal Jumadin sangat jauh. Untuk penanganannya, juga harus dilakukan oleh ahli gizi. Jumadin juga sudah sempat dirujuk, namun hanya sampai puskesmas. Setelah diminta lanjut, namun orang tuanya tidak mau lagi.

Ketika ditangani di RSUD, ibu Jumadin sempat memaksa untuk pulang. Akhirnya, pihaknya mencoba untuk membujuk ibu Jumadin, agar anaknya bisa dirawat di RSUD Sumbawa. Minimal perawatan terhadap Jumadin bisa dilakukan hingga hari Senin agar formula yang diberikan bisa diserap oleh tubuh Jumadin.

Dia menduga pihak keluarga yang tidak kooperatif adalah salah satu penyebab lambatnya penanganan terhadap Jumadin. Pihaknya juga sangat menyayangkan adanya sikap keluarga yang seperti itu.

Terkait penanganan selanjutnya, Jumadin sedang dalam pemeriksaan intensif. Dia juga akan menemui langsung petugas lapangan untuk menanyakan kronologis lengkap terkait Jumadin. Jangan sampai ada kelainan bawaan dalam tubuh Jumadin.

”Karenanya kami upayakan Jumadin untuk rawat inap. Karena ini satu-satunya jalan bagi kami untuk memantau perkembangannya,” pungkas Nita. (run/r4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka