Ketik disini

Headline Praya

Pengunjung RSUD Akan Dibatasi

Bagikan

PRAYAA�– Jumlah pengunjung di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya, Lombok Tengah (Loteng), akan dibatasi. Pihak rumah sakit menetapkan, satu pasien hanya boleh dikunjungi maksimal dua orang. Pengunjung juga wajib menggunakan kartu yang disiapkan.

Jika melanggar, pihak rumah sakit akan bertindak tegas. Langkah itu untuk menghilangkan potret kumuh dan kotor rumah sakit milik pemerintah tersebut.

“Insya Allah, kebijakan itu akan kita terapkan mulai awal Februari mendatang. Mohon dukungan semua pihak,” kata Direktur RSUD Praya Muzakir Langkir, Sabtu (28/1).

Diakui Langkir, selama ini RSUD Praya terkesan jorok. Namun, bukan karena sampah yang berserakan di mana-mana atau limbah rumah sakit yang mengalami kebocoran. Namun, murni jumlah pengunjung yang melebihi kapasitas gedung RSUD, bahkan ruang pelayanan kesehatan. Yang dibawa ke rumah sakit satu orang, namun yang mengantar puluhan orang. “Begitulah kondisinya,” keluh mantan kepala Puskesmas Praya itu.

Para pengunjung, kata Langkir, biasanya duduk di emperanA� dan akses jalan pelayanan kesehatan, bahkan sampai bermalam. Rata-rata mereka membawa perbekalan tidur, makan dan minum dari rumah. Terkadang, sampah pun dibuang sembarangan.

Pihak rumah sakit sudah berkali-kali melarang, namun para pengunjung malah melawan. Satu-satunya cara, manajemen rumah sakit akan menerapkan kartu kunjungan. Sehingga siapa pun yang berkunjung, wajib mengantongi kartu yang sudah disiapkan rumah sakit. “Untuk kartu pengunjung kami sudah cetak 500 dan kartu tamu ada 50,” sebutnya.

Kartu itu akan diberikan kepada pengunjung saat mereka memasuki area parkir rumah sakit. Untuk memudahkan proses pengawasan, pintu keluar masuk rumah sakit akan dikurangi menjadi dua. Yang lain akan ditutup secara permanen. Dua pintu itu, akan dijaga security rumah sakit dibantu personel Satpol PP.

“Kami juga sudah meminta bantuan TNI/Polri, melalui penandatanganan kerja sama dengan Babinsa dan Babinkamtibmas. Kedepan, merekalah yang akan membina kamtibmas di rumah sakit,” ujar Langkir.

Dengan begitu, kondisi rumah sakit diharapkan lebih tertib, rapi, indah, dan bersih. Pelayanan kesehatan pun akan meningkat, paling tidak menyamakan atau melebihi pelayanan kesehatan di seluruh rumah sakit di Kota Mataram. “Saya yakin, kebijakan ini akan menuai pro dan kontra. Tapi, kalau tidak sekarang kita terapkan, kapan kita majunya,” kata Langkir.

Namun, kebijakan RSUD tersebut ditentang kalangan dewan. Anggota Komisi IV DPRD Loteng Ahmad Supli mengatakan, belum saatnya rumah sakit pemerintah tersebut, menerapkan pembatasan jumlah pengunjung. Alasannya, kondisi sosiologis masyarakat Gumi Tatas Tuhu Trasna belum siap. “Jangan larang orang datang membesuk atau mengantar keluarganya yang sakit. Itu tidak boleh,” tegasnya.

Sebaiknya, saran Supli yang perlu dibenahi adalah sistem pelayanan kesehatannya. Para tenaga medis wajib memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada seluruh pasien. Tidak boleh membedakan pasien miskin dan kaya, harus senyum, sapa dan santun. “Karena, kita datang ke rumah sakit itu, untuk mencari sehat. Bukan sebaliknya, bertambah sakit,” kata Supli.

Politisi PKS itu pun berharap, pelayanan kesehatan di RSUD Praya, paling tidak menyamakan pelayanan kesehatan seperti di RSUD Kota Mataram. Menambah fasilitas, sarana dan prasarana alat kesehatan serta obat-obatan. Lagi-lagi, bukan membatasi pengunjung. Itu tidak benar karena melanggar hak asasi manusia.

“Kalau pihak rumah sakit sudah mencetak kartu pengunjung dan tamu, maka pertanyaan saya dari mana anggaran pengadaannya itu. Jangan main-main,” tegas Supli.(dss/r1)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka