Ketik disini

Sudut Pandang

Habib Rizieq: Antara Benci dan Rindu

Bagikan

AKHIR – akhir ini acap kali terdengar dan tersaksikan beberapa aksi dengan tema penolakan terhadap tokoh tertentu oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan berbagai aliansi atau apapun sebutannya.

Aksi tersebut diikuti oleh pemberitaan di media massa mainstream, dan tidak ketinggalan fenomena yang sama dalam waktu sekejap viral di media sosial. Diskusi di beberapa forum online pun tidak pernah sepi, sehingga pro dan kontra tentang gerakan tersebut terus meramaikan diskusi dunia maya.

Polemik tentang kehadiran Habib Rizieq Shihab (HRS) di satu daerah misalnya, menjadi diskusi yang tak berkesudahan dari para netizen. Banyak perspektif yang bisa digunakan untuk membaca dan memotret persoalan tersebut agar tidak bias dalam memahaminya. Tulisan ini melihatnya dalam konteks pertarungan image dan pengaruh ketokohan di balik polemik seputar kehadiran HRS di setiap daerah.

Polemik seputar kehadiran HRS di suatu daerah tidak bisa diletakkan sebagai peristiwa tunggal yang muncul sendirinya tanpa terkait dengan aksi atau peristiwa sebelumnya. Peristiwa atau aksi sebelumnya (seperti aksi 212 dan aksi reaktifA� lainnya seperti aksi 412) telah membangun opini ketokohan pada figur-figur tertentu dan mendiskreditkan tokoh-tokoh lainnya.

HRS adalah salah satu tokoh yang mengambil keuntungan (ketenaran) dari peristiwa tersebut, sehingga cukup beralasan bila upaya penolakan terhadap HRS dianggap sebagai upaya mendelegitimasi ketokohan dan ketenarannya.

Orang bijak bertutur bahwa setiap sejarah pasti melahirkan pahlawan. Dalam konteks aksi, statemen yang sama dapat dikatakan bahwa setiap aksi besar (seperti aksi bela Islam 212) pasti memunculkan tokoh atau bintang. Paling tidak bintang tersebut dicirikan dengan peran dan daya tariknya bagi aksi. HRS dapat dikatakan sebagai salah satu bintang yang dilahirkan dari aksi bela Islam 212.

Sebelum aksi 212, HRS dikenal sebagai tokoh Front Pembela Islam (FPI) dengan peran-perannya yang berani dan tanpa kompromi sehingga oleh banyak kalangan saat itu mengklaim sebagai gerakan esklusif. Ketika gerakan bela Islam yang dipicu oleh pidato penistaan agama oleh Ahok di akhir tahun 2016, nama HRS makin mencuat terutama ketika upaya bela Islam yang dilakukan FPI selama ini bertemu dengan aksi massif bela Islam dari berbagai elemen Muslim lainnya.

Puncaknya ketika aksi 212 yang berhasil mendatangkan jutaan peserta aksi, dimana nama HRS kembali mencuat disaat yang bersangkutan menjadi khotib sholat Jumat yang juga dihadiri Presiden dan Wakil Presiden.

Aksi ini (212) tidak terbendung, meski berbagai upaya dilakukan oleh pihak-pihak yang hendak menghalanginya. Bahkan fatwa dari organisasi besar yang langsung disampaikan oleh pimpinannya yang tidak memperbolehkan bersholat Jumat di lapangan atau di jalan raya tidak mengurungkan niat jutaan Muslim peserta aksi 212. Disaat nama HRS makin tenar dan viral di media sosial, ada nama tokoh yang a�?dibullya�? oleh beberapa kelompok netizen karena sikapnya yang kontras dengan keinginan massa di aksi 212.

Momentum kebersamaan yang diperlihatkan dalam gerakan bela Islam 212 terus ingin dirawat dengan menjaga spirit gerakan dan kebersamaan lewat safari dakwah ke semua wilayah di tanah air. Gerakan ini terus mendapat sambutan dari berbagai daerah dengan tetap menjadikan HRS sebagai salah satu bintang dan magnet gerakan. Bersamaan dengan proses road show dakwah bertema spirit 212 dan terus naik daunya bintang 212 seperti HRS, ada beberapa tokoh politik yang merasa a�?terganggua�? sehingga terjadilah polemik dan pertarungan statemen di media, bahkan berujung untuk saling melapor ke ranah hukum terkait dengan beberapa persoalan seperti masalah kebangsaan, hingga ke hal-hal yang personal yang dilakukan oleh HRS dan anggota FPI lainnya.

Sampai di sini mulai terbaca upaya delegitimasi figur HRS yang makin mendapat tempat di hati sebagian besar umat Islam. Berbagai gerakan dan aksi penolakan mulai terjadi kala HRS dan tokoh aksi 212 lainnya bersafari ke setiap daerah untuk menjaga spirit 212.

Kelompok-kelompok yang berada di balik aksi penolakan HRS pun terindikasi memiliki afiliasi dengan publik figur yang pernah atau sedang a�?berkonflika�? dengan HRS atau tokoh-tokoh yang pernah tersudutkan dari aksi sukses 212 akhir tahun 2016. Kelompok-kelompok ini dipertemukan dengan kepentingan atau a�?instruksia�? yang sama untuk melakukan delegitimasi terhadap ketenaran figur seperti HRS.

Dilihat dari pola dan kelompok aksi, gerakan penolakan terhadap HRS bukan merupakan peristiwa biasa yang spontan, tetapi terorganisir secara rapi dengan instruksi berjenjang. Aksi penolakan yang diikuti dengan publikasi massif tersebut merupakan bentuk a�?perang opinia�? atau a�?perang imagea�? di ruang publik yang mengarah kepada delegitimasi terhadap tokoh Islam seperti HRS yang tengah naik daun sejak aksi 212 hingga safari dakwah spirit 212 yang tengah dilakukan belakangan ini.

Upaya delegitimasi yang dilakukan kelompok pembenci HRS tidak serta merta menyurutkan semangat kelompok Muslim yang ingin spirit 212 tetap terjaga. Paling tidak hal ini terkonfirmasi dari antusias masyarakat yang mengikuti safari dakwah spirit 212 di setiap daerah. Kenyataan ini menunjukkan bahwa upaya penebaran kebencian pada satu tokoh akan melahirkan rasa cinta yang makin dalam pada yang bersangkutan.

HRS dan beberapa pentolan aksi bela Islam 212 telah diidentikkan oleh sebagain besar kelompok Muslim sebagai representasi tokoh yang memiliki spirit bela Islam yang lebih dari yang lainnya.

Sebagaimana halnya yang dilakukan oleh kelompok pembenci HRS, kualitas dan kuantitas (jumlah peserta) dakwa Islam yang dihadiri HRS dan tokoh lainnya juga menjadi komoditi media sosial. Upaya viralisasi kekuatan dan kualitas aksi dakwa terus dilakukan sehingga terkesan sebagai upaya publikasi tandingan terhadap apa yang dilakukan kelompok pembenci HRS. Dalam konteks inilah nama dan ketokohan HRS terus terjaga dan mendapat tempat di hati umat Islam.

Menjaga spirit gerakan bela Islam 212 sangat bagus agar kekuatan dan kebersamaan umat Islam terus terawat. Mencintai dan mengidolakan tokoh Islam seperti HRS juga tidak salah. Tetapi menunjukkan gerakan Islam yang damai seperti saat aksi 212 harus terus digelorakan. Semoga aksi damai 212 bisa menjadi turning point (titik balik) bagi gerakan-gerakan kelompok Islam yang dikenal keras dan ekslusif (seperti yang ditunjukkan FPI selama ini) menuju gerakan damai yang rahmatanlila��alamiin.

Kita berharap di saat banyak umat Islam mencintai HRS, organisasinya (FPI) bisa mewariskan cara berdakwah dan aksi damai seperti yang dicontohkan oleh HRS saat memimpin gerakan bela Islam 212. Semogaa�� (r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka