Ketik disini

Headline Metropolis

Dulu Jago, Sekarang Loyo

Bagikan

Dari gairah kompetisi antarkampung, NTB pernah menelurkan pemain sepak bola untuk Tim Nasional Indonesia. Dari liga-liga dengan hadiah kambing, NTB juga berhasil memasok pemain-pemain untuk klub-klub bola ternama tanah air. Sayang, itu hanya masa lalu. Masa kini, NTB seakan lupa cara memproduksi pemain bola berkualtias, seiring tiadanya lagi komptesisi segala usia. Padahal, talenta dan bakat alam pasti tak pernah berhenti terlahir. Kita alpa, bahwa marwah Bumi Gora juga ada pada sepak bola.

***

LAPANGAN MALOMBA di sisi barat Kota Mataram, bergetar. Teriakan nama Junaedi, Junaedi, membahana. Itu terjadi, 52 tahun silam, kala Junaedi Abdillah, berhasil membobol gawang Persebaya, klub sepak bola paling mentereng di tanah air kala itu dari titik putih.

Melawat ke Mataram, Persebaya melakoni pertandingan eksibisi. Lawannya adalah Perselobar, klub kebanggaan masyarakat Pulau Lombok.

Dan Junaedi, yang berseragam Perselobar adalah pemain asli NTB. Dia terlahir di Ampenan, kota pelabuhan di pesisir barat Pulau Lombok. Saat menggetarkan gawang Persebaya dalam pertandingan itu, Junaedi baru berusia 17 tahun. Meski hasil akhir pertandingan, Perselobar ditekuk Persebaya 2-1, nama Junaedi dielu-elukan.

Laga yang disaksikan ribuan penonton yang memadati sesak Stadion Malomba, sejatinya benar-benar telah menjadi panggung untuk Junaedi.

Sepanjang 90 menit, gelandang Perselobar itu adalah teror bagi persebaya. Dia adalah motor tim. Motor serangan yang gelombang-gelombang. Hanya karena kurang beruntung, pemain kelahiran 21 Februari 1948 itu akhirnya hanya berhasil membubuhkan satu gol pada pertandingan tersebut.

a�?Permainan yang disajikan Junaedi sangat atraktif dan memukau penonton,a�? tutur Jeki Sungkar, salah satu penonton yang duduk di barisan paling depan dalam pertandingan itu kepada Lombok Post, kemarin (31/1). Jeki yang merupakan teman SD Junaedi Abdillah pula pula yang menuturkan atmosfer pertandingan kala itu.

Dia ingat betul, betapa stadion Malomba yang baru memiliki satu sisi tribun penonton penuh sesak. Stadion tak cuma dipadati pendukung tuan rumah. Namun, dipenuhi pula para pendukung Persebaya yang secara khusus datang dari Surabaya sehari sebelumnya dengan kapal laut. Sehingga satu sisi lapangan, penuh dengan nuansa hijau, warna kebesaran Persebaya.

Para Bonek, julukan mereka mengibarkan bendera besar-besar. Sepanjang pertandingan, nyaris mereka tak pernah berhenti bersorak, berteriak, memukul tetabuhan, gegap gempita, untuk menyokong tim kebanggaan. Pagar-pagar besi di pinggir lapangan yang baru dipasang sebagai pembatas penonton pun bergoyang-goyang.

Saking banyaknya penonton, ada yang tidak dapat melihat pertandingan. Karena tak bisa merapat ke stadion, lantaran sudah tiada tempat lagi.

Junaedi belum lama berada di Mataram kala pertandingan digelar. Dia baru pulang kampung setelah menempuh pendidikan sepak bola di TC Salatiga, Jawa Tengah. Selama 1964, Junaedi menimba ilmu di sana, sekaligus bersekolah. Kala bermain di tim junior Perselobar, bakat sepak bolanya diendus Wiel Coever, Pelatih Tim Nasional Indonesia berkebangsaan Belanda.

Wiel melihat penampilan Junaedi muda dalam pertandingan dengan salah satu klub sepak bola dari Pulau Jawa. Kala itu, tim yang dibela Junaedi kalah dengan skor 1-4. Namun, sinar Junaedi dalam pertandingan itu justru terang benderang.

Dan tanpa ragu, Coever yang merupakan legenda Feyenord, klub sepak bola Belanda, memboyong Junaedi ke Salatiga dan memasukkannya di TC Salatiga. Menimba ilmu sepak bola di sana.

Dengan penampilan yang gilang gemilang, maka Junaedi pun dilamar Persebaya. Dia diboyong ke Kota Pahlawan, dan sejarah mencatat, dia menjadi salah satu legenda Green Force. Mimpi Junaedi bermain di klub profesional pun bisa mewujud.

a�?Saya disekolahkan dan terus berlatih sepak bola,a�? kata Junaedi Abdillah melalui sambungan telepon, kepada Lombok Post, kemarin (31/1). Junaedi kini bermukim di Jakarta. Di masa penghujung karir emasnya di sepak bola, dia bekerja di Pertamina, BUMN yang mengelola minyak dan gas hingga pensiun. Sementara rumah warisan orang tuanya di Ampenan, kini ditempati adiknya.

Legenda Timnas

Tak banyak yang tahu, Junaedi adalah talenta terbaik NTB. Dia menuturkan, direkrut Persebaya, dia bermain untuk Surabaya Junior di level nasional. Dan setahun setelahnya pada 1967, dia sudah dilrik Tim Nasional Junior. a�?Saya ingat betul menjadi pemain timnas junior itu sekitar tahun 67,a�? kenangnya.

Junaedi membawa timnas junior sebagai runner-up di Kejuaraan Junior Asia 1967 yang digelar di Bangkok, pada April. Timnas junior berada di bawah Israel, yang keluar sebagai juara. Ketika itu, federasi sepak bola Israel memang masih tergabung di Zona Asia. a�?Itu tropi pertama saya,a�? kata Junaedi.

Keberhasilan itu mengantarkan dia dan beberapa rekannya naik kelas ke tim nasional senior. Bersama Junaedi diboyong pula Oyong, Suaeb Rizal, Harsoyo, Abdul Kadir, Waskito dan Bob Permadi, untuk tim nasional senior PSSI A. Di tim itu, mereka bersaing dengan seniornya seperti Soejipto Soentoro dan Jacob Sihasale.

Semenjak itu, Junaedi malang melintang di klub-klub ternama tanah air. Namun, dia lama bermain untuk Persebaya. a�?Saya ini orang bonek sebenarnya. Saya lama beramin di klub itu,a�? ujarnya.

Maka, Junaedi pun selalu menjadi langganan masuk skuad timnas. Dia bahkan termasuk dalam skuad Garuda di Kualifikasi Olimpiade Munich 1972 bersama dengan Iswandi Idris dan Ronny Pattinasarani. Junaedi adalah satu dari 22 legenda Sepak Bola Indonesia. Dia juga pernah mencetak gol-gol Indonesia di pertandingan penting. Termasuk turut bermain kala skuad Garuda menahan imbang Manchester United dalam pertandingan di Gelora Bung Karno, Jakarta.

Junaidi sendiri adalah pemain yang rendah hati. Meski sudah bermain untuk klub mentereng, main untuk tim nasional, dia juga kerap mengikuti turnamen di Lombok ketika jadwal liga profesional libur. Dia pun gembira, ketika mulai menikmati atmosfer sepak bola Lombok yang mulai penuh penonton. a�?Rasanya seperti main di Jawa,a�? katanya menyebut soal gegap gempita penonton itu.

Menggelora

Tampilnya putra NTB yang mampu memperkuat tim nasional, telah menjadi buah bibir. Di setiap sudut NTB, dimana orang berkumpul, Junaedi menjadi topik perbincangan. Praktis, Junaedi telah membangkitkan gairah untuk bermain bola di Bumi Gora.

Maka semenjak itu, liga-liga antar kampung menjelma. Klub-klub lokal bermunculan. Nyaris tiada kampung di Lombok yang tak punya klub sepak bola. Sekali bertanding, berbondong-bondong pula orang sekampung menonton.

Eroflan Kamil, rekan bermain Junaidi Abdillah menuturkan hal itu. Pria yang kini berumur 71 tahun itu tahu betul euforia sepak bola semenjak era 70-an.

Pemain yang juga berposisi sebagai gelandang ini menuturkan, kala itu, di Mataram hanya tiga lapangan sepak bola yang sering digunakan. Pertama di lapangan umum, lapangan sepak bola (sekarang menjadi kantor Bank Indonesia), dan lapangan Malomba. a�?Main di mana saja kalau di tempat itu selalu ramai penonton,a�? kenangnya.

Dia ingat, kala Perselobar bermain melawan Bali di Malomba. Penontonnya membeludak. Bahkan hingga empat baris ke belakang. a�?Sampai-sampai ada juga penonton menyewa bangku di belakang,a�? terangnya.

Tak cuma itu. Liga lokal yang digelar Camat Mataram pun juga ramai penonton. Padahal, hadianya cuma seekor kambing. a�?Aanak-anak, muda-muda, dan orang tua antusias menyaksikan pertandingan,a�? jelasnya.

Eroflan mengatakan, menjadi seorang pemain sepak bola pada saat itu sangat membanggakan. Menggunakan kostum tim di daerah itu serasa sudah menjadi pemain terkenal. Bagaimana tidak, hampir seluruh masyarakat yang gila bola tetap menyapanya saat dijalan.

Pria asli Kopang Lombok Tengah itu mengatakan, hampir setiap minggu ada kompetisi sepak bola. Dari pertandingan di kampung-kampung hingga pertandingan resmi. a�?Hampir setiap kampung di Kota Mataram ini memiliki klub sepak bola. Di setiap kampung itu tetap ada turnamen, meski hadiahnya tidak seberapa,a�? kenangnya.

Dengan banyaknya kompetisi itu, muncul beberapa pemain hebat. a�?Junaedi Abdillah juga lahir dari kompetisi seperti itu. Dari liga kampung,a�? kata Eroflan yang pernah berlatih bersama Persema Malang ini. Kala itu, sepak bola benar-benar menjelma menjadi olahraga rakyat.

Atmoefer itu tumbuh hingga era 1990-an. Sehingga penerus Junaedi pun bermunculan di NTB.

Mantan pemain Perselobar Anang Zulkarnaen menuturkan, era 1999-2000-an, turnamen yang diselenggarakan di setiap desa selalu ada. Bahkan turnamen itu diselenggarakan berdasarkan tingkatan umur. Piala suratin, kompetisi resmi untuk pemain junior juga tetap digelar.

Kenapa demikian? Karena pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) saat itu memang punya program yang jelas. Tak heran, PS Mataram dan Perselobar pernah tembus ke level nasional dalam Divisi I dan Divisi II Liga Nasional. a�?Jelas itu suatu kebanggaan,a�? katanya.

Setiap Perselobar bermain, antusiasme penonton sangat tinggi. Masyarakat selalu mensuport klubnya di GOR Turida.

Anang merasakan sekali penghargaan menjadi pesepak bola. Berkostum sebagai pemain Perselobar sangat bangga.

Klub Perselobar dahulunya sangat disegani tim daerah lain. Pernah mengalahkan PSS Sleman dan beberapa klub dari Pulau Jawa lainnya.

Maka kemudian, muncullah nama-nama mentereng lain dari NTB yang mampu berkiprah di Klub level nasional. Ada Ali Usman. Pria asal Selagalas itu pernah merumput bersama Arema Malang, Persela Lamongan, Gresik United, dan terakhir di Persiwa Siliwangi.

Nama Ali Ginoli, begitu dia karib disapa sudah mentereng di klub papan atas di Pulau Jawa. Sempat semasih berkostum Gresik United dia besaing di papan stop skor di Liga Ti Phone 2010-2011, nama Liga Indonesia kala itu.

Dia bersaing bersama dengan Marcio Souza (Semen Padang), Perry Sah Kole (Persibo Bojonegoro), Evandro (PSMP), Ezeguel Gonzalez (Persiba Balikpapan), Javier Roca (Persidafon Dafon Soro), Abiel Cielo (Persibo Bojo Negoro), Fotune Udo (Persikab), dan Edward Wilson Junior (Semen Padang). Ali Usman mencetak tujuh gol meski kerap bermain sebagai pemain pengganti.

Selain itu, ada juga pemain asal Batu Kuta, Narmada Rossi Noprihanis yang sampai saat ini bermain untuk Madura United.

Kini Berbalik

Bagaimana dengan kini? Di tengah euforia sepak bola nasional yang mulai menggeliat, justru sepak bola di NTB masih adem ayem. Tak ada lagi hikayat tentang liga antarkampung. Tak ada lagi kompetisi di tingkat desa. Minim sekali klub mentereng yang bersaing di level nasional. Gairah sepak bola menjadi mati, seiring dengan matinya liga-liga antar kampung itu.

Apakah orang NTB tidak lagi senang main bola? Tidak tentu saja. Eroflan Kamil ingat betul, hampir setiap kampung dulu memiliki klub. Tapi, sekarang hanya beberapa kampung yang masih aktif bermain bola. a�?Dulu ada namanya RBC, Kartika Yuda, dan banyak sekali. Sekarang keberadaan mereka tidak tahu kemana,a�? ujarnya.

Bagi Anang Zulkarnaen, kualitas pemain sepak bola di NTB sebenarnya tidak kalah bagus dengan pemain di Pulau Jawa.

Sebenarnya kata dia, ada salah satu pemain Persatuan Sepak Bola Sumbawa Barat (PSSB) Saddam Husein yang hampir mengikuti jejak Junaedi Abdillah. Karena, Saddam dipanggil langsung oleh pelatih Timnas Alfred Riedl.

Namun sayang, saat pemanggilan itu dilayangkan, Saddam dalam keadaan cedera setelah membela timnya di Divisi Utama kala itu. a�?Saddam akhirnya harus memupus harapan bisa bergabung ke timnas,a�? jelasnya.

Menurut Anang, yang menyebabkan kompetisi itu tidak lagi menggeliat, lantaran pengurus PSSI yang tidak lagi memerhatikan kompetisi-kompetisi tersebut. a�?Bagaimana mau maju kalau pengurusnya juga tidak mau memajukan sepak bola di NTB,a�? ujarnya. Itu sebabnya, bakat-bakat alam yang dimiliki NTB akhirnya tidak bisa terasah.

Modal Rp 10 Juta

Terkait minimnya kompetisi ini, Sekretaris Asosiasi Provinsi PSSI Muhazam punya jawabannya. Dia tidak menampik kalau kondisi turnamen sepak bola kurang menggeliat saat ini. Itu tak lain lantaran peran pemerintah untuk ikut memajukan sepak bola NTB juga kian kurang.

a�?Kalau dulu pemerintah daerah ikut membantu menggeliatkan sepak bola,a�? kata Muhazam.

Sekarang berbeda. Pemerintah tidak diperbolehkan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk membiayai sepak bola. Kalaupun ada, proses anggaran bagi cabang olahraga (cabor) harus dicairkan melalui KONI. Anggaran tersebut terbagi oleh beberapa cabor yang terdaftar di KONI. a�?Kita hanya mendapatak Rp 10 juta setahun,a�? ungkapnya.

Dengan anggaran terbatas, apa yang bisa diperbuat oleh asprov untuk menggeliatkan sepak bola? Pihaknya sudah mencoba untuk bekerja sama dengan pengusaha. Namun, itu tidak bertahan lama. a�?Pengusaha tidak berani ikut terlalu jauh membiayai sepak bola di NTB,a�? jelasnya.

Itu sebabnya, dia berharap, kepala daerah bisa ikut serta untuk menggeliatkan lagi sepak bola di daerah, supaya klub-klub di masing-masing desa bisa kembali bergairah.

Sementara itu Komisaris PT Arema Lalu Mara Satriawangsa mengatakan, jika ingin NTB memiliki talenta di kancah nasional pada sepak bola maka harus ada pembenahan. Pertama pelatih. Pelatih kata dia, harus asa lisensi kepelatihan. Kedua pembinaan dari usia dini.

Ia mencotohkan Lionel Messi dan Fabregas ini hasil dari pembinaan usia dini. Ketiga ketersediaan lapangan yang tanahnya rata. Keempat, kompetisi. Kompetisi U-15 dan U-18 ini harus bergulir. a�?Harus tetap ada kompetisi,a�? ujar dia.

Ia menuturkan, minimnya pesepakbola NTB yang berlaga ditingkat nasional karena tidak ada kemauan. Mestinya, U-18 ini harus bisa keluar daerah berkompetisi mengikuti seleksi klub-klub yang ikut ISL. a�?Jangan hanya diam di kandang saja,a�? sebut dia.

Seleksi pemain di klub besar biasanya dilakukan terbuka dan adil. Sebab, klub tidak berani mengambil keputusan yang tidak-tidak. Kalau bagus pasti dibilang bagus. Sebaliknya, jika tidak maka akan dibilang tidak. a�?Klub tidak berani mengambil risiko dengan tidak fair,a�? ucap dia.

Ia melihat, generasi NTB kurang semangat untuk berkiprah di kancah nasional. Sebab, jarang ada yang ikut tes klub sepak bola. (arl/jay/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka