Ketik disini

Selong

Dulu Primadona Ekspor, Kini Hidup Segan Mati Tak Mau

Bagikan

Kerajinan tanah liat di Desa Penakak Masbagik Timur, Lombok Timur (Lotim) A�dulu terkenal hingga mancanegara. Sayang kondisi tersebut berbanding terbalik. A�Jumlah pengerajin menyusut seiring menurunnya permintaan. Para pengerajin kini seolah hidup segan mati tak mau.

***

DI sepanjang jalan Dusun Penakak Desa Masbagik Timur dipajang sejumlah kerajinan tanah liat. Ada yang berbentuk guci, celengan ayam, piring, gelas serta berbagai bentuk lainnya dipamerkan warga yang ada di pinggir jalan. Kerajinan tersebut tampak siap dipasarkan atau dijual langsung.

Ya, ini adalah daerah kerajinan tanah liat yang terdapat di wilayah Lombok Timur. Dulu daerah ini sempat terkenal. Hasil produksi daerah ini bahkan mampu menembus pasar ekspor.

A�a�?Sudah dari kecil saya buat kerajinan ini. Dari sini kami mencari nafkah untuk makan dan membiayai anak sekolah,a�? aku Minah, 55 tahun salah seorang warga Penakak.

Usia Minah mungkin sudah tidak muda, namun ia terlihat masih bugar. Kedua tangannya terlihat cekatan mengolah adonan tanah liat menjadi ragam bentuk kerajinan. Ketelatenannya dalam bekerja memperjelas betapa terlatihnya ia mengangani bidang yang satu ini. Satu tangannya memutar meja pembuat gerabah sementara tangan yang lainnya bergumul dengan tanah liat hitam membentuk sebuah pola.

a�?Ini saya mau buat celengan,a�? cetusnya.

Disampingnya, terdapat banyak celengan yang sudah dipenuhi jaring laba-laba. Hasil kerajinan ini nampaknya terlalu lama disimpan akibat belum juga laku terjual.

Bagi sebagain masyarakat Penakak, bergumul dengan tanah adalah pekerjaan setiap hari mereka. Karena, kebanyakan masyarakat Penakak mencari nafkah dari kerajinan ini.

A�a�?Bisa dilihat sendiri, hampir sepanjang jalan orang jualan kerajinan tanah ini. Alhamdulillah memang selalu ada saja yang datang beli meski tidak seramai dulu,a�? tuturnya ramah.

Meski tak banyak, hasil dari berjualan kerajinan gerabah ini diakui Minah cukup untuk membiayai hidupnya dan keluarganya. Sekitar 100-150 ribu omset penjualan kerajinan ia kantongi setiap hari. Dengan estimasi keuntungan Rp 30-50 ribu. Mengingat usaha kerajinan tanah liat ini dikatakannya juga membutuhkan modal.

a�?Kami beli tanah liat ini Rp 10 ribu per karung. Nanti setelah dibentuk kami juga kan harus bakar kerajinannya. Untuk membakarnya itu juga nanti kita bayar,a�? ucapnya sambil menunjuk lokasi pembakaran yang tak jauh dari rumahnya.

Untuk sebuah asbak rokok ataupun celengan, harganya hanya Rp 5 ribu saja. Itu untuk yang ukuran kecil. Sedangkan untuk celengan yang berukuran besar atau bentuknya lebih rumit harganya tentu saja lebih. Misalnya saja untuk celengan berbentuk ayam dibandrol Rp 10 sampai 25 ribu.

Minah mengaku telah menekuni usahanya ini selama puluhan tahun bahkan saat masih kecil. Ia menekuni usaha ini bersama suaminya Badran.a�?Saya yang buat dan jual di rumah, bapak juga yang keliling jualan pakai sepeda motor,a�? ujarnya.

Masyarakat Desa Penakak saat ini seolah sedang kebingungan. Lantaran tak bisa berbuat apa-apa dengan kondisi yang ada seperti saat ini. a�?Mau cari kerjaan lain susah. Ya terpaksa kami terus bertahan dari usaha ini. Tapi, saat ini kondisinya memang seperti ini mau gimana lagi kata dia (HAMDANI WATHONI/r2)A�

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka