Ketik disini

Selong

Omzet Ratusan Juta Perbulan Hanya Tinggal Kenangan

Bagikan

Ditengah upaya pemerintah daerah membangun pariwisata NTB para perajin cenderamata sepertinya harus mendapatkan perhatian lebih. Seperti para perajin tenun di Pringgasela, Lombok TimurA� yang kini membutuhkan perhatian khusus di tengah lesunya permintaan wisatawan terhadap produk yang mereka hasilkan.

***

RAGAM motif dan bentuk kain tenun tersedia di Pringgasela. Bentuknya mulai dari selendang, songket, sarung dan lainnya. A�Sejak dulu warga memproduksinya sebagai warisan dari tradisi dengan alat dan cara tradisonal.

a�?Semua anak perempuan yang ada di Pringgasela harus diajarkan orang tuanya untuk menenun. Ini adalah tradisi kami di sini,a�? kata Masnir salah seorang perajin kepada Lombok Post.

Pesona tenun khas Pringgasela ini kian A�bersinar di tahun 1990-an. Dari mulut ke mulut, kain tenun ini pun makin diincar para wisatawan. Hingga akhirnya warga berinisiatif membuat sejumlah art shop sebagai tempat pemasaran hasil kerajinan.

Di masa itu, jenis kain songket paling dicari wisatawan. Harganya yang cukup mahal tak jadi soal. Para pelancong tetap membelinya. Untuk songket yang paling murah, bagi wisawatan lokal dibanderol dengan harga Rp 350 ribu. Sedangkan untuk wisatawan asing dibanderol dengan harga sedikit lebih tinggi sekitar Rp 400-450 ribu.

Sedangkan untuk selendang, selembarnya dihargai Rp 100 ribu bagi wisatawan lokal dan Rp 200 ribu bagi wisawatan mancanegara.

A�a�?Tapi dulu yang cari itu banyak. Satu orang kadang beli 10-20 lembar kain songket atau selendang. Sehari yang datang bisa 10 orang. Kadang mereka juga berkelompok,a�? kenang Masnir.

Tak hanya itu, pelanggan yang pernah datang juga kepincut dan kembali lagi untuk memesan. Bahkan, mereka sendiri yang menentukan motif sesuai keinginannya.

a�?Dulu ada beberapa pembeli dari Jepang, Italia dan Eropa minta dibuatkan khusus menggunakan pewarna alami. Itu memang agak susah buatnya. Bisa sampai empat bulan baru jadi. Tapi harganya per lembar itu jutaan,a�? ungkapnya.

a�?Karena mereka yang memesan sendiri jadi mereka mau-mau aja meskipun mahal. Bahkan pesannya sampai 60 lembar kain,a�? sambungnya.

Tingginya permintaan itu membuat warga Pringgasela banyak yag menggantungkan perekonomian mereka dari kerajinan tenun ini.

a�?Setiap minggu ada saja yang beli. Sebulan dulu omsetnya bisa ratusan juta dengan keuntungan bagi para perajin bisa puluhan juta,a�? tuturnya.

Namun, kejayaaan itu kini hanya tinggal kenangan. Angka kunjungan wisatawan yang diklaim pemerintah mencapai tiga juta orang rupanya tak berdampak signifikan bagi mereka. Pembeli justru menghilang ketika angka statistik kunjungan disebut meningkat.

Alhasil ratusan bahkan ribuan kain produksi para perajin kini hanya terpajang di beberapa art shop.

a�?Seminggu ini sudah tidak ada pembeli. Nyakit sekarang. Tahun 2016 lalu, tiga bulan nggak ada pelanggan. Kasihan kami para perajin di sini,a�? ungkapnya.

Karenanya, para perajin ini hanya bisa berharap kondisi kejayaan yang dulu hilang kembali lagi. Mereka berharap pemerintah punya langkah dan solusi menghidupkan kejayaan tenun Pringgasela. Minimal mengarahkan wisatawan untuk datang. a�?Kalau terus kayak gini, nanti nggak ada yang mau jadi perajin di Pringgasela,a�? pungkas Masnir. (HAMDANI WATHONI/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka