Ketik disini

Bima - Dompu

10 Kapal Sembunyi di Lawata

Bagikan

KOTA BIMA – Tiga hari belakangan ini 10 kapal penangkap ikan bersandar di Pantai Lawata. Mereka menepi ke kawasan Teluk Bima ini karena cuaca buruk.

Angin bertiup kencang dari arah barat ke timur. Kondisi tersebut sangat berbahaya bagi para pelaut.Kapal mereka bisa terhempas.  Untuk melindungi diri dari tiupan angin kencang dan hantaman badai, pemilik kapal menyandarkan kapalya di Pantai Lawata.

“Kami sengaja sembunyikan kapal disini,” ujar Andre, salah satu nelayan yang menyandarkan kapal di Lawata, kemarin.

Dikatakan,di Pantai Lawata anginnya tidak bertiup kencang. Gelombangnya juga tidak tinggi. Sehingga sangat pas untuk menyandarkan kapal.

Dia mengaku empat hari lalu, pernah menyandarkan kapalnya di sekitar Kecamatan Soromandi. Namun angin dan gelombang di wilayah tersebut bertiup kencang.

“Hanya di sekitar Lawata saja yang tidak ada angin kencang. Itu karena berada di teluk yang dikeliling gunung,” akunya saat ditemui di Lawata.

Dia mengaku sudah tiga hari bersandar di Lawata. Sampai kapan akan bersandara di sana, dia belum tahu. Sebab harus menunggu angin tidak bertiup kencang.

“Kalau sore ini anginya tidak bertiup kencang, kami akan kembali berlayar,” aku pria asal Desa Rompo, Kecamatan Langgudu ini.

Selama tidak berlayar Andre mengaku tidak banyak kegiatan yang dilakukan. Hanya mengecet kapal dan mengeluarkan air dari kapal.

Kalau menghitung kerugian, Andre mengaku sudah sangat rugi. Sebab tiga hari tidak berlayar untuk menangkap ikan.

“Mau bagaimana lagi, sabar saja menunggu sampai cuaca kembali normal. Daripada harus terhempas gelombang di tengah laut,” katanya.

Sementara itu, akibat cuaca buruk mesin Kapal Motor (KM) Mila Utama, Jum’at dini hari (3/2) bermasalah. Tepatnya di utara Pulau Moyo atau 36 mil dari Pelabuhan Bima. Kapal itu tidak bisa berlayar dengan normal.

Perwakilan Basarnar Bima Heryanto pada Radar Tambora (Lombok Post Group) menjelaskan, KM Mila Utama merupakan kapal motor jurusan Surabaya – Labuan Bajo – Ende. Kapal tersebut berangkat dari Surabaya tanggal 31 Januari 2017.

“Kami mendapat laporan dari pihak perusahaan kapal itu Jum’at dini hari. Tim langsung bergerak, yakni dari Pol Air Polres Bima, KPLP dan Basarnas,” katanya, Sabtu (4/2).

Menurut pria yang akrab disapa Hery ini, saat itu kondisi kapal masih bisa berjalan, tetapi pelan – pelan. Kemudian bertemu dengan tim SAR di luar Teluk Bima. Kapal tersebut diarahkan untuk masuk ke Teluk Bima agar lebih aman.

“Kami memang saat itu meminta mereka untuk masuk ke Teluk Bima,” ujarnya.

Diakui Hery, saat ini kapal tersebut masih berada di area Pelabuhan Bima. Begitu juga halnya dengan penumpang dan barang muatan lainnya. Disebutkan, jumlah penumpang kapal tersebut sebanyak 145 orang. Jumlah anak buah kapal (ABK) sebanyak 39 orang. Sementara jumlah kendaraan yang diangkut, sepeda motor dan mobil sebanyak 105 unit.

“Informasinya penumpang kapal akan dialihkan ke kapal lain. Tapi masih menunggu instruksi dari pihak perusahaan,” jelasnya.

Sementara untuk mesin kapal yang bermaslaah, menurut Hery tengah dalam perbaikan. Belum ada kejelasan kapal tersebuat akan berlayar kembali.

“Info terakhir yang saya terima mesin kapal itu masih diperbaiki,” pungkasnya. (nk/yet/r4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka