Ketik disini

Feature

Gerakan Harus Pas, Tangan Mesti Selaras

Bagikan

Tak banyak seniman serupa John Martono. Puluhan tahun berkarya, dia konsisten melukis di atas sutra. Menjadi satu di antara sedikit pelukis sutra yang namanya akrab di telinga penggiat seni mancanegara.

***

MELUKIS sudah jadi rutinitas John Martono. Meski darah seniman tidak mengaliri tubuhnya, dari kecil pria dengan panggilan John itu sudah menunjukkan bakat seni. Dia gemar melukis. Seperti anak kecil pada umumnya, pemandangan menjadi objek favoritnya. Gunung, petani, dan sawah berulang dia lukis.

Adalah Muhammad Hoesin ayah sekaligus sosok yang mendekatkan John dengan dunia lukis. Mengenalkan John kepada perupa senior di Batu, kota kelahiran sekaligus tempat dia menimba ilmu. a�?Dulu Sabtu hari yang paling kutunggu,a�? kenang John saat berbincang dengan Jawa Pos Senin pekan lalu (30/1). Setiap Sabtu dia bisa melukis semalam suntuk. Menghabiskan waktu bersama imajinasi yang berkutat di kepalanya. Lepas isya sampai lewat tengah malam.

Berjam-jam John habiskan di depan kanvas. Media lukis yang dia buat adalah bekas karung tepung terigu. Esoknya aktivitas itu berlanjut. Bersama pelukis yang dikenalkan ayahnya, dia berkeliling Batu. Membawa kertas dan pensil. Melukis banyak objek. Pertokoan, perempatan jalan, sungai. Semakin hari, dia kian cinta dengan dunia lukis.

Pernah John diajak ayahnya ke Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Betapa kaget dia melihat kapal dalam wujud sebenarnya. a�?Gimana lukisnya, besar sekali,a�? gumamnya kala itu.

John lalu dibawa ke kebun bintang. Melihat hewan raksasa serupa gajah, dia amat terkesima. Senang bukan kepalang lantaran imajinasi dalam kepalanya tidak lagi melulu gunung, petani, dan sawah.

Semakin jauh bepergian, kian banyak yang bisa jadi objek lukisan. Sampai masuk SD, SMP, dan SMA, John terus melukis. a�?Sejak SMP aku sudah pameran di Batu, Malang, dan Surabaya,a�? ungkapnya. Aktivitas itu tidak berhenti meski dia masuk Desain Tekstil Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. Tekadnya bulat, dia tidak ingin bekerja di dunia industri.

Tekad itu melahirkan ide gila. Menggabungkan seni lukis dengan seni tekstil. Mengombinasikan kemampuan melukis dengan pengetahuan soal tekstil. a�?Sejak 1993 aku sudah siapkan,a�? kata John. Mulai saat itu, pria yang berulang tahun setiap 31 Maret tersebut melukis di atas kain. Sutra menjadi pilihannya.

Bagi John, sutra adalah kain istimewa. Punya nilai lebih daripada jenis kain lainnya. a�?Value-nya menggoda pikiran,a�? ucap dia. a�?Mahal rasanya,a�? tambah ayah satu anak itu.

Bertahun-tahun melukis di atas kanvas, John pelan-pelan belajar melukis di atas sutra. Bukan perkara mudah tentunya. Di samping tanpa pendamping, karakter sutra beda jauh dengan kanvas. Media lukis itu membuat dia harus lebih hati-hati dan teliti ketika melukis. Tidak seperti melukis di atas kanvas, ada teknik-teknik khusus ketika menggerakkan kuas di atas sutra. Tak boleh terlampau kuat. Juga jangan sampai terlalu lembek. Selain itu, gerakan harus pas. Tangan dan isi kepala harus selaras. Sehingga ide yang hendak dituangkan mendarat sempurna.

Posisi melukis pun beda dengan biasanya. Tidak duduk menghadap media lukisan yang berdiri tepat di depan muka. a�?Melukisnya di lantai dulu. Kalau tidak geleber-geleber,a�? jelasnya. Lantaran kain yang jadi media, pewarna pun beda. a�?Tidak seperti pewarna untuk kanvas. Cair seperti ini,a�? kata dia sambil menunjukkan kopi yang sejak tadi menemani.

John lantas mengajak koran ini ke John Martonoa��s Art Studio, studio lukisnya. Letaknya tepat berada di lantai 2 rumah. Ada dua ruangan yang disulap menjadi studio lukis. Beragam lukisan menempel di dinding studio yang beralamat di Jalan Pagersari Nomor 198, Cibeunying, Bandung, itu. Hampir semua adalah lukisan yang dibuat dengan media kanvas. Termasuk lukisan yang dibuat selama sembilan tahun.

Ya, ada salah satu lukisan sutra yang dibuat John sejak 2001 sampai 2009. a�?Itu belum selesai,a�? kata dia sambil menunjuk lukisan yang dipasang tepat di atas tangga. Coraknya istimewa. Merepresentasikan aliran lukisan yang kini jadi pilihan dia. a�?Abstrak,a�? ujarnya singkat.

Tidak seperti lukisan pada umumnya, bukan hanya pewarna dari tinta yang dia pakai. Sulaman benang turut mewarnai lukisannya. Pria yang tengah menantikan kelahiran buah hati kedua dari pernikahannya dengan Citra Wulandari itu memang punya teknik melukis yang tidak umum. Selain sutra sebagai media lukis, sulaman jadi unsur penting pada setiap karyanya. a�?Lukis, sulam, lukis, sulam, lukis lagi. Terus sampai aku rasa sudah selesai,a�? ungkap dia.

Karena itu, tidak sedikit lukisan yang dibuat bertahun-tahun. Tapi, ada pula yang selesai dalam hitungan minggu atau bulan. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap lukisan bergantung keinginan. Terlebih, saat ini dia juga memberdayakan ibu-ibu rumah tangga yang tinggal di sekitar studionya. a�?Mereka yang menyulam,a�? ucapnya. Tentu dengan bimbingan dan pengawasannya.

Dosen di FSRD ITB itu lantas menunjukkan beberapa sampel lukisan yang dihiasi sulaman. Benar berbeda dengan lukisan lain. Bahkan, rupa garis dan warna yang menempel bisa dinikmati dari banyak sisi. Dengan pola yang beda ketika dilihat dari depan dan samping. Hasil itu tidak dia dapat dengan mudah.

Sebelum melepas para penyulam, John mengajari mereka teknik sulam. a�?Ini hasil belajar mereka,a�? sebutnya. Semua tertata rapi dalam satu lemari. Meski hanya hasil belajar, tetap tampak istimewa. a�?Kalau ukuran (lukisan) besar dikerjakan di studio. Kalau kecil dibawa pulang (ke rumah penyulam, Red),a�? ujarnya.

Dari pekerjaan itu, para penyulam mendapat penghasilan tambahan. Tidak heran jika mereka kerap bertanya kepada John, a�?Kapan nyulam lagi?a�?

Bukan hanya karya lukis yang tidak umum, John juga punya selera musik tersendiri. Setiap kali melukis, iringan musik blues wajib menemani. Berikut makanan ringan. a�?Buah yang enak, keripik enak. Pokoknya makanan yang bener,a�? ujar dia, lantas terkekeh.

Selain musik dan camilan enak, suasana pun demikian. Studio tempat John melukis bisa jadi cerminan. Rapi. Semua berada pada tempatnya. Tidak ada bercak cat. Demikian pula pewarna. Padahal, sering kali dia melukis di atas teras. Bukan hanya tempat, waktu melukis pun khusus. Pelukis yang menyebut karyanya dengan journey of happiness itu amat teratur.

Setiap hari hanya empat jam John melukis. a�?Bisa sejam habis subuh. Nanti lanjut lagi jam sembilan selama dua jam. Sisanya habis isya,a�? terang dia. Soal waktu, John tidak lagi seperti dulu. Sekarang tertib, tidak ada cerita begadang. a�?Paling malam jam sebelas,a�? ucapnya. Itu penting lantaran dia juga punya kesibukan siang hari. Di antaranya mengisi kelas di FSRD ITB.

Tekad, ide, serta ketaatan John terhadap komitmen membawa namanya melambung. Ketika debut, dia langsung terlibat dalam pameran bertajuk Asian Fiber Art Exhibition di Korea Selatan (Korsel) pada 1995. Dia juga terlibat dalam pameran seni tekstil Contemporary Fiber Art Exhibition National Gallery di Jakarta pada 1996 dan Fiber Art Story di Bandung pada 1997.

Sejak saat itu, saban tahun John terlibat pameran di berbagai negara. Dia sering bolak-balik Korsel dan Jepang. Pameran di Australia, Eropa, dan Amerika Serikat (AS) pun dia turut terlibat. Malahan sering kali diundang. Tahun lalu dia ikut ambil bagian dalam Affordable Art Fair di Singapura dan AS. Capaian tertinggi bagi John adalah ikut serta dalam The World Triennale Fiber Art di Polandia pada 2007.

Bukan sembarangan seniman tekstil boleh ambil bagian dalam pameran tersebut. a�?Setiap seniman hanya boleh sekali seumur hidup ikut pameran itu,a�? kata John bangga. Dia masuk pameran tersebut atas rekomendasi seniman asal Jerman Joachim Blank. Selain rekomendasi, seniman yang ikut pameran The World Triennale Fiber Art harus melalui serangkaian seleksi dan verifikasi.

Setahun sebelum pameran, seleksi dan verifikasi dilakukan. Setelah lolos, karya setiap seniman dikirim untuk dipamerkan. Capaian John tidak bisa dianggap remeh. Apalagi, setelah menyelenggarakan pameran tunggal bertajuk Post Painterly Abstraction-More than Ten Years after for Nothing di Jakarta, John disebut kurator sebagai seniman pertama yang sukses memadukan seni lukis dengan seni tekstil.

John yang kini tinggal dan menetap di Bandung juga dipercaya Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menghias beberapa sudut Paris van Java itu. Termasuk Bandara Internasional Husein Sastranegara. Yang paling baru adalah flyover Antapani. Jika jalan-jalan ke Bandung dan lewat flyover itu, jangan bertanya siapa otak di balik mural indah yang membalut jembatan layang tersebut. John Martono adalah orangnya. Pelukis sutra yang namanya kian mendunia.(SAHRUL YUNIZAR, Bandung /c9/oki/jpg/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka