Ketik disini

Metropolis

Psikiater pun Tak Mampu Beri Motifasi

Bagikan

Bukan karena biaya, bukan pula karena larangan orang tua, sehingga Ardian tak kunjung di operasi. Ada sesuatu yang masih mengganjal remaja malang ini hingga tak kunjung ditangani medis.

 ***

MUHRIP terlihat kelelahan. Ia sampai terlelap di samping buah hatinya. Sementara anak yang beranjak remaja di sampingnya lemas lunglai dengan tulang hanya terbungus kulit saja. Hanya kaki kanannya yang terlihat gemuk, karena bengkak.

Terutama di sekitar dengkul bengkak semakin menjadi-jadi. Bubuhan pasir hitam melekat kuat di kulit yang mulai merah ke hitam-hitaman. “Itu pengobatan alternatif,” kata ayahnya Muhrip.

Pria yang bekerja sebagai penjaga malam itu awalnya menolak di wawancara. Ia terlihat antipati dengan kedatangan wartawan. Bahkan ia mengaku pernah mengusir media yang tiba-tiba menghujani anaknya dengan cahaya blitz kamera. Apa sebabnya?

“Saya tidak mau dianggap sengaja menghalang-halangi pengobatan anak saya. Padahal bantuan sudah banyak yang datang,” ungkapnya jujur.

Dari Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, Ketua LPA Kota Mataram, DASI NTB, dan entah siapa lagi, silih berganti memberikan empati dengan kondisi yang dialami Ardian. Bahkan kabarnya sejumlah dokter ahli, sudah tidak sabar ingin memberi pertolongan pengobatan pada Ardian. Sebagai orang tua ia juga sebenarnya sudah sangat ingin anaknya bisa terbebas dari penderitaanya.

“Tetapi sampai saat ini dia (Ardian) belum siap. Ia tidak mau dioperasi,” jawab ia.

Itulah satu-satunya alasan yang tersisa, kenapa Ardian tidak kunjung ditangani tim medis. Bocah rupawan itu, terus saja meronta menolak diobati. Dari penuturan, Muhrip Ketua LPA Kota Mataram Nyayu Ernawati dan seorang psikiater pun ikut turun tangan, melakukan pendekatan psikologi. Memberi semangat dan membangkitkan keberanian Ardian agar mau menjalani operasi.

“Ibu Nyayu bahkan sampai belikan baju, agar Ardian termotivasi berobat. Beliau rajin datang kunjungi kami ke sini,” sambungnya.

Tetapi semangat dan keberanian Ardian, masih membutuhkan kesabaran untuk menbangkitkannya. Remaja yang kini masih duduk kelas 1 di SMPN 15 Mataram, itu lebih memilih pulang dari rumah sakit dan mengurung diri di kamar dan berjuang melawan penyakitnya, selama tiga bulan terakhir.

“Jadi awalnya (penyakit ini) dia pernah main bola dengan teman-temannya,” tutur Muhrip yang terus mengipas badan anaknya yang terus merengek merasa ada sesuatu panas di dalam tubuhnya.

Saat bermain itulah terjadi benturan di dengkul kanannya. Saat terjadi benturan itu, Ardian tidak merasakan sakit yang parah. Kecuali rasa ngilu yang tak kunjung hilang. Ia bahkan sempat melawan rasa ngilu itu dengan bermain bola lagi. Tetapi bocah yang sangat mengidolakan Ronaldo, pemain Real Madrid itu, merasakan sakit di dengkulnya semakin menjadi-jadi.

“Akhirnya kami bawa ke puskesmas. Lalu dari puskesmas kami disarankan ke rumah sakit,” tuturnya.

Tetapi alangkah terkejutnya Ardian dan ayahnya saat ia divonis mengidap kanker tulang. Ardian yang mendengar, satu-satunya cara pengobatan hanya melalui operasi, lalu berontak minta pulang ke rumah.

“Karena itulah sekarang dia ada di sini (rumah, Red). Padahal dukungan dari banyak pihak sudah mengalir banyak,” terangnya.

Muhrip tidak tahu, sampai kapan anaknya yang nomor dua itu bertahan menolak. Padahal sebagai orang tua, ia sebenarnya sudah tidak kuasa melihat penderitaan sang anak. Ia ingin anaknya segera sembuh dan bermain bola lagi seperti dulu.

“Dia banyak dipuji karena gigihnya saat bermain bola,” ujar Muhrip.

Matanya mulai berkaca-kaca. Ada sesuatu yang membuat pria itu nyaris menumpahkan air mata. Banyak orang telah mengunjungi dan memberi semangat sang anak. Tetapi, sepertinya ada yang belum. Dialah, teman-teman kelasnya.

“Dia kerap bercerita ingin sekolah lagi dan bertemu teman-temannya di sana. Tapi sampai sekarang belum ada teman-teman kelasnya yang mengunjungi,” kata Muhrip terdengar sedikit serak.

Memang wali kelasnya pernah datang mengunjungi. Tetapi tentu dorongan teman dan sahabat akan jauh melipat gandakan keberanian ia untuk sembuh. Muhrip membayangkan bagaimana jika teman-teman kelasnya datang menjenguk dengan membawa doa dan semangat kesembuhan putranya.

“Sedangkan, ada petugas kesehatan yang tidak terlalu kami kenal, kerap menyapa. Ardian terlihat bersemangat untuk sembuh. Apalagi kalau teman-temannya bisa datang ke sini,” harapnnya.

Sampai saat ini, ia masih berharap doa dari siapapun yang tahu keadaan anaknya. Agar keberanian sang anak bisa tumbuh dan siap menjalani pengobatan terbaik melalui operasi.

“Amin (terima kasih) doa-doanya untuk kesembuhan anak saya,” tutupnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka