Ketik disini

Metropolis

Bumi, Maafkan Kami

Bagikan

a�?Mungkin Tuhan mulai bosan.

Melihat tingkah kita.

Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.

Atau alam mulai enggan.

Bersahabat dengan kita.

Coba kita bertanya pada.

Rumput yang bergoyang.a�?

A�Ebiet G Ade

Penggalan syair lagu a�?Berita Pada Kawana�?

***

KALA alam bisa membuka mata, maka dia murka. Alam bukannya menolak berkawan. Manusialah yang telah memperlakukannya semena-mena. Setelah memberi begitu banyak kehidupan, bukannya menjaga, tapi manusia justru merusaknya. Dan lihatlah balasannya. Bencana di mana-mana.

Pengujung Desember 2106 silam, banjir bandang menggulung Kota Bima. Seisi kota di pesisir itu lumpuh. Seluruh kota terendam. Bukan cuma sekali, air bah datang dua kali, dan para penghuni kota hanya bisa terperangah. Deritanya masih dirasakan hingga kini.

Kerugian dua kali banjir bandang itu, tak kurang Rp 2,7 triliun. Butuh tiga tahun APBD Kota Bima untuk mengumpulkan uang sebanyak itu. Dengan syarat, pemerintah tak membelanjakan apapun dalam tiga tahun tersebut.

Memasuki tahun baru 2017, murka alam, belum menunjukkan tanda henti. Justru datang bertubi-tubi. Mulai skala kecil, hingga bencana dengan skala yang meluas. Banjir, tanah longsor, dan angin kencang adalah yang paling karib.

Pekan lalu, banjir terjadi di seluruh NTB. Mulai dari Bima, Dompu, Sumbawa, Sumbawa Barat, Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat dan Kota Mataram. Di Lombok Utara muncul longsor yang sempat menutup ruas jalan akses ke daerah otonom paling muda di NTB tersebut.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB menyebutkan, sepanjang Desember 2016 hingga Januari 2017 saja, telah terjadi 24 kali bencana banjir. Sementara memasuki Februari, banjir dan longsor serentak terjadi di seluruh wilayah NTB.

Bencana Lotim

Di Gumi Patuh Karya, banjir menerjang beberapa kecamatan seperti Sembalun, Montong Gading, Wanasaba, Suela, Jerowaru dan Pringgabaya.A� Dari beberapa kecamatan tersebut, banjir dengan kerugian terbesar terjadi di Desa Perigi. Salah satu jembatan yang menghubungkan akses lalu lintas masyarakat di tiga desa nyaris putus. Selain itu cekdam juga jebol mengakibatkan ratusan lahan sawah petani terendam.

Banjir juga merusak tanggul yang ada di Labuhan Lombok. Dimana, dalam kurun waktu seminggu banjir merendam perumahan warga sebanyak dua kali. Sementara untuk di Jerowaru, banjir membuat aktivitas masyarakat Desa Sukadamai lumpuh hampir seminggu penuh. Lantaran air yang tak mau surut akibat saluran drainase dan irigasi tertutup sampah dan mengalami penyempitan. Sejumlah jalan di Desa Sukadamai rusak parah dan 40 hektare lahan sawah petani terendam.

Tak hanya banjir, bencana longsor menjadi salah satu momok yang menghantui masyarakat Lotim. a�?Di Wanasaba kita tidak pernah prediksi terjadi longsor malah di sana yang terjadi longsor,a�? ujar Kepala Pelaksana BPBD Lotim H Napsi.

Yang terbaru, kemarin bencana angin kencang menyebabkan sejumlah pohon tumbang. Pohon-pohon ini menimpa kendaraan dan rumah warga.

A�Bencana Loteng

Di Gumi Tatas Tuhu Trasna, banjir menerjang empat desa di tiga kecamatan. Seluruhnya di selatan Lombok Tengah. Penyebabnya, sudah dipastikan karena kasus illegal logging yang marak, galian tanah uruk, penyempitan saluran irigasi dan sungai akibat sampah dibuang sembarangan.

Data Tim Reaksi Cepat Pemkab Loteng menyebutkan, rumah warga yang tergenang banjir di Desa Bangkat Parak dan Kuta, Pujut. Kemudian, Desa Kidang, Praya Timur dan Desa Selong Belanak, Praya Barat mencapai 811 kepala keluarga (KK).

Di Desa Bangkat Parak meliputi Dusun Pasung 145 KK, Sengkudul 85 KK, Celuakang 84 KK dan Dusun Renggekolo 56 KK. Kemudian, di Desa Kuta mencapai 200 KK yangA� tersebar di Dusun Ujung Lauk, Ujung Daye, Rangkap Dua, Kuta Satu, Menggalung, Baturiti dan Dusun Ketapang.

Berikutnya, di Desa Kidang di Dusun Peras sebanyak 70 KK. Lalu, yang terakhir di Desa Selong Belanak tersebar di Dusun Selong Belanak 35 KK, Rujak Tengak 30 KK, Rujak Praya 13 KK, Kapal 25 KK, Dasan Baru 40 KK, Lingkok Dalam 15 KK dan Dusun Serengan lima KK.

a�?Alhamdulillah, bantuan sosial tidak saja datang dari pemerintah. Tapi, seluruh lembaga dan instansi berdatangan silih berganti. Alhamdulillah,a�? kata Ketua TRC Pemkab Loteng HM Amin yang juga Asisten I.

Sementara di Gumi Patut Patuh Patju, peta-peta desa rawan bencana telah disiapkan. Untuk angin puting beliung, setidaknya tiga desa menjadi atensi BPBD Lobar setiap tahunnya. Yaitu Desa Keru, Desa Kediri, dan Desa Jagerage Indah.

Sedangkan banjir antara lain ada di Kecamatan Lembar, Kecamatan Labuapi, Kecamatan Sekotong, dan juga Batulayar. Sedangkan longsor selain di Sekotong, juga di wilayah Kecamatan Gunungsari.

Beruntunglah kita. Lantaran tak banyak nyawa yang melayang. Tapi kalau kerugian harta benda, tentu saja tak terkira banyaknya. Yang terbaru adalah kemarin, tatkala angin kencang bertiup semenjak pagi hingga sore. Pohon tumbang di mana-mana. Kali ini memakan korban jiwa. Menimpa kendaraan dan pemiliknya yang kemudian meregang nyawa.

Rentetan bencana ini datang berulang-ulang. Nyaris tiada tahun dilewati NTB tanpa bencana. Bahkan banyak yang terjadi di tempat yang sama berulang kali, berbilang tahun. Tak terhitung berapa pemilu, berapa kali ganti bupati, ganti wali kota atau ganti gubernur.

Ada bencana yang punya siklus tahunan. Ada yang punya siklus lima tahunan. Dan bukannya kian mereda, intensitasnya justru kian menggila.

Sayang, bukannya dianggap kiriman pertanda dari alam, sebagian justru menganggpnya sebagai hal nan biasa.

Sungguh. Tak ada yang tahu apa rencana Yang Maha Kuasa. Tapi, sulit menepikan betapa alam kini telah murka. Mengutip kata Ebiet G Ade dalam penggalan syair lagunya a�?Berita pada Kawana�?, boleh jadi alam telah bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.

Bagaimana tidak murka. Beginilah kita di NTB memperlakukan alam. Bertandanglah ke hutan-hutan yang dipunya Bumi Gora. Kondisinya sungguh memprihatinkan. Rata-rata sudah gundul. Bahkan banyak yang tersisa hanya ilalang. Sementara daerah aliran sungainya mengalami erosi sangat parah. Lalu di permukiman, manusia dengan pongah membangun tanpa arah. Ada tata ruang, tapi aturan yang paling sering dilanggar. Ada selokan dan drainase, namun dijadikan tempat buang sampah raksasa.

Parahnya, semua draninase juga dicor beton, sehingga air tidak bisa dikontrol. Menyembunyikan sampah dan lumpur di dalamnya. Sedangkan sungai-sungai menyempit karena pelanggaran tata ruang dengan bangunan di sempadan sungai menjamur.

a�?Kalau sekarang terjadi banjir di mana-mana, itu pertanda bahwa ekosistem kita, lingkungan kita sudah rusak,a�? kata Direktur World Wildlife Fund (WWF) NTB Ridha Hakim.

Dari peta yang dimiliki WWF, sebagian besar wilayah NTB dipenuhi warna merah. Itu adalah tanda lahan tersebut sudah terbuka dan kondisinya kritis. Tak cuma di hilir, tapi juga di hulu. Sedikit curah hujan meningkat, maka bisa ditebak, aliran air berubah jadi aliran bah.

Saat ini, WWF memastikan sisa tutupan hutan di Pulau Lombok hanya 19 persen. Padahal, normalnya luas tutupan hutan untuk Lombok minimal 30 atau 40 persen, baru fungsi alam bisa kembali normal. Kondisi lebih parah terjadi di Pulau Sumbawa, sisa tutupan hutan hanya 17-18 persen. Sementara indeks kebutuhan air mencapai 135 persen lebih atau sangat kritis. Sehingga pada musim kemarau akan kekeringan, dan musim hujan akan kebanjiran.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengonfirmasi hal serupa. Dari 1.071.722,83 hektare luas hutan di NTB, yang kini dalam keadaan kritis seluas 578.645,97 hektare. Terdiri dari lahan yang sangat kritis sekitar 23.218,61 hektare, kritis 154.358,31 hektare, dan agak kritis 401.069,05 hektare. Khusus dalam hutan, luas lahan kritis mencapai 141.375,54 hektare atau sekitar 13,19 persen.

Hutan NTB sendiri terbagi menjadi hutan lindung seluas 449.141,35 Ha atau 41,91 persen, hutan produksi seluas 448.946,08 Ha atau 41,89 persen, dan hutan konservasi seluas 173.636,40 Ha atau 16,20 persen. Total dana yang dibutuhkan untuk memperbaiki kerusakan alam yang terjadi sedikitnya Rp 8 triliun. Dan angka itu belum termasuk normalisasi sungai, pembebasan lahan akibat bangunan di sempadan sungai.

a�?Berdasarkan teori, aliran sungai baru akan normal 15-20 tahun, itupun dengan catatan tidak boleh ada kerusakan sedikit pun di kawasan DAS,a�? kata Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTB Madani Mukarom.

Di pesisir selatan Pulau Lombok misalnya, menutu menurut keterangan Asisten I Pemkab Loteng HM Amin, hampir seluruh perbukitan di sana telah gundul. Tidak ada yang rindang. Karena itu, wajar saja kalau warga kini dilanda banjir.

Parahnya lagi, kata dia, lahan-lahan produktif digali untuk dijadikan tanah uruk sejumlah proyek. Alhasil, begitu hujan datang, air mengendap di galian. Disatu sisi, saluran irigasi dan sungai dipersempit, akibat sampah. Akibatnya, air bah mengalir ke pemukiman warga.

Sebegitu dashyat kerusakan itu, sangat jauh dengan kemampuan rehabilitasi yang dipunyai pemerintah dengan seluruh dumber dayanya. Madani mengatakan, kemampuan pemerintah melakukan rehabilitasi hutan lahan sangat terbatas. Dari Rp 109 miliar dana yang dikelola pihaknya, anggaran khusus untuk rehabilitasi hutan hanya Rp 5 miliar. Itu untuk areal 1.100 hektare lahan hutan kritis berupa persemaian hingga penanaman pohon.

Dengan kemampuan tak lebih dari 2 persen dari tingkat kerusakan hutan ini, maka sedikitnya untuk mengatasi kerusakan alam di hutan di NTB saat ini, pemerintah perlu waktu 50 tahun. Itu dengan catata, tak ada kerusakan apapun setelahnya.

Apakah bisa? Jelas tidak. Sebab, faktanya, saat ini, data LHK NTB menyebutkan, laju kerusakan terus meningkat. Bahkan mencapai angka 10 persen per tahun. Dan itu jauh di atas kemampuan pemerintah meremajakan kerusakan yang telah terjadi.

Maka jangan heran, kalau tingkat bahaya erosi daerah aliran sungai (DAS) di NTB kini sudah tergolong berat. Menyerang 85,52 persen wilayah DAS di Pulau Lombok dan 80,99 persen wilayah DAS Pulau Sumbawa.

Ridha Hakim bahkan menyebut, luas lahan kritis di DAS NTB sudah mencakup 71,59 persen wilayah DAS Pulau Lombok dan 70,09 persen wilayah DASA� Pulau Sumbawa. Sehingga sebagian wilayah DAS di NTB rentan terhadap kerusakan dan kebakaran lahan. a�?Artinya, daerah aliran sungai itu sudah sangat rusak,a�? katanya.

Tak usah rumit-rumit. Secara sederhana bisa dilihat pada aliran air sungai sehabis hujan. Ketidakmampuan sungai menampung air saat hujan menjadikan airnya cokelat dan cenderung meluap. Sementara pada saat musim kemarau, sungai kemudian mengering. Menandakan kemampuan DAS menahan air sudah sangat buruk. Sehingga begitu ada hujan besar, air akan dibuang tanpa proses penyimpanan lebih lama. Apalagi tipe DAS Pulau Lombok dan Sumbawa dari hulu langsung buang ke laut. Tidak seperti DAS di Kalimantan yang berkelok-kelok sehingga lebih menguntungkan.

Ulah 30 Tahun Lalu

A�Bagi pegiat lingkungan TGH Hasanain Djuaini, murkanya alam saat ini, bukan karena ulah setahun dua tahun. Tapi, karena ulah merusak alam, terutama hutan semenjak 30 tahun silam.

a�?Sekaranglah akibatnya terjadi. Dan tidak ada cara lain memang harus tanam kembali itu saja,a�? jelas ulama yang meraih penghargaan lingkungan Kalpataru ini pada Lombok Post.

Cuma kata dia, kalaupun ditanam sekarang, manfaatnya baru akan terasa 30 tahun lagi. Itupun dengan catatan, tak ada lagi seluruh manusia yang mendiami NTB ini merusak alam lagi. Hal yang muskil tentu saja. Dan semakin ditunda, maka alam bukan akan menjadi kian baik. Namun sebaliknya justru kian buruk.

Itu sebabnya kata dia, butuh upaya lebih dari sekadar biasa untuk menyalamatkan alam. Tak bisa pakai jusus nusiness as usual. Dan jurus ini berlaku untuk semua pihak. Tak hanya pemerintah. Tapi seluruh masyarakat NTB. Sebab, alam bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Tapi juga tanggung jawab seluruh masyarakat.

Di antara upaya luar biasa itu, usulan Hasanain misalnya perlunya melibatkan para wisatawan untuk rehabilitasi hutan. Di mana kata dia, perlu paket wisata menanam pohon di hutan. Dalam paket wisata ini misalnya satu wisatawan menanam satu pohon dan seterusnya.

Hasanain sendiri menolak anggapan kalau curah hujan yang kian meningkat, menyebabkan banjir atau longsor menerjang. Dalam Alquran kata dia, sudah dijelaskan bahwa Sang Khalik menurunkan hujan dengan takaran tertentu. Jadi maksud Alquran itu jelas adalah Allah menurunkan hujan itu untuk kebaikan karena tidak mungkin volume hujan itu melebihi kemampuan daya serap bumi.

a�?Tetapi karena kita sudah merusak daya serap bumi itu dengan cara merusak hutan, maka hujan sekarang sekalipun tidak besar bisa akibatkan banjir dimana-dimana,a�? tandasnya.

Diakui Hasanain, untuk mengembalikan alam menjadi baik, butuh biaya tak sedikit. Masalahnya lagi, berdasarkan teori kata dia, untuk menanam hutan yang telah rusak, tingkat kesulitannya tujuh kali lebih sulit dibanding kalau menanam pohon di tempat biasa.

a�?Artinya siap siap manusia untuk mengerahkan biaya, tenaga, dan waktu tujuh kali lipat untuk upaya yang biasa. Jadi saya kira kita harus siap menerima dampaknya saja sekarang ini,a�? tandasnya.

Hutan bagi Hasanain, adalah mesin sirkulasi air yang tercanggih ciptaan Tuhan. Sekali hutan rusak, amat sulit menggantinya. Sehingga upaya menjaga hutan memang harus digalakkan agar hutan tersebut tidak sampai rusak.

a�?Semua pihak harus turut serta menanggulangi kerusakan yang sudah terjadi ini. Kita tidak bisa mengharapkan pemerintah saja yang mengerahkan semua ini karena pasti tidak akan cukup,a�? tegasnya.

A�Pemerintah Tegas

A�Dan jauh di atas itu semua, yang paling penting adalah ketegasan pemerintah. Termasuk juga di dalamnya ketegasan dalam hal penegakan hukum. a�?Kalau nggak berani tegas, maka kerusakan akan makin parah,a�? kata Ridha Hakim.

Sejauh ini, penegakan hukum untuk para pelaku pembalakan liar memang dipandang masih minimalis. Kasus yang berhasil ditangani aparat kepolisian masih dipandang jauh lebih sedikit, dibanding kasus yang terjadi secara riil di lapangan.

Boleh jadi hal ini ada benarnya. Sebab, di seluruh NTB, sepanjang 2016 lalu saja hanya 14 kasus yang ditangani Polda NTB dan seluruh jajarannya. Dari 14 kasus itu, sebanyak 16 orang ditangkap polisi dan dijadikan tersangka.

Kasus terbanyak di Polres Kabupaten Bima. Di sana, ada empat kasus yang ditangani dalam kurun waktu empat bulan, sejak Februari hingga April 2016.

Dari empat kasus tersebut, jajaran Polres Kabupaten Bima mengamankan enam orang tersangka dengan barang bukti antara lain 181 batang kayu jenis sonokeling, di mana 16 di antaranya telah berbentuk balok kayu, satu unit mobil avanza, dan dua unit truk.

Menurut keterangan polisi, kayu yang diambil para tersangka berasal dari kawasan hutan lindung di Gunung Tambora dan hutan di wilayah Madapangga.

Selanjutnya, penjarah hutan juga menjadikan wilayah Kabupaten Lombok Barat sebagai sasarannya. Kepolisian dari resort Lombok Barat tahun lalu, menangkap lima orang pelaku yang diduga melakukan penjarahan hutan dari tiga kasus yang ditangani.

Dari para tersangka kayu jenis Rangdu dalam berbagai ukuran dan satu unit mesin pemotong kayu diamankan. Ada Tersangka lainnya dengan 40 lembar kayu papan dari jenis sengon, lima batang kayu sengon, satu balok kayu sengon, dan satu unit mesin pemotong kayu. Kemudian, tersangka terakhir, yakni Sadi, ditangkap bersama mesin pemotong kayu dan delapan pohon kayu jenis bunut dan seropan.

Untuk Polda NTB sendiri, sepanjang 2016 hanya menangani dua kasus ilegal logging, dengan dua tersangka, yakni Yahya Efendi dan Jemaun. Meski hanya dua, namun barang bukti yang diamankan cukup banyak.

Yahya Efendi, pria asal Desa Seketeng, Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa ini ditangkap bersama 530 batang kayu jati atau setara 23,03 meter kubik serta satu unit truk fuso. Untuk Jemaun, polisi menangkapnya bersama 600 batang kayu jati dan satu unit truk fuso.

Kabidhumas Polda NTB AKBP Tri Budi Pangastuti mengatakan, seluruh tersangka telah diproses hukum. Kepolisian telah melakukan pelimpahan barang bukti dan tersangka (tahap II, Red) kepada kejaksaan. a�?Sudah tahap II semua, menjadi urusan jaksa,a�? kata Tri Budi.

Memilih Bertahan

Sementara dari sisi pemerintah, di tengah keterbatasan biaya dan sumber daya, pemerintah memilih lebih bertahan. Maksudnya adalah memilih mempertahankan yang masih tersisa terlebih dahulu.

Sehingga kantor pengelolaan hutan (KPH) di seluruh NTB diiingatkan patroli setiap hari, tanpa hari libur. Karena para pencuri tidak pernah mengenal hari libur. Jika rutin melakukan patroli maka pembalakan liar bisa dikurangi.

a�?Sambil sedikit-sedikit kita lakukan rehabilitasi dengan anggaran yang ada,a�? kata Madani Makarom.

Sementara itu, Kepala Pusat Pengendalian dan Pengembangan Ekoregion Bali Nusa Tenggara, Kementerian LHK Rijaluzzaman mengatakan, bencana ada dua yakni bencana alam dan bencana lingkungan. Kalau bencana alam tentu merupakan bencana yang disebabkan aktivitas alam, sementara bencana lingkungan merupakan bencana yang disebabkan adanya kerusakan alam akibat ulah tangan manusia.

Dampak bencana akibat kerusakan lingkungan lebih parah dengan cakupan lebih luas dan relatif lama. Seperti banjir sejak dahulu juga sudah ada, tapi intensitas dan dampaknya tidak terlalu parah. Tapi dengan adanya perusakan alam, banjir saat ini memberikan dampak yang cukup dahsyat.

Misalnya di daerah perbukitan yang ditanami dengan tanaman musiman, akan menjadi persoalan besar. Seperti diA� Kota Bima, wilayahnya seperti mangkok, tapi bukit-bukit di sekelilingnya ditanami padi, jagung, dan sebagainya. Hal itu membuat konstruksi tanah cepat mengalami erosi.

a�?Jadi kesesuaian lahan untuk mendukung daya dukung lingkungan perlu dipertimbangkan,a�? katanya. (ili/dss/zen/ton/nur/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka