Ketik disini

Headline Sumbawa

Keluarga Mariam Butuh Bantuan

Bagikan

SUMBAWA– Satu lagi penderita bocah hydrocephalus yang membutuhkan uluran tangan dermawan. Dia adalah Olipia, 4 tahun, warga Dusun Kanar, Desa Badas, Kecamatan Labuhan Badas. Bocah malang ini butuh uluran tangan, guna kelancaran operasi kedua yang harus dijalaninya.

Wartawan Radar Sumbawa (Lombok Post Group) berkesempatan mengunjungi Olipia di kediamannya, kemarin. Kebetulan, sejumlah perawat dan bidan dari Puskesmas Labuhan Badas datang mengunjungi Olipia.

Saat itu, petugas sedang memeriksa kondisi Olipia yang hanya dipangku Mariam, sang nenek dalam keadaan lemas. Di kepala balita perempuan yang sudah mengempes ini masih terlihat selang cairan otak yang mengarah ke bagian perutnya. Kepala Olipia sudah tidak sebesar semula seperti yang kerap terlihat di penderita hydrocephalus. Karena Olipia sudah menjalani operasi penyembuhan ketika dia baru lahir. Kini Olipia harus menjalani operasi lanjutan. Hanya saja belum memiliki biaya untuk pemberangkatan dan proses lainnya.

Menurut Mariam, cucunya itu lahir di RSUD Sumbawa dengan kondisi hydrocephalus. Langsung saja dia dirujuk ke RSUD Mataram untuk dioperasi. Di usia dua tahun, Olipia kembali menjalani operasi. Seharusnya di usia empat tahun dia harus menjalani operasi lanjutan.

a�?a��Kami memang punya BPJS Mandiri. Tapi biaya ke sana yang kami tidak punya,a�? ujar Mariam.

Diungkapkan, orang tua cucunya sudah cerai ketika Olipia masih di dalam kandungan. Ibu Olipia kini bekerja sebagai staf di salah satu PJTKI di Sumbawa Besar. Sedangkan sang ayah tidak diketahui keberadaannya. Dengan kondisi yang dialami cucunya tersebut, Mariam berharap adanya uluran tangan dari pemerintah maupun donator yang peduli untuk ikut meringankan beban mereka.

Ternyata, selain Olipia, dua orang cucu Mariam juga mengalami kelainan. Mereka adalah Desi, 17 tahun, dan Muhammad Adha yang masih berusia dua tahun empat bulan. Keduanya menderita down syndrome. Mereka dirawat oleh adik ketiga dari Mariam, Sawariani. Kakak beradik ini tidak lagi memiliki ibu karena meninggal dunia. Sedangkan sang ayah sedang bekerja.

Keduanya nampak sehat dan aktif berkomunikasi dengan tamu yang datang bertandang ke rumahnya. Hanya saja ketika petugas kesehatan mengecek, respons Muhammad Adha tidak berarti. Adha sulit mengikuti instruksi petugas kesehatan. Berbeda dengan kakaknya, Desi, yang sudah paham dengan apa yang disampaikan lawan bicaranya.

Bidan Koordinator Kecamatan Labuhan Badas Nur Aida mengatakan, untuk Olipia, pihaknya sudah berkoordinasi dengan orang tuanya. Olipia sudah memiliki BPJS mandiri. Pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Sumbawa. Nantinya Dinas Kesehatan yang akan berkoordinasi dengan Pemda Sumbawa untuk mencari bantuan bagi Olipia. Karena sebelumnya operasi dilakukan dengan biaya yang ditanggung BPJS.

a�?a��Untuk operasinya sudah tidak ada masalah,a�? ujar Aida.

Selain itu, dia turun untuk mengecek respons Adha. Pihaknya melaksanakan stimulasi tumbuh kembang terhadap Adha. Dia juga memantau sampai sejauh mana perkembangan Adha. Pemantauan ini dilakukan sesuai dengan umurnya. Dia juga memberikan edukasi terhadap orang tua atau yang mengurusnya terkait perawatan anak dengan keadaan seperti itu. Misalnya sang anak tidak bisa bicara akan diajarkan caranya.

a�?a��Kalau hasil pemantauan, pada Adha masih ada penyimpangan. Karena Adha baru bisa bicara satu kata. Dia juga belum bisa memindahkan atau menyusun barang. Karena itu dia distimulasi,a�? katanya.

Sementara itu, untuk saudaranya, Desi sudah lewat masa perawatannya, karena sudah berumur 17 tahun. Meski demikian, pihaknya tetap melakukan pemantauan terhadap Desi. Kondisinya sendiri masih belum bisa bicara dengan benar. Namun sudah bisa merespons isyarat dengan sangat baik. (run/r4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka