Ketik disini

NASIONAL

TGB: SBY Peduli pada Bangsa

Bagikan

JAKARTAA�– Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono panjang lebar mengupas situasi negara saat menyampaikan pidato politik dies natalis PD ke-15 kemarin malam. Ada tiga poin penting yang dibicarakan Ketua Umum Partai Demokrat (PD). Yakni persoalan keadilan, kebhinnekaan, dan kebebasan.

Dalam pidato berdurasi sekitar satu jam lebih itu, SBY menyoroti pula isu-isu terkini. Di antaranya rangkaian aksi bela Islam, kasus penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama, hingga peristiwa aksi demostrasi di kediamannya di Mega Kuningan, Senin (6/2) lalu.

Ketua DPD Partai Demokrat NTB yang juga Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi yang berda di panggung utama saat SBY menyampaikan pidato politik tersebut menegaskan, Presiden RI ke-6 tersebut punya kepedulian untuk mengingatkan kepada masyarakat Indonesia. Terutama tentang konsep dasar yang mengikat sebagai bangsa.

Lewat pidato politik itu, SBY mengajak masyarakat Indonesia memaknai keadilan yang sebenar-benarnya, memahami kebhinekaan, dan kebebasan. TGB menilai tidak banyak pemimpin atau tokoh bangsa yang masih konsen dan memikirkan dengan sungguh-sungguh tentang kondisi bangsa.

“Jadi tidak hanya berbicara politik dalam arti kekuasaan, tapi juga konsep-konsep yang mengikat kita, konsep yang sangat penting yang harus kita pahami,” jelasnya.

Masalah keadilan, kata dia, sudah dijabarkan panjang lebar oleh SBY. Menurut TGB, keadilan secara substantif itu harus merata. “Artinya tidak hanya perekonomi saja yang jalan, tapi suasana kebatinan sebagai bangsa harus nyaman satu sama lain,” tegasnya.

Mengenai kebhinnekaan, gubernur mengatakan, bahwa kebhinnekaan itu sebenarnya sesuatu yang sudah mendarah daging. Kalau ada satu atau dua orang yang berstatemen atau ucapan-ucapan yang tidak bertanggung jawab, dan melaggar hukum, harusnya diproses hukum.

“Jangan ditarik-tarik ke arah kebhinnekaan. Kita sudah berbhinneka tunggal ika ini sejak republik ada, bahkan jauh sebelumnya dan tidak pernah ada masalah,” terang TGB menyikapi adanya isu kebhinnekaan.

Lebih lanjut, dia berbicara tentang peluang masyarakat. Terutama bagi mereka yang minoritas. Menurutnya, semua punya peluang yang sama. Bahkan dari segi ekonomi, mereka yang jumlahnya minoritaskan menguasi banyak sektor dan tidak ada masalah selama bisa menghadirkan keadilan.

“Kebhinnekaan tidak pernah jadi masalah, yang terjadi sekarang bukan isu kebhinnekaan tapi isu penegakan hukum,a�? tegasnya lagi.

Terkait sikap politik Demokrat, dia menegaskan, SBY sudah mempertegas posisinya. Yakni mendukung pemerintah yang ada sampai selesai dan mendukung kebijakan yang bermanfaat.

“Namun tetap mengkritisi. Tidak dalam rangka mendeligitimasi tapi untuk mengingatkan,” ungkapnya.

TGB juga mengomentari terkait isu Islam phobia. Menurutnya, sebenarnya itu bagian yang tidak boleh ada. Kalau itu terjadi, dia menilai akan menjadi paradox terbesar. Karena Indonesia ini negera mayoritas muslim.

“Bagaimana bisa ada phobia Islam dalam negara yang mayoritas muslim. A�Itukan aneh. Itu mirip dengan Kristen phobia di negara yang mayoritas Kristen. Itukan tidak mungkin,” sebutnya.

Islam phobia, lanjutnya, secara hakiki tidak ada di Indonesia. Karena semua masyarakat Indonesia, muslim maupun kristen cinta agama. Menghormati agama, termasuk menghormati Islam.

Dia menduga ada oknum yang sengaja menggulirkan isu tersebut. Padahal, Islam phobia itu sebenarnya tidak ada. “Mungkin ada petualang politik yang mencoba meniup-niupkan Islam phobia. Tapi sebenarnya tidak ada, Insya Allah tidak ada dan tidak boleh ada Islam phobia,” tandasnya.

Sebelumnya, dalam pidato politik SBY banyak menyinggung mengenai kinerja pemerintah dan memberi masukan, termasuk untuk Presiden Joko Widodo dan aparat penegak hukum.

SBY menyoroti tiga topik penting yakni keadilan, kebhinnekaan dan kebebasan. Justice, diversity and freedom.

Ketiga isu ini amat penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Ketiga isu ini sekarang juga sedang menjadi perhatian publik yang luas.

SBY menyebutkan, keadilan, kebhinnekaan, dan kebebasan mudah diucapkan, tetapi tidak mudah untuk diwujudkan. (jlo/r10/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka