Ketik disini

Giri Menang Headline

Wisatawan Mulai Bosan!

Bagikan

GIRI MENANG – Di tengah semakin menggeliatnya dunia pariwisata di Lombok Barat saat ini, justru objek wisata Taman Narmada dan Taman Suranadi mengalami kemunduran. Karena itu, dua tempat wisata ini butuh perhatian lebih dari pemerintah.

Jika objek wisata lain seperti Sesaot, Buwun Mas tengah ramai dan dilirik oleh A�wisatawan. Dua taman sarat peninggalan sejarah itu justru secara perlahan mulai ditinggal oleh pengujung.

Ibarat pepatah, hidup segan mati tak mau keduanya terancam gulung tikar. Meski saat ini secara umum masih bisa bersaing, namun gempuran objek wisata baru yang lebih menarik dan menawarkan kepuasan tersendiri, membuat wisatawan berpikir dua kali datang berkunjung. Mereka tampak mulai bosan.

Ketua Pusat Kajian Pariwisata Fakultas Ekonomi Uiversitas Mataram (Unram), Dr Ahmad Saufi mengingatkan, jika tak dikelola secara kreatif, Taman Narmada dan Suranadi akan ditinggal pengunjung. Saufi bahkan sudah melihat kedua taman terindikasi mengalami penurunan pengunjung. Meski ekonomi masyarakat sekitar tetap stabil.

“Ini harus segera dibenahi terutama menejemen SDM. Suranadi beberapa tahun belakangan mengalami kemunduran. Dulu sangat ramai, tapi sekarang sudah sepi,a�? terangnya di sela-sela acara rapat forum tata kelola pariwisata (FTKP) Lobar di kantor Kemenag Kecamatan Narmada, kemarin (9/2).

Reputasi Taman Narmada dan Suranadi sebagai primadona tahun-tahun sebelumnya tak bisa lagi dinikmati. Sempat menjadi primadona awal tahun 90-an, perlahan reputasi itu mulai anjlok.

“Suranadi dan Taman Narmada pernah mencapai kejayaan. Buming, selalu menjadi pilihan masyarakat. Tapi itu dulu, sekarang tak lagi,a�? ujarnya.

Saufi bahkan mengatakan, kedua taman telah gagal mempertahankan posisinya sebagai objek wisata nomor satu. Karena daya saing kurang, di sisi lain minim kreativitas masyarakat sekitar. Alhasil kedua taman sepi pengunjung.

“Keunikan Taman Narmada itu king palace, heritac (peninggalan sejarah). Suranadi pun demkian, disamping peninggalan sejarah, potensi sektor lain, seperti pertanian sangat menjanjikan. Itu yang seharusnya bisa dikembangkan,a�? jelasnya.

Lantas apa yang menyebabkan sepi peminat? Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kurangnya inovasi. Belum lagi, muncul objek wisata baru membuat Taman Suranadi dan Narmada makin tertinggal.

“Secara kualitatif permasalah kedua taman ada pada sistem pengelolaan. Untuk merecoveri, kuncinya di masyarakat sekitar,a�? tegas Saufi.

Beda halnya dengan tiga Desa Wisata baru di Lobar yakni Desa Sesaot, Buwun Sejati, dan Pakuan. Menurutnya, ketiganya justru mempunyai potensi kunjungan wisatawan yang menjanjikan.

Dibuktikan, jika dulu Sesaot lebih banyak dikunjungi wisatawan asing yang melakukan hiking, softtriking dan sebagainya. Belakangan, seiring tren lokal yang semakin meningkat dalam kepariwisataan, wisatawan lokal semakin banyak berkunjung. Apalagi melihat tingkat kunjungan dalam satu tahun terakhir, secara kualitiatif di tiga desa itu terus meningkat, terutama wisatawan lokal.

“Tahun baru kemarin meningkat sangat signifikan. Peningkatannya 100 persen,a�? ujarnya.

Namun lagi-lagi, ia mengingatkan meningkatnya kunjungan wisatawan harus meperhatikan kondisi alam. Dengan kunjungan yang sangat drastis itu, dampak terhadap lingkungan sangat besar. Bisa jadi peningkatan jumlah sampah dan tingkat pencemaran air.

Hasil kajiannya, di tiga desa itu hanya 30 persen masyarakat paham pariwisata. Dalam artian sudah tertarik dengan pariwisata. Tapi bagaimanapun harus diberikan pemahaman dampak positif meningkatnya kunjungan wisatawan tidak hanya berpengaruh meningkatnya ekonomi tapi lingkungan dan sosial masyarakat.

“Ketiga aspek ini harus berbarengan. Apalagi Sesaot ini adalah daerah penyangga. Kalau hujan lebat sementara di sana hutan sudah rapuh, kita khawatir akan banjir bandang seperti Bima,a�? katanya.

Sementara Ketua Kelompok Sadar Wisata (Poldarus) H Nur mengaku kesulitan di lapangan adalah kurangnya koordinasi dengan pemerintah terkait. Selama ini, A�kata dia, pemangku kebijakan hanya sampai di tingkat desa. Sementara pihaknya merasa kurang dilibatkan.

“Mungkin temen-temen anggota bisa diberikan pembinaan,a�? imbuhnya. (zen/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka