Ketik disini

Metropolis

Stop Mutiara “Tiongkok” Masuk NTB

Bagikan

MATARAMA�– Serbuan mutiara asal Tiongkok atau yang biasa disebut sebagai mutiara air tawar mulai membuat gelisah. Dengan harga yang sangat murah, mutiara ini semakin mendominasi pasar dan merusak harga mutiara lokal.

a�?Seharusnya sekarang dari pusat menyetop mutiara yang dari China (Tiongkok) itu,a�? kata Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) NTB Hj Putu Selly Andayani, kemarin (10/2).

Menurutnya, mutiara dengan kualitas rendah ini merusak harga pasar mutiara laut asli yang dimiliki NTB. Tapi, dalam hal ini pemprov tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengurangi peredaran mutiara Tiongkok itu.

Sebab kebijakan tersebut ada di tangan pemerintah pusat. Dengan perdagangan bebas ASEAN-CHINA (ACFTA) danA� Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), maka siapapun bisa memasukkan barangnya ke Indonesia. Bagitu pun Indonesia bisa bebas memasarkan barangnya ke negara-negara tersebut.

a�?Kita bisa memasukkan barang ke negaranya, maka dia juga bisa masuk,a�? katanya.

Sehingga untuk menjaga nama dan kualitas mutiara Lombok, maka konsumen harus cerdas dan bisa membedakan mana mutiara laut dan mana mutiara air tawar. Jika ingin mendapatkan mutiara asli, maka konsumen harus hati-hati dan memilih dengan benar.

Meksi sama-sama terlihat seperti mutiara asli, tapi berat dan kualitas kilaunya akan berbeda. Mutiara asli akan tahan lama, bahkan tidak akan rusak. Tapi jika mutiara air tawar tidak bertahan lama. a�?Jangan dilihat dari wajahnya saja, sebab sebulan sudah hitam,a�? kata Selly.

Dalam berbagai event nasional juga banyak dijual mutiara. Bahkan terlihat bagus dengan dibuat menjadi berbagai asesoris. Padahal mutiaranya bukan dari Lombok. Masalah ini secara langsung sudah ia sampaikan ke pusat, tapi karena ini merupakan kebijakan Kementerian Perdagangan maka tidak bisa distop.

a�?Itu (mutiara Tiongkok) yang mestinya dibatasi, tapi kita daerah tidak bisa berbuat,a�? katanya.

Selly menyebutkan, sepanjang 2016 nilai ekspor mutiara NTB mencapai USD 153.395,180 dengan volume 110 kg. Sementara untuk impor mutiara Tiongkok belum bisa didata karena tidak langsung ke NTB, tetapi melalui Jakarta atau Surabaya.

Sementara untuk ekspor di sektor kelautan juga tetap berjalan, seperti lobster saat ini sudah ada standar berat dan ukuran yang ditentukan melalui Peraturan Menteri Kelautanan dan Perikanan.

Sehingga pengiriman lobster berkurang karena tidak boleh mengirim benih di bawah 200 gram. Tapi NTB masih unggul dalam ekspor kerajinan, hanya saja masih perlu ditingkatkan kualitasnya dan harus memiliki lisensi SNI. Jika belum distandarisasi, belum bisa layak ekspor.

Kendala ekspor lainnya adalah saat ini NTB harus melalui perantara, sebab belum memiliki pelabuhan ekspor sendiri. Saat ini pelabuhan ekspor terdekat hanya di Bali, jadi keluar masuk barang dari luar negeri harus melalui Bali.

Demikian juga dengan produk NTB yang akan dikirim ke luar negeri harus melalui Bali. Sehingga saat ini, pihaknya masih kita memperjuangkan di bagian perdagangan luar negeri agar produk NTB mendapat Surat Keterangan Asal (SKA).

a�?Itu yang sedang kita perjuangkan,a�? kata Selly. (ili/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka