Ketik disini

Metropolis

Itu Terserah Penguasa, Tapi a��

Bagikan

Masjid At Taqwa Mataram akan diubah fungsinya menjadi perpustakaan. Banyak yang mendukungnya. Tapi tidak bagi Sahdi.

***

TIDAK banyak perubahan. Pemandangan lumrah terlihat di lingkungan Masjid At Taqwa Mataram. Ada dinding-dinding yang kokoh. Jamaah dominan bergamis putih, lalu lalang dan tidur-tiduran. Hingga para pejalan jauh, duduk singgah sekadar melepas lelah.

Suasana masjid yang sejuk, tak jauh dari jalan besar dan akses masuk yang mudah. Inilah alasan kuat mereka lebih memilih beribadah di sini. Walau di dinding kaca masjid, tertempel beberapa selebaran. Isinya, pemberitahuan jika masjid Hubbul Wathon yang megah di seberang jalan, mengambil alih tempat ibadah salat Jumat.

a�?Ini tempat yang mudah dijangkau. Orang-orang banyak transit di sini,a�? kata Sahdi. Salah satu anggota Jamaah Tabligh.

Dia pria yang ramah. Saat Koran ini tengah mengambil beberapa gambar, tanpa sungkan Sahdi langsung mengulurkan tangan. Mengucap salam dan mengajak berbincang. Pria berusia 39 tahun asal Pelembak Ampenan Utara itu, tengah dalam masa tugas ibadah. Menyiarkan agama Islam selama empat bulan ke depan.

a�?Setelah empat bulan (syiar agama) bersama jamaah lain, kembali lagi ke keluarga. Lalu seperti biasa cari nafkah selama 8 bulan. Setelah itu, ikut syiar Islam lagi, selama empat bulan di tahun berikutnya,a�? terangnya sembari tersenyum.

Sahdi sekaligus berusaha menepis isu yang menyebutkan Jamaah Tabligh adalah jemaah yang melupakan dunia. Menurut bapak yang telah punya tiga orang anak ini, itu tidak benar. Tuhan memberi manusia dalam satu tahun ada 12 bulan. Apa salahnya jika 4 bulan diisi dengan dakwah? Begitu kira-kira retorikanya.

a�?Allah tidak menyukai hamba yang nafsi-nafsi (sendiri-sendiri, Red). Menjadikan ibadah hanya urusan sendiri, tanpa memperdulikan sekitar. Ajaran kebaikan itu harus disebar,a�? kata pria lulusan SMA ini. Tetapi kemampuan orasi dia, mirip orator ulung yang sudah puas makan asam garam demonstrasi di jalanan.

Tapi ada yang membuat Sahdi dan rekan-rekannya bersedih dalam beberapa hari belakangan. Kabar soal Masjid At Taqwa yang rencananya akan diubah menjadi perpustakaan. Ia mengaku gundah. Meski tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab jika penguasa ingin meratakan tempat itu juga, tentu mereka tidak bisa berbuat banyak.

a�?Itu terserah penguasa, tapi kalau boleh berharap biarlah ini tetap menjadi masjid,a�? ujarnya penuh harap.

Ia mengaku sulit membayangkan jika tempat yang selama ini hanya untuk ibadah salat, mengaji dan berbagai persoalan keumatan lainnya turun nilai kesuciannya hanya karena tempat itu berubah jadi perpustakaan.

a�?Saya tidak tahu, apa sikap anak dan cucu sang pemberi tanah wakaf masjid ini. Apa mereka rela, ini nanti jadi perpustakaan?a�? ujarnya.

Tetapi Sahdi memperkirakan jika sang pewakaf akan berat hati. Melihat sesuatu yang awalnya diniatkan untuk masjid akhirnya diubah menjadi perpusatakaan. Yang ditakutkan Sahdi dan rekan-rekan lainnya, bagaimana jika saat jadi perpustakaan, eks masjid ini justru menjadi tempat muda-mudi berdua-duaan.

a�?Ngeri membayangkannya. Apalagi ini sudah memasuki akhir zaman. Bagaimana kalau blok-blok rak buku justru dimanfaakan untuk muda-mudi berdua-duaan,a�? ujarnya dengan mimik sedih.

Tak hanya itu, jamaah mereka juga bisa kehilangan tempat untuk berdiskusi dan belajar ilmu agama. Berkoordinasi sebelum turun ke kampung-kampung mengajak umat Islam lain memakmurkan masjid.

Atas dasar itulah ia dan jamaah lain mengaku terus bertahan. Menghidupkan berbagai kegiatan keagamaan. Berharap pemerintah melihat bahwa Masjid At Taqwa tidak akan mati walaupun masjid Hubbul Wathon Islamic Center mulai diberdayakan. Ia dan rekan-rekannya yang lain, berusaha melawan keinginan penguasa dengan doa.

a�?Apapun kehendak manusia, kalau Allah tidak berkehendak, tidak akan bisa terjadi. Walaupun satu Lombok ini menginginkan itu,a�? cetusnya.

Tetapi sebaliknya, jika memang Tuhan berkehendak mengubah a�?rumahNyaa�� menjadi perpustakaan tentu mereka juga tidak bisa menolak. Bagi Sahdi sebenarnya alangkah lebih baiknya jika Masjid At Taqwalah yang dipugar.

a�?Siapa yang tidak senang masjidnya diperindah? Tentu kalau ini (At Taqwa, Red) dipugar kami juga ikut senang. Tetapi kami akan sangat sedih kalau ini benar jadi perpustakaan. Meski ini mau jadi perpustakaan Islami atau apa,a�? keluhnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka