Ketik disini

Ekonomi Bisnis

KUR NTB Tumbuh 156,37 Persen

Bagikan

MATARAMA�– Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB mencatat realisasi KUR di NTB tahun 2016 mencapai Rp 635,27 miliar. Realisasi ini naik sebesar 156,37 persen dari tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 247,79 miliar.

a�?Kita berharap tahun ini realisasi KUR bisa lebih besar lagi,a�? kata Kepala OJK NTB Yusri pada kegiatan Pertemuan Tahunan Pelaku Industri Jasa Keuangan NTB Tahun 2017 di Hotel Golden Palace Selasa (14/2) lalu.

Yusri mengatakan, sejalan dengan perkembangan ekonomi nasional, kinerja ekonomi dan industri jasa keuangan di NTB juga menunjukkan perkembangan yang positif. Selama tahun 2016 ekonomi NTB tumbuh 5,82 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan nasional 5,02 persen.

a�?Tercatat inflasi yang terkendali di angka 2,61 persen, lebih rendah dari inflasi nasional 3,02 persen,a�? ujarnya.

Selaras dengan itu, pertumbuhan indikator utama perbankan NTB juga tumbuh dengan baik. Pertumbuhan tersebut mendorong nilai aset perbankan NTB tumbuh sebesar 26,94 persen di tahun 2016 menjadi Rp39,49 triliun. Kredit di NTB tumbuh dengan sangat baik, mencapai Rp 32,55 triliun atau tumbuh 29,98 persen dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut merupakan yang tetinggi dari lima tahun terakhir.

a�?Porsi kredit produktif di NTB pada tahun 2016 juga mengalami peningkatan, yaitu dari 44,43 persen pada tahun 2015 menjadi 50,91 persen,a�? tambahnya.

Ia menjelaskan capaian-capaian tersebut merupakan modal yang baik untuk menapaki tahun 2017. OJK NTB melihat ada optimisme, apalagi jika NTB menyadari bahwa proyek-proyek infrastruktur yang terus berjalan akan memberikan fondasi yang lebih kuat bagi bangunan ekonomi jangka panjang.

a�?Kami telah menyiapkan beberapa program yang selaras dengan kebijakan OJK secara nasional, yang akan berfokus pada dua hal,a�? terangnya.

Pertama, bagaimana peran sektor jasa keuangan dapat lebih kontributif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, meningkatkan daya beli masyarakat, dan sekaligus mendorong distribusi pendapatan yang lebih merata. Kedua, bagaimana kontribusi sektor jasa keuangan dapat dilakukan dengan tetap memperhatikan ketahanan dan stabilitas sistem keuangan.

Untuk itu, OJK NTB akan lebih mengoptimalkan beberapa program kerja yang telah digagagas bersama industri jasa keuangan, pemerintah dan Bank Indonesia, di antaranya program Laku Pandai, Simpanan Pelajar, Program Jaring, Asuransi Pertanian dan Ternak, Asuransi Nelayan, dan pembentukan LKM.

Sampai dengan Desember 2016, program Laku Pandai telah mencatat sebanyak 1.828 agen dengan jumlah nasabah yang mencapai 19.438 orang, dan total tabungan basic saving account yang mencapai Rp 6,03 Miliar. A�Sedangkan asuransi nelayan telah mencakup lebih dari 3 ribu nelayan, asuransi sapi telah mengasuransikan lebih dari 700 sapi, dan asuransi jagung telah mencakup lebih dari 2 ribu petani dengan tanah seluas 4 ribu hektar. a�?Hal tersebut menunjukkan perkembangan dalam produk-produk keuangan yang inklusif dan memenuhi kebutuhan masyarakat NTB. Kami akan terus mendukung perkembangan produk-produk tersebut,a�? imbuhnya.

OJK NTB juga akan mendorong realisasi KUR dapat lebih tepat sasaran. Hal ini untuk mendorong KUR dapat membantu dan mengembangkan UMKM yang tengah berkembang di NTB.

OJK NTB juga akan mengoptimalkan peran Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) di NTB dengan mendukung perluasan TPAKD di tingkat kabupaten/kota. Ini guna mendorong peningkatan kontribusi industri keuangan yang lebih besar dan merata di wilayah NTB.

Menurut Survey Literasi Keuangan tahun 2016, tingkat literasi keuangan di NTB masih rendah. Dari 36 provinsi di Indonesia, NTB menduduki posisi ke 35, dengan tingkat literasi sebesar 21,45 persen masih berada jauh di bawah tingkat literasi nasional sebesar 29,66 persen. Ini dengan tingkat inklusi sebesar 63,27 persen juga masih di bawah tingkat inklusi nasional sebesar 67,82 persen.

a�?Dengan dukungan dari Pemerintah Provinsi NTB kami yakin dapat meningkatkan inklusi dan literasi keuangan melalui program TPAKD,a�? jelasnya.

Selanjutnya OJK NTB akan terus mendorong perbankan daerah untuk meningkatkan penyaluran kredit kepada sektor produktif serta menggali potensi penyaluran kredit ke berbagai daerah yang potensial di provinsi NTB. Namun, akses keuangan masih terbatas. Beberapa sektor ekonomi yaitu perdagangan, industri pengolahan, pariwisata, pertanian, perikanan, dan kelautan diharapkan menjadi motor penggerak pertumbuhan.

OJK NTB juga akan mendorong dan meningkatkan peran Bank Pembangunan Daerah (BPD) bagi perekonomian daerah. Sebagaimana yang diketahui sebagian besar BPD saat ini, termasuk Bank NTB, memiliki eksposur kredit yang didominasi oleh kredit konsumsi. Untuk itu, OJK NTB akan mendorong komitmen Bank NTB terhadap upaya transformasi BPD terutama melalui peningkatan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi daerah yang didukung dengan SDM yang professional, infrastruktur IT yang memadai.

a�?Serta penerapan GCG, manajemen risiko, dan pengendalian internal yang lebih efektif,a�? ujarnya.

Dalam rangka mendorong pasar modal sebagai alternatif sumber pembiayaan jangka panjang di luar perbankan terutama bagi perusahaan di daerah dan UKM, tahun ini, OJK akan menyederhanakan proses penawaran umum melalui electronic registration. Dalam hal ini, OJK juga berupaya mendorong daerah yang memiliki potensi kapasitas fiskal dan pengelolaan keuangan untuk dapat memanfaatkan peluang Obligasi Daerah guna mendorong akselerasi pembangunan infrastruktur.

a�?Untuk itu, kami membuka ruang diskusi untuk meningkatkan pemahaman terkait mekanisme penerbitan dan pemanfaatan produk obligasi daerah di NTB,a�? tandasnya. (nur/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka