Ketik disini

Ekonomi Bisnis

Pebisnis Harus Punya Disruptive Mindset

Bagikan

BEKASIA�– Pesatnya perkembangan teknologi informasi (TI) mengubah lanskap bisnis di berbagai sektor industri. Banyak raksasa korporasi yang kini harus pontang-panting menghadapi serbuan kompetitor yang tak terduga.

Rhenald Kasali menyebutkan, kondisi itu merupakan imbas fenomena disruption, yakni munculnya inovasi yang mendobrak pasar yang selama ini dikuasai pemain-pemain lama. a��a��Disruption ini muncul di hampir semua sektor bisnis,a��a�� jelasnya saat launching buku Disruption di Rumah Perubahan kemarin (19/2).

Fenomena disruption paling kentara terjadi di sektor transportasi. Dominasi raksasa transportasi seperti Blue Bird Group dan Express Group kini tergerus habis-habisan setelah muncul penyedia aplikasi taksi online seperti Gojek, Uber, maupun Grab.

Menurut Rhenald, desakan pemain-pemain baru yang lahir dari gelombang disruption itu sulit dibendung. Selain karena memberikan kualitas layanan yang bagus dengan harga terjangkau, pemain-pemain baru tersebut tak terlihat dan sulit dipetakan pemain-pemain lama. a��a��Lihat saja taksi online. Mereka beroperasi dengan pelat hitam. Pool-nya adalah garasi rumah. Inilah salah satu fenomena yang saya sebut dengan istilah a��peradaban Ubera��,a��a�� kata Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) itu.

Rhenald menyatakan, peradaban Uber adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan fenomena lain yang terjadi di berbagai sektor. Misalnya, bagaimana penyedia layanan penginapan Airbnb berhasil mendisrupsi bisnis raksasa-raksasa perhotelan yang sudah menggurita.

Pakar yang tahun lalu dinobatkan sebagai salah satu Global Gurus in Management tersebut mengungkapkan, era disruption ditandai dengan adanya pergeseran dari owning economy menjadi sharing economy. Artinya, untuk berbisnis, para disrupter tidak harus memiliki aset, tetapi cukup dengan menggunakan aset milik orang lain yang menjadi mitra bisnisnya. a��a��Sehingga tidak butuh capital expenditure (belanja modal) yang besar untuk membeli aset,a��a�� ucapnya.

Karena itu, lanjut Rhenald, semua pelaku bisnis yang ingin tetap bertahan dan tumbuh harus bisa memetakan dampak disruption di sektor bisnisnya, lalu membangun pola kerja sama dan jejaring, kreatif, serta mengembangkan disruptive culture dengan mengembangkan model layanan yang menjawab tuntutan baru pelanggan. a��a��Kalau tidak, pelaku bisnis sebesar apa pun sulit bertahan karena kini harus berhadapan dengan lawan-lawan yang tak kelihatan,a��a�� ungkapnya.

Sayang, disruptive mindset belum banyak dimiliki para pengambil keputusan di kalangan pemerintah atau regulator. Karena itu, kasus ribut-ribut taksi online mesti menjadi pelajaran berharga. a��a��Regulator harus mengikuti perkembangan zaman dengan mendukung inovasi, bukan malah menghambat inovasi,a��a�� ujarnya. (c23/owi/jpg/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka