Ketik disini

Sudut Pandang

Pendidikan Nirkekerasan

Bagikan

KEKERASAN menjadi aksi yang tidak pernah berakhir di republik ini. Dengan banyak modus kekerasan hadir di berbagai tempat dan melibatkan pelaku dalam beragam latar belakang dan usia yang bervariasi. Kasus pembunuhan yang melibatkan pelajar Sekolah Menegah di Bima beberapa hari silam misalnya menjadi indikasi betapa kekerasan sudah tidak mengenal tempat dan usia.

Kekerasan yang melibatkan pelajar cukup memprihatinkan, bukan saja karena seringnya kejadian tersebut berlangsung, tapi juga karena identitas aktor-nya yang masih tercatat sebagai pelajar dan masih realtif muda, sedang proses belajar, pembinaan, dan sedang berseragam sekolah yang nota bene sebagai simbol komunitas terdidik. Sungguh merupakan fenomena yang kontras, di saat berseragam sekolah dan sehabis belajar (termasuk belajar etika) malah melancarkan aksi kekerasan.

Kekerasan dengan melibatkan anak dan remaja sebagai pelakunya sangat menyedihkan karena dikhawatirkan kekerasan menjadi habit yang terus dilakukan pada masa-masa yang akan datang. Lebih memprihatinkan lagi karena kekerasan yang dilakukan oleh anak dan remaja mengindikasikan gagalnya pendidikan (formal dan informal) terhadap mereka. Atau bila tidak ingin disebut gagal, kata a�?lalaia�? mungkin dianggap sopan untuk menggambarkan ketidakseriusan kita untuk menyiapkan generasi nirkekerasan.

Pendidikan adalah salah satu solusi sekaligus sebagai alat untuk membangun generasi nirkekerasan. Pendidikan nirkekerasan idealnya dimulai sejak usia dini dan terus berlanjut hingga pendidikan menengah. Skema pendidikan nirkekerasan berjenjang seperti ini mengharuskan keterlibatan multi kalangan di dalamnya.

Orang tua sebagai pengawal di lingkungan rumah tangga, masyarakat sebagai pencipta dan penjaga lingkungan sosial, dan pendidik yang merawatnya selama anak berada di lingkungan sekolah.

Pendidikan nirkekerasan di usia dini menjadi urgen di tengah banyaknya godaan yang mengajarkan kekerasan pada anak-anak. Televisi misalnya telah menjadi pendidik sosial yang berpotensi mencuci otak dan karakter balita lewat program yang disuguhkannya.

Tontonan-tontonan yang bersegmen anak seperti film kartun atau sinema anak belum sepenuhnya steril dari irisan kekerasan (verbal maupun nonverbal). Di tengah ketawanya anak kita saat menonton adegan lucu film karton, tanpa disadari pada saat bersamaan terjadi penanaman nilai-nilai kekerasan dalam diri mereka.

Teori kultivasi telah mengajarkan kita betapa televisi menjadi a�?racuna�? bagi anak saat menanamkan nilai secara pelan tapi pasti terhadap konsumennya (khususnya anak). Artinya, bila anak menonton acara berisi kekerasan maka pada saat itu nilai kekerasan terinternalisasi oleh mereka dan akan dipraktekkan saat mereka berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Atau paling tidak anak-anak menjadi permisif dengan kekerasan.

Lingkungan keluarga menjadi wilayah strategis untuk menanamkan nilai nirkekerasan bagi generasi. Menjaga tontonan mereka saja tidak cukup, tetapi harus dilengkapi dengan keteladanan. Rumah tangga yang damai diyakini akan melahirkan generasi yang cinta damai dan penebar kasih sayang.

Kekerasan bukan merupakan sifat dasar manusia, tetapi hadir dari proses belajar dan bentukan lingkungan dimana seorang hidup. Nabi Muhammad saw dalam sabdanya sudah mengingatkan bahwa a�?Setiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang membuat dia menjadi Yahudi, Nasarani, atau Majusia�?.

Teori Tabularasa juga relevan untuk menjelaskan betapa strategisnya peran orang tua bagi pembentukan karakter anak. Menurut teori ini, anak yang dididik seperti kertas kosong dan pendidiklah (termasuk orang tua di dalamnya) yang menulis dan mengarahkannya berkarakter baik atau jahat.

Hitler menjadi pembunuh kelas kakap tidak terlepas dari tradisi broken home yang membesarkannya. Oleh karena itu diperlukan adanya gerakan dan kampanye (mengkomunikasikan) hidup damai mulai dari lingkungan keluarga. Orang tua mesti menjadi pendidik hidup damai pertama, minimal dengan mengkomunikasikan (memberi teladan) secara verbal dan nonverbal pesan nirkekerasan.

Lingkungan sosial saat ini tidak menunjukkan perform ideal sebagai ruang belajar sosial bagi anak dan remaja. Konflik horizontal yang acap kali terjadi menjadi pelajaran kekerasan gratis bagi anak. Bahkan konflik sosial seperti tawuran tidak sedikit melibatkan remaja di dalamnya. Konflik-konflik di dunia politik juga sedikit banyak mempengaruhi karakter anak. Apalagi konflik tersebut terpublikasi oleh media massa dan menjadi viral di media sosial. Tokoh dan publik figur yang seharusnya menjadi tauladan justru menunjukkan konflik sehingga bangsa ini layak disebut sebagai bangsa yang krisis keteladanan.

Lalu bagaimana dengan lembaga pendidikan formal kita? Beberapa kasus kekerasan yang melibatkan pelajar mengindikasikan bahwa sesungguhnya institusi pendidikan belum sepenuhnya berhasil mengajarkan etika dan budaya santun atau budaya antikekerasan kepada peserta didiknya. Padahal, institusi pendidikan diharapkan berada di garda terdepan dalam menata dan membina moral serta etika generasi masa depan yang akan melanjutkan perjalanan bangsa ini. Pesimisme kita terhadap kontribusi lembaga pendidikan dalam mencetak generasi bermoral cukup beralasan ketika dikaitkan dengan kecenderungan yang diperlihatkan para pendidik akhir-akhir ini.

Saat ini susah ditemukan pendidik yang memperlihatkan ketulusan dan keikhlasan maksimal dalam mendidik dan membimbing siswanya. Semangat pendidik selalu diwarnai dengan sikap materialis, sehingga bayaran dan reward selalu memandu setiap pengabdiannya sekaligus akan mereduksi semangat ketulusan. Undang-Undang politik yang telah memberi ruang kebebasan kepada setiap orang dalam menentukan pilihan politiknya, telah berhasil a�?menggiringa�? para pendidik untuk lebih jauh terlibat dalam setiap agenda politik yang berlangsung di wilayahnya. Tidak ada yang salah dengan partisipasi pendidik dalam setiap agenda politik, karena hal tersebut sebagai wujud pemenuhan hak politiknya. Apalagi kalau mereka (pendidik) mampu memberikan contoh partisipasi politik yang positif untuk dapat diteladani oleh setiap siswanya. Tetapi kenyataannya sering kali para pendidik masuk lebih jauh ke ranah politik praktis, layaknya politisi. Bahkan terkadang di antara mereka memperlihatkan budaya politik a�?kotora�?A� dan a�?kekerasana�? yang tidak pantas diperlihatkan seorang pendidik. Kecenderungan ini secara eksplisit mengindikasikanA� adanya krisis figur pendidik untuk diteladani siswa. Padahal peran pendidik (guru) sangat diharapkan untuk membantu orang tua siswa dalam membangun karakter nirkekerasan generasi masa depan, di tengah banyaknya tantangan eksternal yang menggoda para pelajar. (r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka