Ketik disini

Metropolis

Petani Untung, Pembeli Menjerit

Bagikan

MATARAM – “Pedasnya” harga cabai hingga menembus angka Rp 150 ribu perkilo gram (Kg) di pasar tradisional membuat masyarakat banyak geleng-geleng kepala. Ada yang menyebut, kenaikan harga saat ini yang paling lama, jika dibandingkan kenaikan harga cabai di tahun-tahun sebelumnya.

“Ndak beli butuh, tapi kalau beli harganya mahal!a�? keluh Maesarah, salah satu pengunjung pasar Mandalika.

Sementara itu, dari keterangan Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram H Mutawalli naiknya harga cabai di Kota Mataram di dorong oleh permintaan yang tinggi. Kondisi semakin parah setelah Menteri Pertanian RI datang ke NTB.

Saat itu, sang menteri secara khusus meminta stok cabai NTB digunakan untuk mengamankan kebutuhan Nasional.

Menanggapi itu, Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana, justru berharap kebutuhan lokal dahulu yang dipenuhi. “Saya rasa bukan begitu ya, tetapi kita penuhi dulu kebutuhan lokal,a�? kata Mohan.

Barulah, jika ada sisa pemenuhan kebutuhan pasar lokal, para petani bisa berkontribusi melakukan dropping hasil petanian cabai lokal ke Pulau Jawa. Bukan sebaliknya, mengamankan pasar nasional baru memikirkan lokal.

“Nanti saya coba koordinasi dengan Kadis Pertanian juga, seperti apa sih ketersediaan stok kita,a�? terangnya.

Untuk kesekian kalinya, Mohan menegaskan kenaikan harga saat ini bersifat nasional. Belum lagi, proses panen butuh waktu lama.

Dugaan adanya permainan mafia atau aksi spekulan memang bisa terjadi di tengah gonjang-ganjing harga yang tak kunjung turun. “Ya bisa saja mereka manfaatkan situasi ini ya. Nanti kita cari solusinya,a�? tandasnya.

Kenaikan harga ini, memang bisa jadi tantangan dan ujian tersendiri bagi Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram Lalu Alwan Basri. Mantan Kabag Humas dan Protokoler Setda Kota Mataram ini mengaku sudah turun ke sejumlah pasar tradisional. Alwan mengaku mencoba menginventarisir masalah yang membuat harga cabai begitu tinggi.

“Kalau saya lihat, peluang adanya mafia dan spekulan di balik kenaikan harga ini kecil. Walaupun bisa-bisa saja terjadi,a�? kata Wartan.

Persoalannya, lanjut dia, kenaikan harga ini justru terjadi oleh para petani yang sudah melepas harga tinggi hasil pertanian mereka. Jadi wajar, jika di pasar harga yang didapat konsumen pun semakin tinggi. Sebab, ada rantai distribusi yang membutuhkan biaya tambahan. “Harga naik karena permintaan yang naik,a�? ujarnya.

Realitanya, dengan kenaikan harga ini, kata Alwan, di lapangan justru tidak ada petani yang menjerit. Mereka bahkan memanfaatkan betul momentum kenaikan harga untuk meraup keuntungan lebih.

Satu-satunya momentum yang bisa membuat harga turun dalam pengamatannya yakni, jika terjadi surplus hasil pertanian. “Ya tunggu surplus dulu, baru bisa turun,a�? tandasnya.

Hanya saja, Alwan tidak menjelaskan secara rinci apa yang menjadi penyebab permintaan cabai begitu tinggi. Memang ada permintaan dalam skala nasional, untuk distribusi cabai ke berbagai daerah. Tetapi tidak menjawab alasan mengapa perimtaan ini terus tinggi dalam dua bulan terakhir.

“Perlu juga memang melihat data statistik berapa peningkatan permintaanya, sebagai perbandingan,a�? tandasnya. (zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka