Ketik disini

Metropolis

Saatnya “Bank Subuh” Ditinggalkan

Bagikan

MATARAM – Fenomena maraknya bank subuh alias rentenir yang menjerat para pedagang kecil di pasar-pasar tradisional di Mataram harus disudahi. Dengan sifatnya yang terbukti tak membantu namun justru “mencekik”, bank subuh seharusnya sudah mulai ditinggalkan.

“Sudah gak zaman pakai bank subuh itu,” kata Kadis Keperasi, Perindustrian, dan IKM Kota Mataram Yance Hendra Dirra, kemarin (21/2).

Dijelaskan, para rentenir atau yang juga biasa dikenal dengan istilah bank rontok biasa bergriliya ke tengah para pedagang. Dengan syarat sangat mudah, semisal KTP, pedagang sudah diberikan pinjaman.

Awalnya terkesan sangat membantu. Namun, masalah biasa mulai datang saat mereka menarik iuran. Ada bunga yang sangat tinggi yang dibebankan. a�?Hitung-hitungan saya sampai 33 persen bunganya,a�? ujar Yance.

Dalam banyak kasus, mereka bahkan membuat bunga kembali berbunga. Boleh jadi jumlah total yang dikembalikan bisa mencapai dua kali lipat dari pinjaman awal.

Karena itu, Yance mengimbau para pedagang pasar mulai meninggalkan bank subuh tersebut. a�?Sekarang sudah banyak skema pembiayaan resmi,a�? ujarnya.

Bank-bank nasional kini menyediakan berbagai skema pembiayaan resmi dengan bunga yang sangat rendah. Kisarannya kurang dari 10 persen.

Melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), atau Lembaga Pembiayaan Dana Bergulir (LPDB), pedagang sebenarnya bisa mendapat pendanaan yang lebih fair. “Beralih saja, jangan percaya sama yang aneh-aneh itu,a�? pesannya.

Lantas, jika sudah ada yang lebih murah, mengapa para pedagang masih banyak yang menggunakan jasa rentenir? Menurut Yance, hal itu karena pedagang umumnya memilih pola yang dianggapnya sangat sederhana. Padahal jika dicermati betul, sejumlah syarat yang diajukan bank tidaklah berat.

Mereka kadung pesimis, bahkan apatis akan mendapat bantuan. Padahal jika dicoba, ia yakin banyak pedagang akan lolos saat diperiksa bank. Ujungnya mereka mendapat pembiayaan dnegan bungan rendah. “Namanya lembaga resmi ya ada syarat dong, tapi tidak ribet kok,a�? katanya meyakinkan.

Hal inilah yang kini coba terus disosialisasikan. Beberapa kali timnya turun langsung ke tengah para pedagang pasar. Harapannya, perlahan namun pasti pedagang yang masih sangat tradisional tersebut mau berubah. a�?Ini untuk kebaikan mereka juga,a�? ujarnya.

Juniatun, salah seorang pedagang di Pasar Pagesangan yang sudah mendapat sosialisasi itu, membenarkan banyak pedagang termasuk dirinya masih sangat tergantung pada bank subuh. Alasannya sederhana, mereka langsung mendatangi pedagang, dengan menawarkan syarat yang sangat mudah. a�?Kalau lewat bank itu ribet, ujung-ujungnya susah dapat,a�? ujarnya.

Masnah pedagang lain mengatakan pada prinsipnya pedagang jelas menginginkan pembiayaan yang bunganya paling rendah. Namun perihal keterikatan dengan bank subuh yang sangat susah dielakkan, ia mengatakan hal itu karena pedagang mencoba mencari yang paling sederhana. Mereka tak punya waktu cukup untuk mengurus ini dan itu sebagai syarat perbankan.

“Kalau syarat bank bisa semudah bank subuh, kami pasti mau,a�? ujarnya polos. (yuk/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka