Ketik disini

Headline Metropolis

Pemprov Anggap Jadi Obat

Bagikan

MATARAM–  Pro dan  kontra mobil pemerintah yang masuk ke Gili Trawangan membuat Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Muhammad Faozal angkat bicara. Keberadaan mobil tersebut sifatnya hanya sementara untuk membersihkan tumpukan material di pinggir pantai.

”Kendaraan ini kita ilustrasikan sebagai obat,” kata Faozal memberikan keterangan pers terkait Gili Trawangan di kantornya, kemarin (23/2).

Misalnya jika ada orang yang sakit, maka tentu dibutuhkan obat agar bisa sembuh. Setelah sembuh tentu obat akan berhenti diberikan.

Demikian juga dengan Gili Trawangan, penyakitnya saat ini adalah sampah dan tumpukan bangunan bekas bongkaran sebanyak 18 ton per hari.

Bila sudah bersih maka kendaraan itu akan ditarik, dan tidak akan ada kendaraan lain yang boleh masuk lagi ke sana. ”Trawangan sehat, sampah bersih, tidak ada lagi tumpukan maka kendaraan itu akan kita tarik, pasti,” tegasnya.

Faozal menegaskan, kendaraan itu hanya sesaat tidak akan terus menerus. Pemerintah juga sudah menyiapkan desain penataan pantai yang lebih baik ke depan.

Jalur cidomo dan pejalan kaki akan dibenahi agar lebih baik. Ia optimis setelah penataan Gili Trawangan akan menjadi lebih baik lagi.

Dijelaskan, keberadaan mobil yang masuk ke Gili Trawangan itu adalah dalam rangka penertiban. Di mana penertiban ini sudah direncanakan dalam cukup lama.

Bertahun-tahun pemprov bersama Pemda Kabupaten Lombok Utara ingin agar pantai di gili bisa dinikmati pengunjungnya.

”Tidak kemudian dinikmati hanya orang yang punya duit, semua hal harus dengan uang,” katanya.

Artinya, apa yang dilakukan hari ini adalah sebuah proses panjang yang sudah dibahas bersama Pemda KLU. Salah satu yang sudah berjalan, masuk hari ketujuh adalah pembongkaran dari bangunan di roi pantai.

Dengan standar bangunan yang sudah diputuskan bersama, tidak boleh ada material yang berbahan baku beton di roi pantai. Sudah selesai sosialisasinya. Hampir semua pengusaha menyatakan siap untuk membongkar, malah dengan sukarela membongkar.

Hotel-hotel besar yang dikhawatirkan tidak akan mengikuti pembongkaran, kenyataanya mereka memberi contoh membongkar dengan sukarela.

Demikian juga dengan Hotel Aston, mereka sudah datang dan tidak bisa membongkar tanpa persetujuan pemilik di pusat. Tapi ia menegaskan bahwa pemerintah tidak memiliki urusan dengan pemilik, karena hal ini berkaitan dengan izin.

Sehingga pemerintah memberikan pilihan, jika hotel tidak sanggup membongkar maka pemerintah akan siap membongkarnya. ”Itu kita kasi batas waktu besok tanggal 24, bangunan di roi pantai harus dibongkar,” katanya.

Kemudian, dampak dari pembongkaran ini menghasilkan banyak material, baik berupa beton atau kayu. Sehingga terjadi penumpukan material hasil bongkaran bangunan di tepi pantai Gili Trawangan.

Jika hanya menggandalkan lima cidomo dengan kapasitas angkut terbatas, maka akan membutuhkan waktu lama. Akhirnya, berdasarkan kesepakatan bersama antara Pemda KLU, aparat desa dan pelaku usaha Gili Trawangan maka diputuskan menggunakan dua unit mobil untuk mengangkutnya.

Pelaku usaha sampai memohon izin ke bupati untuk memasukkan kendaraan, akhirnya dipenuhi dan disewakan tongkang oleh bupati. Jam operasional kemudian diatur agar tidak terlihat oleh wisatawan, dari jam 03.00-07.00 Wita.

”Ketika kendaraan itu sampai di lapangan maka ribut-ributlah hari ini (kemarin) dikaitkan dengan Trawangan yang zero polusi,” katanya.

Menurutnya, penggunaan mobil tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Sebab masalah yang lebih penting di sana adalah masalah sampah dan bongkaran bangunan yang menumpuk.

Jika dibiarkan menumpuk di pinggir pantai maka pemandangan akan menjadi buruk. Dan kendaraan tersebut hanya sementara waktu di Gili Trawangan untuk membersihkan tumpukan sampah. (ili/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka