Ketik disini

NASIONAL

Siti Aisyah Dituding Pakai Pemusnah Massal

Bagikan

KUALA LUMPUR – Kasus pembunuhan WN Korea Utara (Korut) menemukan titik terang. Setelah otopsi dilakukan dan spesimen, Departemen Kimia telah menemukan bahan kimia apa yang tedapat pada tubuh korban. Berdasarkan analisis awal pada wajah dan mucosa mata, ditemukan bahan kimia berupa ethyl s-2-diisopropylamoethyl methylphosphongthiolate atau lebih dikenal dengan sebutan VX nerve agent.

”Saya katakan bahwa penyebab kematiannya mungkin (bahan kimia) ini,” kata Inspektur Jenderal Polisi Diraja Malaysia Tun Sri Khalid Abu Bakar kepada wartawan saat ditemui di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), Malaysia, kemarin (24/2).

Pada keterangan resmi yang dirilis Polis Diraja Malaysia, VX terdaftar sebagai senjata kimia dalam daftar 1 Chemical Weapon Convention Act 2005 dan Chemical Weapons Convention (CWC) 1997. Kendati sudah ditemukan ada bahan kimia mematikan, Khalid masih belum bisa berspekulasi lebih jauh. Menurutnya, saat ini pihaknya masih terus melakukan invetigasi untuk mendapatkan kebenaran tentang penyebab kematian pria Korut itu.

”Selebihnya masih jadi subjek dari investigasi kami. Investigasinya sedang berjalan,” terangnya.

Khalid mengatakan bahwa zat berbahaya itu juga memberikan efek kepada si eksekutor. Menurut keterangannya, satu dari dua perempuan terduga melakukan pembunuhan terhadap Kim Chol sempat terkena efek zat tersebut. ”Dia muntah,” kata Khalid yang menolak menjelaskan lebih detail mengenai hal tersebut.

Pakar Toksikologi Universitas Indonesia Budiawan mengatakan bahwa VX adalah bahan senjata kimia yang masuk golongan berbahaya. Penggunaannya merupakan kejahatan besar. ”Bahan kimia tersebut hanya diciptakan untuk senjata kimia pemusnah massal dalam perang,” katanya.

Budiawan menjelaskan bagaimana VX bekerja dan bereaksi pada tubuh manusia. Menurutnya, VX bekerja dengan menghambat enzim acetylcholinesterase (asetilkolin) yang ditemukan dalam sistem saraf. Asetilkolin sendiri berperan dalam mentransmisikan sinyal atau rangsangan yang diterima untuk diteruskan ke sel-sel saraf yang berdekatan atau pada sambungan neuromuscular.

”VX ini fungsinya memecah asetilkolin. Jadi, jika asetilkolin terakumulasi di antara sistem saraf dan otot, makan kontraksinya akan terganggung alias gagal fungsi,” terang Budiawan.

Budiawan menjelaskan, zat racun itu umumnya akan lebih cepat bereaksi melalui jalur inhalasi alias terhidup. Dan jika memang benar racun tersebut disapukan ke wajah korban, kemungkinan terhirup sangat besar. Dan sebetulnya, berkontak langsung dengan zat tersebut sangat berbahaya. Menurut Budiawan, para eksekutor itu harus memakai pelindung agar tidak terpapar racun itu.

”Saya meragukan informasi mereka menggunakan tangan kosong yang dilumuri racun untuk melakukan aksi. Berkontak dengan racun itu sangat berisiko untuk si pelaku,” terangnya.

Budiawan juga mengatakan bahwa para eksekutor harus diperiksa kesehatannya. Mereka harus diperiksa apakah terpapar atau tidak. Minimal tes darah atau urine. Terlebih, seperti yang dikatakan Khalid, salah satu dari mereka menunjukkan reaksi terhadap racun dengan muntah.

”Itu kan zat berbahaya. Eksekutornya bisa terpapar apalagi katanya dengan tangan kosong. Harusnya diperiksa kesehatannya. Tapi harus secara objektif mengingat keduanya merupakan tertuduh,” katanya.

Terkait dengan lama racun tersebut bereaksi, Budiawan mengatakan hal tersebut sangat bergantung pada dosis yang diberikan. Namun, dia memastikan bahwa dalam jumlah yang tepat, dalam hitungan menit saja racun tersebut sudah bisa menewaskan seseorang. Jika melihat rentang waktu antara eksekusi sampai korban tewas, Budiawan menduga dosisnya melebihi lethal dose 50. Yakni 7 mokrogram per kilogram berat badan korban.

”Jika berat badan korban 80 kilogram dikalikan 7 mikrogram jadi 560 mokrogram atau 0,5 miligram. Ini jelas lebih besar dari angka minimal lethal dose,” ungkapnya.

KLIA2 Disisir

Sementara kemarin, diketahuinya racun yang diduga membunuh WN Korea Utara (Korut) bernama Kim Chol di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2 cukup mengejutkan. Bukan hanya karena mampu membunuh seseornag dalam waktu yang begitu singkat, tapi juga karena kandungannya yang sangat berbahaya. Hal tersebut membuat pihak kepolisian, bersama Atomic Energy Licensing Board (AELB) menggelar operasi di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2.

Mereka menelusuri jalur mana yang dilalui dua terduga pembunuhan Kim Chol, Doan Thi Huong dan Siti Aisyah, serta jalur yang juga dilalui Kim Chol setelah terpapar racun. Mereka melakukan pemindaian dan pembersihan. Managing Director Malaysia Aiports Datuk Badlisham Ghazali menurutkan pihaknya sudah melakukan pengecekan juga terhadap Menara Clinic yang sempat didatangi Kom Chol sesaat sebelum dilarikan ke rumah sakit.

”Namun, tidak ditemukan keanehan pada kasus-kasus medis yang ditangani klinik tersebut sejak terjadi insiden,” katanya kemarin (24/2).

Badlisham juga mengatakan pihaknya langsung melakukan medical check-up kepada staf bandara yang melakukan kontak langsung dengan korban. ”Dan medical record-nya mengaakan bahwa dia sehat,” ucapnya.

Inspektur Jenderal Polis Diraja Malaysia Tun Sri Khalid Abu Bakar menuturnya, pemeriksaaan yang dialkukan tersebut ditujukan untuk mengecek apakah ada bahan radioaktif yang terdeteksi di KLIA 2. ”Kami cukup concern dengan hal tersebut. Dan kita lihat apakah bahan tersebut mengandung radioaktif atau tidak,” kata Khalid.

Sebelumnya, pihak kepolisian telah menyita sejumlah bahan kimia di sebuah kondominium di Jalan Klang Lama, Kuala Lumpur. Seperti dilansir The Star, beberapa sumber mengatakan bahwa pada Rabu (22) siang, personel polisi dituntun oleh seorang pria Malaysia berusia 30-an ke kondominium tersebut. Di sana, tim forensik dari kepolisian melakukan pengecekan jejak dari bahan-bahan kimia tersebut.

Selain sejumlah bahan kimia, ditemukan juga beberapa sarung tangan dan sepatu yang juga disita dari tempat tersebut. Namun, peran pria Malaysia itu terhadap aksi pembunuhan Kim Chol masih belum diketahui. Apakah memang benar keduanya berhubungan atau tidak masih belum diketahui.

Kabar yang beredar, ditangkapnya WN Malaysia itu karena salah satu terduga yang sudah ditahan menyebut nama pria tersebut. ”Polisi tidak mengesampingkan kemungkinan pria Malaysia itu punya keahlian di bidang kimia,” kata sebuah sumber yang dikutip The Star.

Diketahui bahwa pria Malaysia tersebut ditangkap oleh polisi sehari sebelumnya di kondominium lain. Personel pemadam kebakaran berpakaian lengkap terlihat ikut masuk besama pria Malaysia dan polisi menuju tempat penyimpanan bahan-bahan kimia itu. Dua mobil pemadam kebakaran dan sebuah mobil dari bagian foreksik kepolisian terparkir di luar kondominium.

Sekitar pukul 13.30, sekitar 10 petugas pemadam kebakaran masuk gedung dengan membawa pakaian hazmat dan tabung oksigen. Beberapa petugas forensik juga terlihat membawa peralatan ke dalam gedung tersebut. (and/JPG/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka