Ketik disini

Giri Menang

Bersyukur Meski Upah Hanya Rp 2 Ribu

Bagikan

Di Dusun Kekeri Timur, banyak perempuan memilih menjadi pemecah batu. Pekerjaan ini dinilai mampu membentu perekonomian keluarga.

***

GIRI MENANG -A�Di Dusun Kekeri Timur, Desa Kekeri, Kecamatan Gunungsari, mata pencaharian warga selain bertani juga memecah batu. Profesi ini hampir dijalani setiap warga. Bahkan tak sedikit ibu rumah tangga (IRT) ikut larut dalam profesi ini.

Meski penghasilan tidak seberapa, mereka tetap bertahan. Karena penghasilannya diyakni cukup membau biaya dapur. Sebagian lagi buat jajan anak-anak mereka yang bersekolah.

Seperti Inaq Ramlah. Perempuan a�?tangguha�? satu ini mengaku sudah lama bergelut sebagai pemecah batu. Di usianya yang senja, Inaq Ramlah masih sanggup mengangkat martil. Alat ini dipakai menghantam bongkahan batu sebesar genggaman tangan hingga kepala.

Setiap hari, ia menjalani profesi ini. Bahkan saat kondisinya kurang sehat, ia tetap memilih tetap bekerja. Upah yang diterima memang tak seberapa. Tergantung jumlah batu yang berhasil dipecah.

Satu ember (ukuran ember sedang, red) dia dibayar Rp 2 ribu. Meski relatif sedikit, namun dari situ ia bisa meringankan beban suaminya mencari nafkah.

a�?Cuma ini yang bisa dikerjakan saat ini, lumayan berat. Tapi ini pekerjaannya gampang, karena cuma pukul-pukul batu saja,a�? ungkap Inaq Ramlah ketika diajak berbincang-bincang.

Menjadi pemecah batu bukan perkara mudah. Tidak seperti yang dibayangkan tinggal memukul batu menggunakan martil. Jika tidak fasih, percikan batu bisa menghantam wajah. Bahkan sewaktu-waktu bisa terkena mata.

Memang sebagian warga ada yang menggunakan kacamata pelindung, namun karena sudah terbiasa,warga mengira menggunakan kecamata pelindung menghambat pekerjaan mereka.

Inaq Ramlah salah satu warga yang tidak menggunakan pelindung itu. Meski usianya sudah memasuki 60 tahun, dan penglihatannya mulai memudar, ia dengan cekatan menghantam tumpukan batu-batu kali itu.

Tangannya begitu fasih. Sehingga percikan batu tidak sampai mengenai wajahnya. Bahkan hanya dengan tiga kali pukulan, bongkahan batu sebesar genggaman tangan sudah pecah berkeping-keping.

a�?Kalau sudah capek bisa istirahat. Karena tergantung kita. Kalau dapat banyak, upah juga banyak,a�? katanya.

Profesi sebagai pemecah batu, diakui Inaq Ramlah, telah lama dijalaninya, sekitar belasan tahun. Meski upah yang diterima belum mencukupi kebutuhan, ia tetap bersyukur. Ia menganggap nasibnya masih beruntung ketimbang orang-orang yang susah mendapatkan pekerjaan.

Inaq Ramlah sadar, menjadi pemecah batu bukan pekerjaan yang menjanjikan. Karena itu, ia tak ingin cucunya senasib dengannya. Karenanya dia terus memotifasi sang cucu untuk terus bersekolah. Ia tak ragu memberikan hasil memecah batu untuk membiayai keperluan sekolah.

Di Dusun Kekeri Timur, menjadi pemecah batu bukan lagi dilakukan oleh kaum pria seperti dulu. Banyak IRT bahkan anak-anak ikut menjadi pemecah batu.

Inaq Ramlah dan IRT lainnya berharap ada solusi dari pemerintah agar mereka bisa diperdayakan. Mungkin saja diberikan semacam bantuan dana untuk menjalani usaha lainnya. (M ZAINUDDIN/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka