Ketik disini

Kriminal

Mereka Merekrut Anak-anak sebagai Penjahat

Bagikan

Kepolosan anak-anak dan ketidaktahuan mereka tentang sanksi hukum, acap kali dimanfaatkan para pelaku kejahatan. Mereka merekrut anak-anak sebagai kaki tangan saat kembali beraksi di dunia kejahatan. Dari hasil pengungkapan polisi inilah yang terjadi di NTB beberapa bulan terakhir.

***

a�?SAYA diminta untuk diam di luar, jaga-jaga kalau ada orang yang datang,a�? kata ARA (inisial, Red), saat Lombok Post menanyakan perannya dalam A�aksi pencurian di Kampus IAIN Mataram, belum lama ini.

ARA, merupakan satu dari lima orang anak di bawah umur yang terjerat kasus dugaan pencurian diA� Gedung C Jurusan Biologi, Fakultas Ilmu Tarbiah dan Kejuruan IAIN Mataram. Menurut pengakuannya, dia diajak kawan sepermainannya berinisial IN, yang kini menghuni Lapas Anak di Lombok Tengah. ARA sendiri, kini ditahan Panti Paramita untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Menurut ARA, tahun 2015 lalu IN sempat juga dibina di Panti Paramita, Labuapi, Lombok Barat untuk kasus yang sama, mencuri.

a�?Sudah pernah masuk di sini (Panti Paramita, Red),a�? A�ujar dia menegaskan.

Kepada Lombok Post, remaja 17 tahun ini menceritakan awal mula ia diajak melakukan pencurian. Ketika itu, IN baru saja mencuri sebuah televisi di ruang dosen IAIN. Namun aksinya diketahui penjaga malam. Karena kasihan, penjaga malam menyuruh IN untuk mengembalikan barang curiannya.

Saat proses pengembalian ini, IN kemudian mengajak ARA bersama empat kawannya. Dalam ajakan ini, IN menjanjikan ARA satu bungkus rokok jika ikut serta. Saat mengembalikan televisi mereka akan kembali melakukan aksi pencurian di kampus yang sama. Laptop dan proyektor menjadi sasaran komplotan ini, atas perintah IN.

a�? Karena waktu itu hujan, saya mau merokok, akhirnya pilih untuk ikut,a�? kata dia polos.

Meski telah diberi tahu jika akan diajak mencuri ARA tak menolaknya. Dia juga tak berusaha untuk mencegah aksi itu. Godaan akan diberi bagian dari hasil kejahatan itu membuat dia mengikuti apa yang dikatakan IN.

a�?Saya yang paling semangat, karena mau diberi rokok itu,a�? ujar dia.

Setelah mendapatkan barang tersebut, laptop dan proyektor, ARA mendapatkan rokok yang dijanjikan IN.

A�a�?IN juga sempat mau bagi hasil barang yang diambil, tapi tunggu aman dulu, jadi barang itu bisa dijual,a�? kata remaja putus sekolah ini.

ARA mengakuA� keberanian dalam melakukan tindak kejahatan ia dapatkan dari IN. Sebelum mencuri di IAIN Mataram, ia mengaku kerap mencuri helm di beberapa kampus di Mataram.

a�?Biasanya saya ikut IN, kita ambil helm di kampus-kampus,a�? ungkap dia.

Senada dengan ARA, MU (inisial, Red) harus berurusan dengan polisi karena mengikuti ajakan orang. Remaja 17 tahun ini mengaku diajak Amin alias Uloh, untuk bersama-sama melakukan aksi pencurian A�di CV Cahaya Satu, beberapa waktu A�lalu. Uloh sendiri merupakan residivis yang sempat menghuni Lapas Mataram.

a�?Dia (Uloh, Red), kakak misan saya,a�? ujarnya.

Dalam aksi itu, mereka berhasil membawa kabur satu perangkat mesin las, mesin air, satu kompresor, satu bor listrik, dan tabung gas. Usai beraksi, MU mengaku diberikan imbalan Rp 50 ribu. Sebab, belum semua barang yang mereka ambil, telah laku terjual.

a�?Saya gak tahu dijual berapa, yang pasti setelah itu saya dikasih Rp 50 ribu sama dia (Uloh, Red),a�? kata dia.

Jika MU dan ARA beraksi atas ajakan orang dewasa, berbeda dengan MA; HA; AS; dan SD. Empat remaja tanggung tersebut kini juga harus berurusan dengan polisi dalam kasus pencurian dan penadahan barang kendaraan bermotor.

a�?Karena butuh uang, kepepet buat beli makanan sehari-hari,a�? kata MA.

Aksi curanmor itu, kata MA, dilakukan karena ada kesempatan. Saat itu ia berada di sebuah rumah kos di kawasan Mataram. Ia melihat satu unit motor KLX (jenis trail) dengan kunci masih tergantung di motor tersebut. Melihat itu, remaja lulusan salah satu SMK di Lombok Tengah ini langsung membawa kabur motor itu dan membawanya ke kos SD.

Rangkaian kejahatan ini berlanjut ketika SD meminta AS untuk menjual motor tersebut. Namun AS rupanya kebingungan. Dia tidak mengetahui harus ke mana menjual motor.

a�?Saya langsung hubungi HA, teman juga,a�? ujar AS.

HA kemudian menanyakan ke sejumlah teman dia yang lain. Akhirnya diperoleh informasi, bahwa ada seseorang yang biasa membeli motor-motor curian.

a�?Awalnya tidak tahu kalau motor itu curian, sebab kuncinya ada,a�? kata HA.

Usai mengantongi nama penadah motor curian, HA lantas menghubungi orang tersebut. Mereka kemudian bertemu untuk melakukan transaksi.

a�?Dibayar Rp 3 juta, tapi uangnya belum kami pakai, keburu ditangkap,a�? ujarnya.

Para Penjahat Mengincar Anak-anak

Fenomena anak yang direkrut para residivis kejahatan untuk dijadikan pelaku kejahatan baru, terungkap saat Operasi Jaran yang dilakukan kepolisian baru-baru ini. Dari 29 orang yang ditangkap Polres Mataram, enam orang diantaranya merupakan residivis, dengan rincian lima orang dewasa dan satu anak-anak.

Para residivis ini, merekrut orang-orang baru untuk melakukan kejahatan bersama-sama. Ini terlihat dari hampir setengah pelaku yang ditangkap, merupakan pelaku yang baru melakukan tindak pidana. Bahkan ada di antara mereka berada di kisaran umur 16 hingga 20 tahun.

Kapolres Mataram AKBP Heri Prihanto mengatakan, aksi yang dilakukan para pelajar yang masih di bawah umur ini, membuat ia miris. Mereka yang seharusnya memanfaatkan masa mudanya untuk mengejar cita-cita, malah harus berurusan dengan hukum.

a�?Kita kasihan dengan generasi muda, yang terpengaruh dan ikut-ikutan hal seperti ini,a�? kata Heri.

Kata Heri, keterlibatan anak dengan tindak kriminal, bukan karena kesadaran mereka. Melainkan ada peran dari penjahat kawakan, yang mengajarkan dan merekrut anak di bawah umur. Untuk melakukan tindak kejahatan.

a�?Karena kepolosan dan ketidaktahuan permasalahan hukum, mereka akhirnya dimanfaatkan pelaku-pelaku lain yang merupakan residivis,a�? beber dia.

Mengenai proses hukum terhadap mereka, Heri mengatakan akan mengedepankan pembinaan. Jika memungkinkan, mereka akan dikembalikan ke orang tua masing-masing. Jika masih ada yang berstatus pelajar, dia akan melakukan koordinasi dengan sekolah, di mana tempat mereka menimba ilmu.

a�?Nanti kita kerjasama dengan LPA (Lembaga Perlindungan Anak) NTB,a�? ujarnya.

Kasatreskrim AKP Kiki Firmansyah Efendi tak menampik adanya pola rekrutan yang dilakukan residivis, usai bebas dari penjara. Mereka umumnya mengajari dan mengajak remaja-remaja tanggung untuk bersama-sama melakukan tindak kejahatan.

a�?Jadi mereka (residivis, Red) mengajari yang baru-baru itu untuk melakukan tindak kejahatan,a�? tandasnya. (dit/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka