Ketik disini

Ekonomi Bisnis

Hambatan Tarif Ancam Ekspor Perhiasan

Bagikan

SURABAYA a�� Kinerja ekspor industri perhiasan pada tahun lalu masih positif meski terjadi kelesuan pasar global. Namun, hambatan tarif di sejumlah negara tujuan ekspor mulai mengancam kinerja industri perhiasan.

Menurut Direktur Utama PT Untung Bersama Sejahtera (UBS) Eddy Susanto Yahya, salah satu potensi kendala adalah kenaikan bea masuk di Dubai (Uni Emirat Arab) dari 0,03 persen menjadi 5,7 persen sejak 1 Januari 2017.

Kenaikan bea masuk itu membuat komoditas perhiasan Indonesia terancam kalah bersaing dengan Singapura yang memiliki perjanjian kerja sama dengan Dubai. a�?Turki dan Malaysia saat ini juga sedang mengupayakan pembebasan bea masuk,a��a�� kata Eddy kemarin (27/2).

Posisi Dubai sangat strategis karena bukan hanya pasar bagi industri perhiasan Indonesia. Dubai merupakan pintu masuk untuk ekspor ke Eropa, Rusia, maupun India. Selain Uni Emirat Arab, negara tujuan ekspor perhiasan Indonesia adalah Swiss, Jepang, dan Hongkong.

Sepanjang periode 2011 hingga 2016, ekspor produk perhiasan Indonesia tumbuh 126 persen, dari USD 2,59 miliar pada 2011 menjadi USD 5,34 miliar tahun lalu. Jawa Timur menyumbang kontribusi 64,42 persen dari total ekspor perhiasan Indonesia atau USD 3,44 miliar.

Selain menjalin kerja sama perdagangan dengan Uni Emirat Arab, industri perhiasan meminta pemerintah memperpanjang fasilitas generalized system of preferences (GSP) dengan Amerika Serikat yang berakhir pada Desember 2017. Dengan demikian, industri perhiasan tetap memperoleh fasilitas pembebasan bea masuk ekspor ke pasar Amerika Serikat.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (APEPI) Iskandar Husain menambahkan, pasar perhiasan secara global turun 20 persen. Penyebabnya adalah kelesuan ekonomi di Eropa, terutama pasar Italia.

Meski secara umum terjadi perlambatan, pasar global masih mencari perhiasan asal Indonesia karena kualitas dan harganya bersaing. Meski demikian, Iskandar meminta kehati-hatian ditingkatkan karena Malaysia dan Vietnam menempel ketat Indonesia. (vir/c7/noe/jpg/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka