Ketik disini

Metropolis

Ibadah Nyaman, Hak Terpenuhi dengan Baik

Bagikan

Banyak contoh, toleransi dalam beragama yang patut direnungkan. Muhammad Yunus, penjaga rumah duka milik masyarakat Budha keturunanTionghoa, berbagi pengalaman di tengah sekat keyakinan yang berbeda. Berikut laporannya.

***

PRIA itu berjalan tertatih-tatih. Kulit wajahnya berlipat-lipat keriput. Pelipis matanya berkerut. Ia mencoba mengenali sosok yang kini berdiri di depannya. Sayang ingatannya yang sudah mulai berderit-derit tak menemui file sosok orang di depannya.

a�?Saya dari Lombok Post,a�? ujar wartawan koran ini, memperkenalkan diri.

Barulah pria itu menunjukan dua giginya. Ia tersenyum cukup lebar. Kesan pertama, dia pria yang ramah. Berulang kali, manggut-manggut. Mungkin berhasil menemukan jawaban, kenapa pria yang berdiri di depannya, terlihat asing. Memang ini adalah pertemuan pertama kami.

a�?Saya, Muhammad Yunus,a�? ujarnya tanpa ragu.

Seorang wanita berjilbab, mondar-mandir di belakang Yunus. Entah apa yang ada di dalam benaknya. Tetapi dari raut mukanya, ia terlihat risau. Tetapi setelah melihat obrolan suaminya cair, wanita yang belakangan diketahui bernama Khadijah itu, berjalan ke belakang, mengambil air wudlu dan siap-siap salat Dzuhur.

Muhammad Yunus dan Khadijah. Dua nama ini, memang identik dengan nama Islam. Dan memang benar, keduanya adalah muslim yang taat.

Menariknya, sepasang suami istri ini bekerja menjaga rumah duka, milik umat Budha Tionghua. a�?Saya salat di sini,a�? terang Yunus.

Ia lalu menunjuk ruangan kantor di sebelah selatan aula atau blok rumah duka. Di sekat ruangan lain ada ruangan kecil. Di sanalah, keduanya telah menjalani hari-hari bersama, hingga usia sesenja saat ini.

Bagi Yunus, Yayasan pengelola Rumah Duka sangat baik pada mereka. Hak-hak personality sebagai umat beragama yang berbeda keyakinan pun dilindungi dengan baik.

a�?Kalau tugas-tugas saya (membersihkan area Rumah Duka) selesai, ya sudah. Setelah itu baru saya lanjutkan dengan ibadah kalau waktu salat telah tiba. Tidak pernah saya dimarahi. Bahkan saya diberi ruangan ini untuk ibadah,a�? ungkapnya.

Di waktu-waktu wajib, harus keluar misalnya saat Salat Jumat, Yunus juga merasakan kenyamanan dalam beribadah. Ia tidak pernah dihadapkan situasi dilematis. Semisal antara memenuhi tuntutan kerja dari pemilik yayasan dengan waktu ia beribadah. Hak-hak dia sebagai penjaga kebersihan pun terpenuhi dengan baik.

a�?Gaji saya Rp 1 juta 250 ribu. Sementara istri saya Rp 900 ribu,a�? tuturnya.

Bagaimana awal Yunus akhirnya ditunjuk bekerja di sana? Sebenarnya Yunus adalah pria asal Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Pria yang lupa usianya itu, justru hafal persis awal kali menginjakan kaki di Mataram. a�?Pada 27 Desember 1959,a�? jawabnya yakin.

Saat itu, Yunus mengaku masih kecil. Ia baru saja lulus di Sekolah Rakyat (SR) kelas 3. Sampai akhirnya diajak merantau ke pulau seberang. Sampai akhirnya Yunus, tumbuh dewasa dan menikahi gadis asal Lombok Timur.

Meski sudah lama di Lombok, Yunus ternyata tidak bisa menghilagkan logat Floresnya. “Lalu pada tahun 2006 saya ikut kerja proyek pembangunan Rumah Duka ini,a�? tuturnya.

Di sinilah awal kali perkenalannya dengan salah satu tokoh senior masyarakat Tionghoa Mataram, S Widjanarko. Pemilik toko usaha sepatu Cakar Mas.

Saat itu Widjanarkon kata Yunus, masih menjabat sebagai Ketua Yayasan Rumah Duka. a�?Beliau orang yang baik sekali. Beliaulah yang minta saya akhirnya jaga rumah duka ini,a�? tuturnya.

Maka sejak itu, ayah yang telah punya dua anak ini mengabdikan hidupnya di Rumah Duka Setia Kawan. Yunus mengaku senang, bekerja di sana.

Ia mengaku tidak ada tugas-tugas tambahan yang memberatkan. Bahkan saking senangnya bekerja di sana, Yunus berharap, bisa terus diperkerjakan hingga akhir hayatnya. “Tidak tahu seperti apa keinginan yayasan. Tetapi kalau boleh ya sampai akhir hayat,a�? ujarnya.

Di tempat ini, ia merasa toleransi berjalan dengan baik. Sebagian besar masyarakat Budha keturunan Tionghoa yang datang tidak pernah memaksakan keyakinan pada dia dan istrinya. Sebaliknya, ia pun mengaku nyaman dan tetap bisa beribadah dengan tenang.

a�?Kalau mereka lagi kumpul-kumpul saya juga kerap dipanggil gabung dan diajak makan,a�? ujarnya.

Soal makanan, Yunus mengatakan terjaga dengan baik. Biasanya pihak keluarga yang berduka, lebih memilih memesan makanan pada katering muslim. Alasannya, karena tamu undangan yang datang ke rumah duka, tidak hanya masyarakat keturunan Tionghoa yang beragama Budha. Tetapi ada juga sanak famili atau tetangga yang beragama lain. Termasuk Islam.

a�?Kecuali pada saat mau pemakaman, memang mereka wajib pakai Babi guling. Itu dipotong-potong lalu dibagikan pada keluarga,a�? terangnya.

Kalau tradisi ini, Yunus mengaku menghindari dan tidak ikut. Karena memang, ada larangan dalam agamanya untuk menikmati daging babi. Para masyarakat tionghua yang datang, diakuinya juga tidak pernah usil menggodanya. a�?Tidak, mereka menghargai keyakinan saya,a�? tutupnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka