Ketik disini

Metropolis

Kartu BPJS di Tahan, Pasien Bingung

Bagikan

MATARAM – Salah satu keluarga pasien yang berobat di RSUD Kota Mataram, mengaku bingung dengan pelayanan pihak Rumah Sakit. Terutama saat mengajukan klaim pembayaran menggunakan kartu BPJS.

“Kartu saya di tahan dan diminta bayar panjar (uang muka) Rp 1 juta,a�? cetus keluarga Pasien atas nama Sirajudin.

Kronologinya, saat membawa orang tuanya yang mengidap penyakit asma, Sirajudin langsung melarikan ke RSUD Kota Mataram. Karena, ruangan penuh dan hanya tersisa ruangan VIP, setelah menyetuji akan ada biaya tambahan dari selisih yang ditanggung BPJS, Sirajudin pun menyanggupi mengobati ayahnya di ruangan VIP.

“Sampai sekarang belum dikembalikan. Sudah empat hari,a�? kata Sirajudin.

Ia pun mengaku bingung. Apalagi, belum ada konfirmasi kepastian, berapa biaya tambahan yang harus dibayarnya. Penentuan tambahan sebesar Rp 1 juta juga dinilai cukup memberatkan. Meski, akhirnya ia bisa menyanggupi.

a�?Apa dasarnya harus ngasih panjar Rp 1 juta? Bagaimana kalau lebih atau kurang?a�? cetusnya.

Ia berharap ada transparansi pembiayaan. Jangan sampai keluarga pasien salah kaprah. Apalagi ada tudingan pihak-pihak tertentu cari keuntungan dari prosedur klaim pengobatan yang dinilai cukup rumit.

Menanggapi itu, Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Kota Mataram Emirald IsfihanA�menjelaskan, sebenarnya tidak ada penahanan. Hanya saja, petugasnya memang butuh waktu lebih panjang untuk melakukan klarifikasi penyakit, sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) nomor 4 tahun 2017 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Kesehatan nomor 52 tahun 2016.

“Jadi di peraturan ini memang ada aturan perawatan pasien dapat dinaikan kelasnya,a�? kata Emirald.

Kecuali, untuk pasien-pasiennya yang ditanggung pemerintah pusat dan daerah. Hanya jatahnya di kelas 3.

Pada kasus orang tua Sirajudin, lanjut Emirald, menaikan statusnya ke VIP sudah sesuai prosedur. Hanya saja, karena BPJS yang digunakan khusus untuk kelas 2, ada penyesuian harga saat menggunakan VIP.

“Ini ibaratnya melompat dua kali, karena langsung ke VIP. Jadi, kami harus menghitung berapa selisih yang harus dibayar,a�? terangnya.

Ia lalu mencontohkan. Pada pasien yang awalnya di kelas II naik ke kelas VIP, pertama harus dihitung cost riilnya. Perhitungan, disesuaikan 75 persen dari diagnosa di kelas I.

a�?Jatah kelas I anggap saja Rp 10 juta. Nanti biaya di kelas I, dikurangi dengan kelas II, sebesar Rp 7,5 juta ditambah biaya perawatan rill,a�? terangnya.

Ia menggaris bawahi, besarnya biaya sangat tergantung dari hasil diagnosa penyakit yang muncul. Itulah yang membuat, proses klaim pembayaran menjadi lebih lama. Jadi tidak semata-mata menghitung iurannya saja.

a�?Teman-teman belum bisa menentukan besarnya pembayaran, karena masih menunggu hasil diagnosanya saja. Toh nanti kalau lebih kita kembalikan. Tapi kalau kurang ya nambah,a�? tutupnya. (zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka