Ketik disini

Sudut Pandang

Makna Simbolik Kunjungan Raja Salman

Bagikan

DALAM beberapa pekan terakhir, berita dan diskusi tentang rencana kunjungan Raja Salman beserta rombongan ke Indonesia terus menghiasi pemberitaan media massa, akun media sosial dan forum diskusi lainnya di tanah air. Meski kunjungan seorang kepala atau pimpinan negara ke negara lain adalah hal yang lumrah, tetapi kunjungan Raja Salman di awal tahun 2017 ini menjadi istimewa dengan berbagai alasan.

Salah satunya adalah karena kehadiran Raja Arab Saudi telah dinanti selama 47 tahun. Sebagaimana dipahami bahwa kunjungan terakhir Raja Arab Saudi berlangsung tahun 1970 saat Raja Faishal memimpin negara tersebut. Jumlah anggota rombongan yang sangat fantastik menjadi sisi keistimewaan lain dari kunjungan Raja Salman di Indonesia. 1.500 anggota delegasi termasuk di dalamnya 10 menteri dan 25 pangeran merupakan jumlah tamu kenegaraan yang luar biasa banyaknya.

Kunjungan kenegaraan Raja Salman di Indonesia yang direncanakan dari tanggal 1 hingga 9 Maret 2017 beserta agenda yang menyertainya menarik untuk diamati karena di dalamnya banyak pesan simbolik yang dapat dimaknai.

Makna-makna tersebut menjadi catatan penting bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk memahami eksistensi negara dan daerah dalam konteks pembangunan (dalam arti yang luas) serta dalam melihat keberadaan Indonesia di tengah kehidupan global (internasional).

Paling tidak ada lima makna simbolik yang dapat ditangkap dari kehadiran Raja Salman dan rombongan di tanah air. Kelima makna simbolik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

Pertama, simbol konsolidasi dan perlawanan. Sebagaimana dipahami bahwa rivalitas Arab Saudi dan Iran tidak hanya persoalan politik negara tetapi juga rivalitas afiliasi aliran keislaman (Sunni versus Syiah). Rivalitas kedua negara belum menunjukkan tanda rekonsiliasi dan diprediksi menjadi konflik yang tidak berkesudahan. Untuk memperkuat barisan perlawanan, sangat mungkin bila Arab Saudi hendak membangun konsolidasi dengan negara-negara dengan penduduk Muslim Sunni mayoritas seperti Indonesia (dengan jumlah penduduk muslim sedikitnya 255 juta jiwa), Mesir (75 juta jiwa), dan Turki (73 juta jiwa) serta beberapa negara lainnya.

Oleh karena itu, kehadiran Raja Salman di Indonesia secara simbolik dapat dimaknai sebagai isyarat membangun konsolidasi sekaligus isyarat perlawanan terhadap kelompok Syiah yang banyak berbasis di Iran. Kunjungan Presiden Jokowi ke Iran pada Desember 2016 silam menjadi kunjungan simbolik yang ingin a�?dihapusa�? pengaruhnya oleh Raja Salman lewat kunjungannya di Indonesia di awal Maret ini.

Kedua, simbol koalisi dan persahabatan. Indonesia adalah mitra strategis bagi Arab Saudi untuk berinvestasi. Pertimbangan ideologis juga bisa menjadi spirit investasi bagi negara kaya minyak tersebut di Indonesia. Kebijakan politik ekonomi Arab Saudi selama ini memang banyak memberi ruang kepada Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa Barat, dengan nilai investasi triliunan sejak tahun 1970. Namun, banyak pengamat memprediksi bahwa Arab Saudi mulai a�?galaua�? terhadap investasi-nya ke Negeri Paman Sam tersebut disaat sinyal yang begitu kuat dari kebijakan politik Presiden Donald Trump yang anti Islam.

Indonesia dan negara Asia lainnya bisa menjadi alternatif investasi yang aman dan strategis bagi Saudi. Dalam konteks inilah kehadiran Raja Salman dimaknai sebagai pesan simbolik dalam membangun persahabatan yang lebih akrab dan kontributif secara ekonomi.

Ketiga, simbol solutif dan ekspektatif. Masih terkait dengan kerjasama dan persahabatan, kehadiran Raja Salman juga dapat dimakanai sebagai pesan simbolik yang solutif terhadap beberapa persoalan yang masih dirasakan oleh kedua negara. Persoalan kuota haji misalnya, merupakan masalah yang menjadi harapan penting pemerintah Indonesia pada pemerintah Saudi agar antrean panjang warga muslim Indonesia yang hendak menunaikan rukun Islam kelima tersebut bisa terurai. Persoalan moratorium TKW ke Saudi Arabia sejak tahun 2011 silam juga masih dirasakan oleh Saudi sebagai ganjalan dalam memenuhi kebutuhan pembantu rumah tangga asal Indonesia di negaranya. Bila kedua persoalan ini dapat diselesaikan secara baik oleh kedua belah pihak, maka tidak salah bila kehadiran Raja Salman di Indonesia bermakna simbolik solutif dan ekspektatif.

Keempat, simbol inklusivitas. Simbol ini terkait dengan pilihan pulau Dewata Bali sebagai distinasi berlibur Raja Salman dan rombongan. Arab Saudi merupakan negara Islam. Label dan identitas ini tidak bisa terpisahkan dari warganya apalagi Rajanya. Bali adalah pulau atau daerah (provinsi) yang dihuni oleh mayoritas warga beragama Hindu dengan berbagai simbol budaya dan agama di dalamnya. Raja dari negara Islam hadir di wilayah Hindu untuk berlibur merupakan pesan simbolik yang sangat inklusif. Perbedaan agama tidak mesti membuat kita diskriminatif untuk memilih tempat untuk hadir dan berkunjung. Raja Salman benar-benar menunjukkan pesan simbolik betapa pilihan keindahan dan selera berlibur tidak terkait dengan ideologi dan agama.

Raja Salman juga menunjukkan pesan simbolik kerukunan antarumat beragama yang belakangan ini dihangatkan lagi oleh kebijakan politik diskriminatif Presiden Negara Adikuasa Amerika Serikat (Donald Trump). Pilihan Raja Salman untuk berlibur di Bali juga menjadi pesan simbolik penting bagi umat beragama untuk menjadikan perbedaan keyakinan bukan sebagai halangan untuk berkomunikasi. Interaksi antarumat beragama tidak boleh terhenti karena perbedaan pilihan politik. Raja Salman ingin menunjukkan wajah Islam yang rahmatanlilaalamin, bukan wajah Islam yang garang dan menakutkan lewat bom bunuh diri pada warga beragama lain.

Kelima, simbol promotif. Kehadiran Raja Salman di Bali juga menjadi simbol promotif bagi pariwisata Indonesia. Promosi keindahan dan promisi kenyamanan Bali khususnya dan Indonesia umumnya. Di samping keindahannya, pilihan Bali juga tidak terlepas dari fasilitas distinasi yang dimiliki atau yang ada di pulau Dewata tersebut. Bandara yang representatif dan fasilitas hotel yang memadai untuk jumlah dan standar tamu VVIP menjadi unsur lain yang tidak bisa dinafikan. Hal ini sekaligus menjadi peringatan dan pelajaran bagi daerah-daerah tujuan wisata penting dan utama seperti Lombok untuk tidak lalai mengurus aspek pendukung pariwisata seperti ini. Semoga… (r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka