Ketik disini

Headline Metropolis

Perang Survei Dimulai

Bagikan

MATARAM – perang survei jeang Pilkada Gubernur (Pilgub) NTB 2018 dimulai. Baru-baru ini, beredar rilis dua hasil survei berbeda. Pertama disebutkan dari Indo Barometer (IB) yang menempatkan nama Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh sebagai pemegang elektabilitas tertinggi untuk menduduki kursi Gubernur NTB selanjutnya.

Capaian tingat keterpilihannya di angka 23,6 persen. Menyusul di bawahnya Bupati Lombok Tengah HM Suhaili FT. Dengan tingkat keterpilihan 20,1 persen.

Tidak hanya itu, survei yang disebut-sebut berasal dari internal Partai Golkar juga mengeluarkan rilis serupa. Hanya saja, di survei ini sang Ketua DPD I Golkar lah yang disebut meraih tingkat elektabilitas tertinggi.

Angka keterpilihan Suhaili mencapai 16,33 persen. Sementara di bawahnya nama Ahyar menyusul dengan 13,33 persen. Di posisi foother disebutkan jika survei dilakukan pada Febuari 2017.

Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh, menanggapi santai hasil survei itu. Namun, secara khusus dirinya menanggapi hasil survei Indo Barometer.

a�?Saya fikir itu lembaga (survei) nasional yang kredibel. Tetapi sekali lagi ini sangat dinamis (bisa berubah sewaktu-waktu),a�? kata Ahyar.

Meski di survei yang diklaim dilakukan secara tertutup oleh Indo Barometer itu memenangkan dirinya, Ahyar mengatakan potensi untuk berubah masih ada. Hanya saja, mengkoparasi dengan hasil survei internal yang dilakukan dirinya, ia menyebut tidak jauh beda dengan itu.

“Iya saya juga melakukan itu (survei), tapi bukan untuk saya publis (hasilnya),a�? ujarnya.

Aplagi jelang pemilihan nanti, ia menyebut dinamika politik akan semakin besar. Nama-nama yang sudah pasti akan bertarung dalam pilgub 2018, pasti menunjukan langkah-langkah politik yang sulit ditebang. Guna mendapat dukungan suara dan merubah peresentase elektabilitas.

Saat ini, hasil survei menurutnya hanya untuk memetakan kondisi riil di lapangan. Selanjutnya menyiapkan a�?langkah kudaa�� yang sulit ditebak lawan. “Hasil survei awal jadi bahan kajian dan evaluasi kita untuk ambil langkah-langkah penting,a�? isyaratnya.

Sabtu (27/2) kemarin, semua DPD II Golkar NTB menyatakan dukungannya pada Suhaili. Mereka sepakat, satu suara mendorong Bupati Lombok Tengah itu untuk bertarung menggunakan kendaraan Partai Golkar. Ahyar pun menyikapi hal ini sebagai hal yang biasa saja. Bahkan ia mengatakan, tidak tahu persis dengan adanya dukungan itu. “Saya tidak tahu persis. Yang jelas, tentu semua partai ada mekanisme,a�? ujarnya.

Pernyataan ini seoalah ingin ditegaskan Ahyar bahwa, proses dukungan baru dikatakan valid dan sesuai mekanisme partai bila disertai dengan Surat Keputusan (SK) dari DPP Golkar. Realitanya, sampai saat ini dirinya mengaku belum ada SK yang turun. Artinya, masih ada peluang untuk kader Partai Golkar yang lain diusung oleh partai berlambang pohon beringin itu.

“Kalau soal pernyataan-pernyataan, ya hak siapa pun bisa melakukannya,a�? cetusnya.

Ahyar yakin, Golkar akan tetap profesional. Mencari calon dengan mengukur elektabilitas calon. Siapa pun yang terbaik dengan tingkat elektabilitas tinggi, dialah yang berhak diusung untuk maju dalam Pilgub 2018.

Hanya saja, jika kendaraan politik nantinya tetap menjadi milik Suhaili, Ahyar pun secara terbuka menyatakan kemungkinan untuk mencari kendaraan politik lain. Ia lalu menuturkan bagaimana komunikasi politik terus dijalin dengan semua partai hingga ketua umum.

a�?Misalnya kemarin saya ketemu dengan ketua umum PAN,a�? ungkapnya.

Ia juga melihat ada peluang yang besar di partai lain. Terbukti mereka lanjut Ahyar tidak menutup diri memberi peluang bagi kader di luar partai, menumpang di kendaraan politik itu. Selama tetap mengikuti mekanisme yang telah ditetapkan.

a�?Dan saya optimis, beberapa partai akan berikan dukungan. Insya Allah akan maju dalam calon (Pilgub 2018) yang akan datang,a�? tegasnya.

Namun dari deklarasi tersebut, peristiwa yang tak kalah menariknya adalah terpilihnya Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana, sebagai pembaca deklarasi dukungan. Menurut pengamat politik NTB, DR Kadri, setidaknya ada tiga pesan yang ingin disampaikan dengan ditunjuknya Mohan sebagai pembaca deklarasi. “Saya lihat ada makna simbolik dari penunjukan Mohan,a�? kata Kadri.

Makna simbolik ini dilemparkan oleh sosok di balik inisiasi dari dukungan DPD II Golkar NTB. Ia seolah ingin memberi pesan semua DPD satu suara. Mengamankan amanat partai, tidak hanya dari DPP. Tetapi juga dari DPD I NTB. Ini refleksi dari keingian menunjukan bahwa partai masih solid. Di tengah gencar muncul nama-nama kader yang berafiliasi dengan partai Golkar.

a�?Makna simbolik yang kedua, seperti pesan bahwa tidak ada ruang bagi calon internal Golkar untuk maju. Selain, Suhaili. Apalagi mengharapkan ruang bagi kader selain Partai Golkar,a�? ujarnya.

Sementara, pesan yang ketiga yang ingin disampaikan adalah menggambarkan pada DPP Golkar NTB solid. Apalagi pada saat yang sama, Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto hadir dalam pembukaan Rakerda Golkar NTB di lapangan Muhajirin, kemarin.

a�?Tapi saya lihat, Mohan mampu menunjukan profesionalismenya,a�? imbuh Kadri.

Ia membayangkan posisi dilema yang dirasakan Mohan. Saat membacakan deklarasi dukungan. Di satu sisi Mohan adalah wakil dari Ahyar Abduh. Tentu dengan terpilihnya ia sebagai pembaca deklarasi dukungan, eskalasi politik antara dua kepala daerah di kota Mataram bisa naik.

a�?Tapi di sisi lain Mohan adalah anak buah Suhaili, sementara kemarin adalah forum Golkar. Mau tidak mau harus dibaca. Posisi Mohan dilematis,a�? analisanya.

Sementara itu, di sela-sela wawancara ditanya tentang hal itu, Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana enggan menggububris pertanyaan ini. Mohan memilih berlalu pergi, tanpa menjawab apa pun. (zad/r5)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka