Ketik disini

Metropolis

Go… Go… Camilan Lokal

Bagikan

Industri olahan penganan lokal perlahan menapak jalan menjadi raja di tanah sendiri. Dengan kemasan menarik, rasa yang ciamik, camilan-camilan lokal itu menggoda lidah dari rak-rak pasar ritel modern. Diproduksi dari industri skala rumahan, jalan makanan lokal masih panjang. Butuh usaha ekstra keras, terutama dari cara menjaga kualitas dan juga kontinuitas.

***

SEPI, tak ada yang bicara. Masing-masing sibuk dengan mulut terkatup. Kalaupun keheningan pecah, itu lantaran suara yang datang dari sebuah telepon pintar yang menyemburkan tembang lawas.

Selebihnya ada suara lain dari bunyi mekanik mesin penggilingan, suara minyak panas berbuih-buih di penggorengan, dan gerak tangan yang sungguh cekatan.

Matahari belum meninggi, tapi kesibukan di bagunan serupa gudang itu menggeliat dan memuncak. Semua yang ada di tempat itu adalah perempuan. Enam orang banyaknya. Di sana mereka bekerja, mengolah makanan ringan, kemudian mengemasnya cantik dan menarik. Plus nikmat tentu saja.

Bukan di kota. Tempat usaha itu ada di kaki bukit di Desa Senteluk, Batulayar, Lombok Barat. Usaha rumahan itu memproduksi aneka camilan yang diolah dari bahan-bahan baku lokal. Pemiliknya memberi nama usahanya Sasak Maiq. Produk andalannya antara lain berupa tortila rumput laut, rengginang rumput laut, abon tongkol, udang rebon, terasi udang rebon, dan kopi rumput laut.

Karena melihat ada tamu datang, seorang pekerja beringsut. Melempar senyum ramah, dia menyapa. Namanya Minasi. a�?Saya sudah dua tahun di sini,a�? katanya.

Usaha Sasak Maiq ini memang belum lama. Dibuka semenjak 2012. Namun, terlihat betul perkembangannya begitu menjanjikan. Sepanjang usianya hingga kini, total usaha ini telah menghimpun 15 kelompok usaha mikro untuk turut bernaung. Tugas utama kelompok-kelompok usaha mikro itu adalah menyuplai bahan baku.

Pekan lalu, kala Lombok Post bertandang ke sana, Minasi mengaku kalau kesibukan produksi sekarang memang sedang tinggi. Permintaan meningkat. Dia menunjuk ke arah karung-karung berisi bahan baku yang berjejer menepi di tembok. Bahan itu menunggu diolah tangan-tangan cekatan untuk menjadi camilan enak nan gurih.

Tapi meski dikejar tenggat, bukan berarti Minasi dan rekan kerjanya ngoyo. Nggak juga. Sesekali mereka rupanya melempar canda. Kalau ada yang lucu, pecah pula ketawa mereka. Bahkan, kalau ada penjual sayur keliling yang lewat, ramai-ramai mereka melepas kerjaan sementara. a�?Belanja sayur dulu untuk di rumah,a�? kata Minasi.

Pekerja perempuan di bagian produksi Sasak Maiq itu memang sudah berkeluarga semua. Mereka beli sayur, biasanya untuk kebutuhan makan malam di rumah. Sebab, mereka bekerja sedari pagi semenjak pukul 08.00 Wita dan baru pulang delapan jam kemudian.

Berapa upahnya? a�?Rata-rata Rp 150 ribu hinggaA� Rp 200 ribu pe rminggu,a�? kata Minasi. Bagi mereka, angka itu sudah cukup membantu perekonomian keluarga. Bahkan, kalau pandai mengatur, bisa pula menabung.

Kelompok Sasak Maiq mengkhususkan diri membuat makanan ringan dengan mengolah rumput laut. Produk akhirnya macam-macam bentuknya. Dengan aneka rasa pula. Rumput laut itu diolah jadi semacam keripik, diolah jadi makanan bernentuk memanjang macam stik-stik kentang. Tapi mau apa bentuknya, meminjam istilah pakar kuliner ternama, semua dijamin rasanya maknyus.

Kini, dalam sepekan, Sasak Maiq mampu menyuplai permintaan 3.500 bungkus makanan ringan yang sudah dikemas. a�?Paling banyak ke pusat oleh-oleh selain ke swalayan,a�? kata Ketua Kelompok Sasak Maiq Baiq Siti Suryani pada Lombok Post.

Total ada 15 orang yang bekerja di industri ini. Belum terhitung kelompok binaan yang bekerja sama sebagai pemasok bahan baku. Total dalam sebulan omzet bisa tembus hingga Rp 100 juta.

Menggeliat

Macam orang bersepakat saja, belakangan ini usaha-usaha macam Sasak Maiq ini memang menggeliat di NTB. Pasar modern menyebutnya camilan lokal. Tapi, soal rasa, tidak kalah global.

Di Karang Baru, Kota Mataram, ada usaha yang menyebut diri Ares. Usaha rumahan ini juga mengandalkan produk olahan rumput laut. Bentuknya keripik, dan menjadi andalannya. Enam orang pula pekerja di sana.

a�?Produk olahan rumput laut sekarang memang lagi naik daun,a�? kata owner Ares Baiq Rokh Hilmi kepada Lombok Post. Permintaan terus meningkat tiap tahun. Terutama permintaan untuk kemasan oleh-oleh.

a�?Akhir pekan pemesanan bisa melonjak sampai 1.200 bungkus,a�? kata dia. Sementara pada hari-hari normal, pasokan biasanya 400 bungkus sehari.

Secara rutin, tiga kali sepekan, Rokh Hilmi memasok makanan produksinya ke toko-toko oleh-oleh dan swalayan. Nyaris seluruhnya dipasarkan di Kota Mataram.

Sementara bahan baku rumput laut yang diolah didatangkan dari seluruh penjuru Pulau Lombok. Mulai dari pesisir selatan Pulau Lombok, hingga datang pula dari Lombok Utara.

Soal rasa boleh diadu. Nikmat dan gurih. Rokh Hilmi bahkan menjamin makanan olahan produksinya juga sehat. Lantaran tidak memakai penyedap rasa jenis MSG. a�?Rasa enaknya murni berasal dari olahan bumbu lokal,a�? katanya membuka sedikit resep.

Legendaris

Sasak Maiq dan Ares, adalah dua usaha makanan ringan rumahan yang boleh dibilang generasi baru. Tapi, selain ini, ada pula usaha camilan rumahan yang legendaris di Kota Mataram. Usaha ini ada di bilangan Ampenan. Mengusung merk Sikat Berlian.

Olahan makanan ringan produksi Sikat Berlian kini bisa dijumpai di aneka supermarket di NTB. Mataram, tentu saja adalah pasar utamanya. Bertandanglah ke Ruby Supermarket, Jembatan Baru atau Niaga. Produk Sikat banyak dijumpai di sana.

Usaha ini sudah turun temurun dan di kelola generasi ketiga yakni Indra Joyo dan kini menapak usia 25 tahun. Kata Indra, merk Sikat Berlian dimulai dari kakenya, lalu kemudian diteruskan ayahnya, baru kemudian ke dirinya sekarang. a�?Usaha ini ada sudah sejak tahun 1950-an,a�? ungkapnya pada Lombok Post.

Produk andalannya adalah kacang asin gurih, yang masih dengan kulit ari pada biji kacangnya. Kacang jenis ini dikemas dalam kantong plastik bening dengan kedap udara. Sementara merk Sikat Berlian mencolok dengan warna kuning. Para penggemarnya biasanya tak perlu mikir dua kali untuk membeli camilan ini. Apalagi, kalau bukan karena rasanya yang memang nendang.

a�?Kacang asin ini tidak mengandung kolesterol karena dibuat dengan disangrai tanpai digoreng dengan minyak,a�? kata Indra tentang produk andalannya itu.

Dia mengaku, dalam tiga hari, khusus untuk kacang saja, bisa memproduksi sedikitnya 50 kilogram. Untuk tetap menjaga rasa, Indra mengaku masih memakai resep lama. Bahkan, ketika diproduksi api masih berasal dari kayu bakar. Dengan cara produksi ini pula, dia jamin makanan awet hingga enam bulan. a�?Pernah pakai mesin, tapi tidak awet lama, hanya sesaat,a�? terangnya. A� Seluruh bahan baku berasal dari kacang lokal yang ditanam di Bayan, Lombok Utara.

Merata

A�Tentu saja, gemerincing rupiah dari usaha makanan ringan rumahan ini tak hanya sekadar menjadi monopoli home industru di Mataram. Di sejumlah daerah, geliatnya juga kini sudah mulai terasa. Macam-macam pula jenis makannya.

Di Praya, Lombok Tengah ada brownis enak yang rasanya, nyummy banget. Brownis ini juga telah dikemas menarik. Macam brownies Amanda yang gerainya sudah menjamur di kota-kota besar di Indonesia.

Bermodalkan uang pesangon Rp 3 juta, Nur Maini Prima Suyatni warga Leneng, Praya Lombok Tengah memulai usaha brownies ini. Nur banting stir dan meninggalkan pekerjaan sebagai tenaga honorer di Pemkab Lombok Tengah. a�?Itu sekitar tahun 2011,a�? katanya pada Lombok Post akhir pekan lalu.

Nur sebetulnya bukan orang yang hebat untuk urusan bikin kue. Resep bikin brownies bahkan dia tak tahu. Dia hanya belajar dari media sosial. Karena itu, di fase awal, beberapa kali, produknya gagal. Tapi, dia membuang jauh kata menyerah.

Sampai berhasil, kemudian dia mulai memasarkan makanan produksinya dari rumah ke rumah. Lalu keluar masuk kantor pemerintahan dan swasta. Ia pun membuat merek makanan ringannya tersebut dengan nama Prima. Berkat ketekunan dan kesabarannya, nama Prima kini mulai dikenal masyarakat Gumi Tatas Tuhu Trasna.

Untuk kemasan, secara khusus dia memesan dari luar Malang, Jawa Timur. Maka jadilah, brownies produksi Nur kini tampil elegan. a�?Kemasan ikut mengangkat branding usaha ini,a�? katanya.

Kini, dia sudah mampu mempekerjakan enam orang dari usahanya ini. a�?Saya gaji mereka tiap bulan di atas UMR,a�? kata dia berpromosi. Karyawannya tentu saja adalah para ibu rumah tanggam yang telah dilatih terlebih dahulu hingga benar-benar mahir.

Sekarang produk brownies Prima milik Nur sudah dipasarkan di Praya, Mataram, bahkan di Malang, Jawa Timur. a�?Keuntungan per hari sekarang kira-kira Rp 1 juta,a�? katanya buka-bukaan.

Meski produk lokal, harganya jangan dianggap murah ya. Satu kotak brownies Prima kini rata-rata dijual seharga Rp 40 ribu. Setelah usahanya berjalan, Nur punya mimpi membuka outlet brownies ini di kota-kota seluruh NTB.

Di belahan Pulau Lombok bagian utara, usaha makanan rumahan juga mulai menggeliat. Sebut saja misalnya usaha makanan rumahan Bunda Smart yang berada di Dusun Kandang Kaoq, Desa Tanjung. a�?Sekarang produk kami dipesan terus di kantor pemerintahan,a�? ujar Ketua Kelompok Bunda Smart Budinten pada koran ini.

Usaha Bunda Smart dimulai tiga tahun lalu. Sekarang, dalam sehari usaha ini menyuplai permintaan 800 bungkus makanan ringan yang menggunakan sepuluh macam bahan lokal tiap hari.

Dalam sekali produksi, Budinten mengaku mengeluarkan modal sekitar Rp 2 hingga Rp 3 juta. Kemudian dari modal tersebut kelompoknya mendapatkan keuntungan sekitar Rp 3 juta. a�?Sekarang ada delapan orang pekerja yang mengolah makanan ringan di sini,a�? ungkapnya.

Beberapa produk olahan makanan ringan yang menjadi andalan Bunda Smart antara lain keripik ubi ungu, keripik singkong, pisang sale, kacang telur, kue bawang, keripik ubi jalur, keripik kentang, dan manisan rumput laut.

Usaha ini berjejaring. Selain memproduksi sendiri, juga mengambil dari kelompok-kelompok yang dibina. a�?Tapi kualitas setara dan selalu terjaga,a�? tandasnya.

Masih di Ibu Kota Lombok Utara ini, ada pula usaha makanan rumahan Lestari di Dusun Kandang Kaoq, Desa Tanjung. Produksinya sudah bisa dinikmati di minimarket.

Sudesmi, Ketua Kelompok Lestari mengatakan, usahanya hanya fokus mengolah bahan baku lokal menjadi makanan ringan. Seperti ubi jalar, singkong, pisang dan kacang. Sekali produksi, omzetnya kata Sudesmi bisa Rp 5 juta dengan pekerja delapan orang. a�?Sehari kita biasanya rata-rata produksi 80 bungkus,a�? tandasnya.

Sementara di Lombok Barat, selain usaha makanan, ada pula usaha lain. Kali ini soal minuman. Ada Kupi Lombok di Gumi Patut Patju. Usaha ini milik Tusdian Melizza. Sudah pula didapatkan di pusat oleh-oleh di Lombok. Tusdian memilih mundur dari pekerjaan sebagai karyawan Alfamart. Ia lebih memilih mengembangkan usaha kopinya.

Berangkat dari kesohoran wilayah Lingsar sebagai salah satu wilayah penghasil kopi terbaik, lulusan IKIP Mataram ini memberanikan diri membuat usaha kopi. Usaha itu diberi label Kupi Lombok yang mulai dipasarkan November 2016.

Tusdian mengaku tidak memiliki backgroud sebagai pengusaha. Begitu juga keluarganya. Namun ia yakin dengan tekad dan niat tulus, apa yang dicita-citakan bisa terwujud. Dari niat awal ingin coba-coba, Tusdian kini sudah memiliki 20 karyawan.

a�?Saya tidak mempermasalahkan berapa income (pendapatan). Cuma ingin membantu tetangga-tengga saya yang banyak nganggur,a�? katanya.

Meski tergolong pengusaha baru, namun wanita sarjana pendidikan ini cukup aktif dan terus berusaha membuat usahanya semakin besar.A� Buktinya, kini usaha rumahan tersebut sudah mampu menjamah pasar lokal hingga keluar daerah.

Harga Kupi Lombok sendiri terbilang relatif terjangkau. Untuk 500 gram dihargai Rp 75 ribu. Sedangkan 250 gram Rp 37. 500, dan 100 gram Rp 15 ribu. a�?Itu harga kalau dibeli di sini (Rumah, Red). Tapi kalau beli di pusat oleh-oleh lain lagi. Naik dua kali lipat,a�? katanya.

Bahan baku kopi dibeli langsung pada petani kopi di Kecamatan Lingsar. Hingga proses pengeringan menggunakan sinar matahari dan menggunakan penggorengan tradisonal. Semua dikerjakan Tusdian bersama karyawannya.

a�?Karena semua proses pembuatan secara alami, rasanya pun masih terjaga,a�? ungkapnya berbagi resep.

Tak cuma pasar lokal, Tusdian kini banyak melayani pesanan dari Bali, Surabaya hingga Malang.A� Bahkan, meski belum banyak, mulai berdatangan turis mancanegara menikmati sensasi Kupi Lombok ala Tusdian. Laki-laki ini pun berharap, usahanya tersebut bisa terus berkembang, dan bisa menginspirasi banyak pemuda lainnya. Sehingga mereka bisa menjadi penopang ekonomi keluarga.

Raja di Daerah

Pelan namun pasti, makanan olahan lokal kini diyakini bisa menjadi market leader di NTB. Tengoklah ke Jembatan Baru, salah satu minimarket dengan jumlah outlet di beberapa titik di Mataram. Minimarket yang beroperasi sejak tahun 80-an ini menjual produk olahan panganan lokal sejak lama. Bahkan jadi primadona.

Beragam jenis seperti snack, dodol, keripik, rengginang, dijajakan di minimarket dengan dominasi khas warna hijau ini. Produk khas daerah itu tertata rapi sesuai dengan jenisnya. Jika ditotal, JB, begitu Jembatan Baru karib disapa menjual 400 jenis produk makanan olahan lokal.

Produk lokal itu disebar di 11 ritel yang ada di Mataram dan Lombok Barat. Banyaknya jenis produk itu menyebabkan manajemen Jembatan Baru kini mulai lebih selektif. Misalnya dengan menolak produk sejenis. Alasannya keterbatasan tempat. Meski begitu, tidak sedikit produk panganan baru yang mendapat tempat dan laku di pasaran.

Diakui, makanan berbahan rumput laut memang kini sedang naik daun. Manajer Marketing Jembatan Baru Kurniawan kepada Lombok Post mengatakan persaingan produk-produk tersebut cukup ketat.

Tidak jarang ada produk yang tiba-tiba menghilang begitu saja. Bukan lantaran tidak laku, tapi tidak dapat memenuhi permintaan konsumen. Tapi, lebih banyak produk yang justru bertahan lama meski tidak sampai merajai pasar. a�?Perkembangan produk pangan lokal ini cenderung stabil dan dapat bersaing di pasaran,a�? kata Kurniawan.

Begitu juga dengan ritel lainnya. Ruby Supermarket yang beroperasi sejak 1990 di Mataram juga banyak menerima produk olahan lokal. Lebih kurang 200 jenis produk olahan lokal dijual Ruby. Yang dijual di sini telah punya izin Balai Pengawan Obat dan Makanan, kemasan bagus dan rapi, dan dilengkapi pula lebel halal.

Ruby juga membuka diri dengan kehadiran produk lokal dengan varian baru. Bagian pembelian Ruby Supermarket Hardi mengatakan, pihaknya tidak pernah mempersoalkan mengenai harga. Yang terpenting tidak terlalu tinggi dari harga pasaran dan punya kualitas yang berdaya saing.

Pihaknya juga sangat teliti dengan produk olahan lokal tersebut. Terlebih membawa nama baik daerah terutama bendera bisnisnya. Dia justru bersyukur lantaran tidak pernah menerima komplain dari konsumen terhadap produk olahan lokal.

Secara khusus, Ruby bahkan menyediakan tempat khusus untuk produk panganan lokal itu. Perbandingannya kisaran 15 % dengan produk lainnya. Dia berharap semakin banyak produk panganan lokal yang masuk. Tentu harus aneka syarat ketat. Sedangkan produk yang kemasannya rusak langsung di-return.

Hal serupa dilakukan managemen Niaga Supermarket yang memberikan tempat khusus untuk makanan lokal. Manajer Operasional Niaga Supermarket Muhammad Jefri menjelaskan, peluang produk industri rumahan sangat tinggi bagi Niaga Supermarket. Bahkan, selama 2016 perkembangannya sangat bagus. Terutama produk olahan panganan yang mempunyai desain kreatif. Dia mencontohkan produk nuts safir yang mulai marak di pasaran.

Produk lainnya sepertiA� kopi 55, kacang-kacangan, keripik, termasuk cerorot, dan roti basah. Hanya saja, melambatnya pertumbuhan ekonomi memengaruhi perkembangan bisnis panganan lokal tersebut.A� a�?Perkembanganya sekitar 10 % masih jauh dibandingkan produk panganan pabrikan. Tapi masih tetap eksis,a�? ungkap Jefri.

Pihaknya juga tidak ragu dengan kemasan produk panganan itu. Lagipula produk industri rumahan itu sudah mendapat pelatihan dari dinas terkait. Selain itu juga memenuhi standar kesehatan serta benar-benar dapat bersaing di pasaran. Niaga Supermarket bahkan sampai kewalahan menerima serbuan produk lokal tersebut.

Terus Bertambah

Kepala Dinas Perindustrian NTB Hj Eva Nurcahyaningsih mengakui kalau perkembangan industri kecil di NTB cukup pesat. Jumlah industri pun terus mengalami penambahan, dari 87.270 unit usaha tahun 2014 menjadi 87.750 pada tahun 2015 atau bertambah 480 unit usaha. Hal ini menunjukkan bahwa semangat para pelaku industri kecil untuk berproduksi sangat tinggi.

Dari 87 ribu unit usaha,A� industri paling dominan di NTB memang adalah pengolahan pangan. Baru kemudian kerajinan. Hal ini tidak lepas dari potensi NTB yang cukup besar di bidang pertanian dan pariwisata. Sumber daya alam dan hasil pertanian yang melimpah memungkinan para pelalu usaha untuk mengolahnya menjadi berbagai produk makanan.

Dengan kondisi ini, Dinas Perindustrian cukup terkejut jika industri produk olahan makanan dinyatakan menurun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) NTB. Menurutnya, kondisi itu mungkin terjadi karena BPS hanya melakukan survei terhadap produk yang bermerek dan terdaftar resmi. Sementara produk olahan makanan skala rumahan yang belum terdaftar cukup banyak. Meski skala rumahan tapi mereka juga menggunakan tenaga kerja lebih dari lima, biasa diambil dari keluarga, dan kerabat dekat untuk membantu.

a�?Tapi mereka belum mendaftarkan produknya itu sehingga tidak masuk di BPS,a�? kata Eva.

Dinas Perindustrian NTB mendorong semua pelaku industri mendaftrkan produknya, walapun masih terseok-seok tapi sebaiknya didaftarkan. Hal ini dibutuhkan untuk meningkatkan nilai tambah untuk sebuah produk. Konsumen juga akan semakin percaya bahwa produk itu aman.

Saat ini kata dia, izin Industri Rumah Tangga menjadi wewenang Dinas Kesehatan kabupaten/kota. Mulai dari rekomendasi, kemudian baru dikeluarkan sertifikat, dibawa ke MUI untuk sertifikat halalA� baru kemudian didampingi untuk membuat mereknya.

Selain terkendala perizinan, permasalahan terbesar yang dihadapi indusrti kecil di NTB adalah permodalan skala kecil, peralatan terbatas, kemasan juga seadanya dan pemasaran juga terbatas di lokal. Untuk modal bisa difasilitasi dengan bantuan, juga pinjaman lunak bagi pelaku IKM.

A�Lemah di Kemasan

Sementara itu, Dosen Fakultas Teknologi Pangan Unram Dr Satrijo Saloko menegaskan, munculnya jaringan toko ritel yang bersamaan dengan penggunaan super market telah mengubah saluran pemasaran produk makanan secara drastis. Pada fase ini sebagian besar konsumen pun beralih untuk berbelanja di toko ritel modern karena menyediakan pilihan produk yang lebih variatif dan praktis.

Namun harus diakui kata dia, makanan lokal jarang sekali masuk dalam ritel. Alasannya, kemasan dari produk makanan lokal tidak menarik. Bahkan tidak ada izin dari BPOM, label halal, dan tidak ada kapan tanggal kedaluarsa. a�?Ini tantangan olahan lokal kita,a�? kata Satrijo.

Ia menyebutkan, NTB memiliki pangan cukup banyak. Sebut saja jagung. Tidak ada orang panen jagung cukup besar kecuali di NTB. Hanya saja, jagung ini akan tetap jadi jagung. Digoreng atau direbus. Mestinya, bahan baku jagung ini harus diolah menjadi keripik, gula, tepung dan sebagainya dengan kemasan menarik. a�?Kalau hanya menjadi jagung kembali mungkin orang tidak tertarik,a�? ujar dia.

Ia mengaku, jagung NTB, khususnya jagung Dompu memiliki kelebihan. Karbohidratnya rendah bisa mengurangi penyakit diabetes. Belum lagi buah-buahan yang cukup beragam yang bisa dijadikan minuman kaleng atau plastik dengan kemasan menarik. Sejauh ini kata dia, minuman yang beredar meski merk ternama, belum tentu menggunakan buah asli. a�?Ini kita penghasil buah yang bisa dimanfaatkan untuk membuat minuman kemasan,a�? sebut dia.

Makanya, harus ada gerakan agar pasar modern bisa ditembus oleh produk lokal. Tidak lagi didominasi oleh produk multinational company atau bahkan produk impor.

Ia mengutarakan, peluang produk lokal untuk masuk ke ritel modern sebenarnya sangat terbuka lebar sejak dikeluarkannya Peraturan Menteri Perdagangan No. 70/M-DAG/PER/12/2013 tentang pedoman penataan dan pembinaan pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan toko modern, yang mewajibkan pusat perbelanjaan dan toko modern untuk menjual 80 persen produk lokal. Tapi kendalanya, kalah saing dalam membuat kemasan dan berbagai varian.

a�?Selain itu, produk lokal kita, lemahnya daya saing produk dan kontinuitas,a�? katanya. Sementara syarat utama produk untuk masuk ke pasar modern adalah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), nilai pangan, dan nilai gizi. Sesuai dengan UU perlindungan konsumen, maka ritel modern tentu sangat bertanggung jawab terhadap kualitas produkA� dipasarkan. Hal ini menuntut produsen makanan untuk berinovasi dalam meningkatkan daya saing produk, meliputi kualitas produk, akses pasar, dan kontinuitas.

Produk berkualitas belum tentu cukup, maka disini dibutuhkan inovasi. Sehingga pangan lokal yang dikenal sebagai pangan tradisional ini menjadi produk yang kompetitif di pasar. Inovasi dapat dilakukan dengan melakukan diversifikasi produk, rasa, dan kemasan. Lagi pula, kalau soal rasa, makanan lokal sebetulnya juga juara. (nur/ili/tan/zen/jay/dss/puj/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka