Ketik disini

Selong

Harum Kayu Gaharu, Hidupi Ratusan Warga Masbagik

Bagikan

Niat baik hampir selalu diikuti hal yang baik pula. Keinginan Mansyur untuk memberdayakan pemuda Desa Danger Kecamatan Masbagik Lombok Timur (Lotim) membawa berkah bagi dirinya. Selain membantu menciptakan lapangan kerja, Mansyur juga kini lebih sejahtera.

***

MALANG melintang di rantauan, Mansyur pulang ke kampung halaman dengan segudang ilmu dan pengalaman.A� Ia mengembangkan keahliannya dalam bisnis Kayu Gaharu agar bisa membuka lapangan usaha bagi warga di tanah kelahirannya.

A�a�?Anak muda di sini (Kecamatan Masbagik, Red) dulu sering sekali ribut dan tawuran antar kampung. Ini yang membuat saya prihatin. Setelah saya cari tahu, yang suka tawuran itu ternyata pengangguran. Mereka begitu karena nggak ada kerjaan,a�? tutur Mansyur kepada Lombok Post.

Karenanya, Mansyur pun bertekad untuk membina para pemuda Masbagik. Pengalamannya hidup dan mencari nafkah dari gaharu di Kalimantan ia bawa pulang dan tularkan pada pemuda di desanya.

Sebagai pemasok kayu gaharu ke berbagai negara, Mansyur kini melibatkan sekitar 350 perajin yang berasal dari sejumlah desa. Tak hanya di Desa Danger tempat kelahirannya, ia juga memberdayakan warga dari A�beberapa desa tetangga seperti Lendang Nangka, bahkan hingga sejumlah desa di luar Lombok Timur.

a�?Modelnya saya ngambil kayu gaharu budidaya dari beberapa wilayah. Misalnya Lombok Tengah, Sumbawa hingga Sumatera. Kayu gaharu budidaya ini akan diukir seperti bentuk alami bekas gigitan rayap. Itu yang akan dikirim ke Jakarta,a�? terangnya.

Setelah dikirim ke Jakarta, kayu gaharu ini nantinya akan diberikan getah kayu gaharu alami yang didapatkan dari hutan. Sehingga, bentuk dan aroma khas gaharu A�budidaya tersebut A�mendekati gaharu liar yang tumbuh alami di hutan.

A�a�?Kalau sudah proses, harganya itu mahal. Per kilogram mencapi jutaan,a�? akunya.

Setiap hari para pemuda yang telah ia latih menjadi perajin hanya bertugas mengukir kayu tersebut. Dalam kondisi normal rata-rata para pekerja ini bisa memperoleh upah hingga Rp 2,5 juta per bulan. Hal ini tentu saja bergantung pada tingkat produktifitas pekerja.

A�a�?Ini saja mereka baru pulang dari Mal di Mataram habis gajian tadi. Mereka borong baju di Matahari,a�? ujarnya meledek Helmi, salah seorang pemuda Desa Danger yang juga menjadi perajin Gaharu.

Tak hanya bagi para pemuda, warga yang sudah berkeluarga namun belum memiliki pekerjaan juga banting setir menjadi perajin. Mengingat pekerjaan ini bisa dilakukan di rumah warga masing-masing. a�?Kalau untuk ngukirnya memang bisa dilakukan di rumah sambil nonton TV. Yang negebornya harus dilakukan di ruko,a�? terang pria tiga anak tersebut.

Dengan segala kemudahan pekerjaan ini,A� ratusan warga kini ikut merasakan manisnya rupiah dari gaharu. Setiap minggu, ia mengirim beberapa kuintal kayu gaharu yang telah dihasilkan melalui Kantor Pos ke Jakarta sebelum dikirim ke Arab dan Tiongkok.

A�a�?Alhamdulillah, pemuda di sini semuanya jadi perajin. Yang dulu suka mabuk, tawuran kini sudah bertaubat. Sibuk ngukir dan ngebor kayu gaharu,a�? ujar warga A�Desa Danger Lalu Satria sambil tertawa mencandai sejumlah pemuda yang ada di dekatnya. (HAMDANI WATHONI/r2)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka