Ketik disini

Metropolis

Di Udara, Segalanya Bisa Terjadi

Bagikan

Faktor kesehatan pilot hingga penumpang merupakan sesuatu yang krusial daam dunia penerbangan. Sayangnya di NTB hanya ada satu dokter penerbangan. Dialah Dasti Anditiriani. Berikut kisahnya.

***

DIBANTU sahabat yang bekerja pada Humas RSUD Kota Mataram, koran ini akhirnya bisa bertemu dokter penerbangan itu. Nama lengkapnya dr Dasti Anditiarina.

Sebelumnya, ia bekerja di Rumah Sakit Metropolitan Medical Center (MMC) Jakarta. Karena suatu alasan, wanita berkaca mata ini akhirnya memilih di RSUD Kota Mataram. “Iya sepertinya begitu (pertama di NTB),a�? kata Dasti.

Sekedar diketahui, Dasti adalah angkatan ketiga jurusan kedokteran penerbangan di Indonesia. Satu-satunya perguruan tinggi yang memiliki ini, baru Universitas Indonesia (UI).

“Di Asia, Indonesia lah yang pertama. Sementara di dunia, Indonesia yang ke lima punya jurusan ini,a�? terangnya.

Lalu apa yang membuat jurusan ini sangat penting?A� Dasti lalu bercerita. Bagaimana para pilot sampai penumpang bisa depresi berat selama penerbangan.

Salah satu kasus yang pernah di tangani yakni seorang siswa Flying School atau sekolah penerbangan. Rupanya, menjadi pilot tidak semudah jadi sopir angkot! Butuh seleksi ketat. Mulai dari kesehatan fisik sampai jiwa.

“Anak ini sebenarnya anak yang patuh. Dia anak yang taat beribadah dan penurut pada orang tua. Tidak ada gejala yang patut di khawatirkan sebenarnya,a�? tuturnya.

Tetapi siswa yang disebut usianya sekitar 17 tahun itu, punya rasa ingin tahu yang sangat besar. Suatu ketika, ia diminta instruktur menerbangkan pesawat di rute penerbangan Solo, Jawa Tengah. Dengan waktu tempuh diberikan selama 2 jam.

Namun, siswa ini berhasil menyelesaikannya hanya dalam waktu 1 jam lebih.

a�?Oleh anak ini, sisa waktu dipakai untuk bereksperimen. Ia ingin tahu rasanya bagaimana pesawat saat menarbrak awan, berputar, bermanuver, sampai akhirnya saat mendarat, ia over shoot sehingga roda pesawat patah,a�? tuturnya.

Dasti pun diminta untuk menangani. Dari sesi wawancara, Dasti paham siswa itu tidak ada masalah dengan kesehatan fisik. Namun karena apa yang dilakukan sangat berbahaya jika ia menerbangkan pesawat komersil, ia pun direkomendasikan mendapat layanan psikiater.

“Ia sempat protes ke saya, kenapa dinilai tidak sehat. Sehingga oleh sekolahnya ia diskorsing. Tetapi saya jelaskan ke dia, bagaimana jika ibunya, menaiki pesawat yang pilotnya seperti dia,a�? cecarnya.

Penjelasan dari hati ke hati itu akhirnya bisa membuat siswa itu sadar. Apa yang ia lakukan dengan keluar dari aturan instruktur itu kesalahan besar.

Sebenarnya, lanjut Dasti, hal-hal seperti ini bisa saja terjadi pada setiap pilot. Selama standar-standar penerbangan sebelum pilot bekerja tidak diindakan. Salah satunya, seperti keharusan pilot hanya boleh menerbangkan pesawat selama 110 jam dalam setiap bulan. Jika itu lebih, maka berpotensi mengancam ambang stres pilot.

a�?Apalagi di atas pesawat segala sesuatu bisa terjadi. Pilot juga harus bisa membuat keputusan cepat dalam sepersepuluh detik saat menerbangkan pesawat,a�? terangnya.

Seperti saat harus menghindari awan. Apalagi misalnya, itu kategori awan berbahaya, seperti cumulonimbus yang memiliki daya elektrifikasi berupa petir. Dengan kecepatan terbang pesawat di udara, pilot harus bisa mengambil keputusan cepat. Apakah memungkinkan untuk menghindar ke arah tertentu atau harus diterobos!

“Kami harus pastikan, pilot itu adalah pilot yang terbaik. Yang siap mengambil keputusan dengan cepat. Caranya ya dengan mengechek kesehatan fisik dan jiwa pilot. Di sana peran kami,a�? terangnya.

Pada contoh lain, Dasti mengaku tidak bisa lupa pengalamannya saat mendampingi jamaah haji asal Lombok. Saat itu, tergabung dalam embarkasi 11.

Sekitar 45 jamaah haji asal NTB, dinyatakan tidak layak terbang. Namun, karena ngotot para jamaah haji yang rata-rata sudah lansia itu tetap menuntut diterbangkan ke tanah suci Makkah. “Oleh dokter wayan dari KKP saat itu saya akhirnya diminta mendampingi,a�? tuturnya.

Maka dengan tingkat kesibukan yang sangat luar biasa. Harus melayani 45 lansia yang sebenarnya secara fisik tidak memungkinkan untuk untuk melakukan penerbangan jauh. Sebab kondisi fisik seseorang di dalam pesawat dengan di dalam angkot jauh berbeda. Apalagi dengan tingkat tekanan udara semakin rendah, saat pesawat terbang lebih tinggi.

a�?Dengan beragam permintaan. Ada yang minta disuapi, dipapah, merengek pusing, didorong kursi roda, dan beragam permintaan lain dari 45 lansia. Tapi, alhamdulillah di sisi lain saya bahagia melakukan itu, karena bisa menolong orang yang akan beribadah,a�? tutur Dasti.

Khususnya bagi Lansia, jika melewati ambang stres, mereka bisa melakukan hal-hal yang di luar aka pikiran. Bahkan pernah kejadian, seorang lansia, tiba-tiba bergerak mendekati pintu bis yang tengah melaju kencang dan hendak keluar.

a�?Mungkin itu karena ia melewati ambang stresnya. Coba bayangkan kalau dia ada di pesawat, lalu mau buka pintu?a�? ujarnya.

Karena itulah, rekomendasi kesehatan penerbangan sangat penting. Dan itu hanya bisa dikeluarkan oleh dokter yang punya spesialisasi di bidang penerbangan. Apalagi bagi penumpang yang butuh pelayanan medis khusus. Seperti ibu hamil, lansia atau penyakit yang bisa terganggu akibat rendahnya tekanan udara.

a�?Kesadaran inilah yang masih kurang di NTB. Semoga saya di sini, bisa membantu memberikan layanan kesehatan penerbangan,a�? harapnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka